kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.592.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.918   -15,00   -0,08%
  • IDX 6.094   62,48   1,04%
  • KOMPAS100 785   10,40   1,34%
  • LQ45 602   8,03   1,35%
  • ISSI 213   1,61   0,76%
  • IDX30 334   4,21   1,27%
  • IDXHIDIV20 427   4,86   1,15%
  • IDX80 90   1,14   1,28%
  • IDXV30 117   0,96   0,83%
  • IDXQ30 109   1,31   1,21%

Rumor! Perusahaan Bakrie Grup Ini Akuisisi Anak Usaha INDY, Cek Saran untuk Investor


Senin, 12 Oktober 2026 / 05:37 WIB
Rumor! Perusahaan Bakrie Grup Ini Akuisisi Anak Usaha INDY, Cek Saran untuk Investor
ILUSTRASI. Rumor! Perusahaan Bakrie Grup Ini Akuisisi Anak Usaha INDY, Cek Saran untuk Investor


Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dikabarkan menjadi kandidat kuat pembeli PT Kideco Jaya Agung, anak usaha PT Indika Energy Tbk (INDY). Nilai transaksi yang beredar di pasar disebut mencapai lebih dari US$ 1 miliar atau sekitar Rp 18 triliun.

Jika terealisasi, akuisisi tersebut berpotensi memperbesar skala bisnis pertambangan milik keluarga Bakrie, terutama dari sisi kapasitas produksi dan kontribusi pendapatan batubara. Namun, hingga kini, kabar transaksi tersebut belum dikonfirmasi secara resmi oleh BUMI maupun INDY.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai Kideco memiliki daya tarik strategis bagi BUMI karena efisiensi biaya produksi dan besarnya cadangan batubara yang dimiliki.

Menurut Nafan, valuasi sekitar US$ 1 miliar masih berpotensi menarik apabila mempertimbangkan kemampuan Kideco menghasilkan arus kas operasional serta peluang sinergi dengan bisnis BUMI. Akuisisi juga berpotensi memperkuat posisi perusahaan di pasar ekspor dan pemenuhan kewajiban pasokan batubara domestik atau Domestic Market Obligation (DMO).

Baca Juga: Visi Media (VIVA) Konversi Utang Rp 1,72 Triliun Jadi Saham dan Bikin Dilusi 72,35%

Kinerja Kideco berpotensi memperbesar bisnis BUMI

Berdasarkan data kinerja yang dikutip dalam materi sumber, Kideco mencatatkan produksi batubara sebesar 15,2 juta ton pada semester I-2026. Perusahaan membukukan pendapatan US$ 855,09 juta dan laba bersih US$ 92,73 juta pada periode tersebut.

Apabila kinerja enam bulan pertama bertahan hingga akhir tahun, produksi Kideco secara sederhana setara dengan sekitar 30,4 juta ton per tahun. Sementara itu, pendapatan tahunan secara ilustratif mencapai US$ 1,71 miliar dan laba bersih sekitar US$ 185,46 juta.

Nafan memperkirakan tambahan kapasitas produksi dari Kideco berpotensi mencapai 30 juta ton hingga 32 juta ton per tahun. Dengan tambahan tersebut, produksi batubara BUMI berpeluang melampaui 100 juta ton per tahun apabila transaksi terealisasi dan tingkat produksi dapat dipertahankan.

Dari sisi keuangan, Kideco berpotensi memberikan tambahan pendapatan tahunan sebesar US$ 1,7 miliar hingga US$ 1,8 miliar serta laba bersih sekitar US$ 180 juta hingga US$ 200 juta.

Meski demikian, angka tersebut bukan proyeksi resmi perusahaan. Kontribusi aktual terhadap laporan keuangan BUMI akan bergantung pada persentase saham yang diakuisisi, struktur transaksi, waktu penyelesaian, dan ketentuan konsolidasi laporan keuangan.

Riset BRI Danareksa Sekuritas juga menyebut BUMI sebagai salah satu kandidat kuat pembeli Kideco. Sejumlah pihak lain, termasuk Rio Tinto dan Emirates Global Aluminium, dikabarkan turut mengkaji aset tambang tersebut.

Baca Juga: Simak Proyeksi IHSG dan Rekomendasi Saham dari Analis untuk Perdagangan Senin (12/10)

Pendanaan menjadi tantangan utama akuisisi Kideco

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai akuisisi Kideco berpotensi menjadi katalis pertumbuhan jangka menengah bagi BUMI. Namun, manfaat transaksi akan sangat ditentukan oleh kewajaran harga pembelian, skema pendanaan, dan kemampuan perusahaan mengintegrasikan aset baru.

Dengan nilai transaksi yang dikabarkan mencapai lebih dari US$ 1 miliar, BUMI perlu mempertimbangkan sumber pendanaan agar akuisisi tidak membebani neraca keuangan maupun mengurangi fleksibilitas perusahaan menjalankan bisnis inti.

Nafan menilai pinjaman perbankan berpotensi meningkatkan rasio utang BUMI. Karena itu, penerbitan saham baru melalui rights issue, keterlibatan investor strategis, atau kombinasi beberapa sumber pendanaan dapat menjadi alternatif.

Namun, setiap opsi memiliki konsekuensi. Pendanaan melalui utang dapat meningkatkan beban bunga, terutama ketika harga batubara melemah. Sementara itu, penerbitan saham baru berpotensi mendilusi kepemilikan pemegang saham lama.

Hendra menambahkan, investor perlu mencermati rasio utang terhadap ekuitas, arus kas operasional, biaya pendanaan, serta tingkat pengembalian investasi atau return on investment (ROI). Akuisisi baru menciptakan nilai apabila imbal hasil aset yang dibeli mampu melampaui biaya modal yang ditanggung perusahaan.

Selain pendanaan, BUMI perlu memastikan integrasi operasional tidak mengganggu produktivitas tambang. Kualitas cadangan, umur ekonomis tambang, kewajiban reklamasi, belanja modal, dan kontrak penjualan jangka panjang juga menjadi faktor yang perlu diperhitungkan.

Risiko lain datang dari normalisasi harga batubara global, perubahan kebijakan pemerintah, perizinan pertambangan, serta tuntutan lingkungan, sosial, dan tata kelola atau environmental, social, and governance (ESG).

Kenaikan volume produksi juga tidak otomatis meningkatkan laba secara proporsional. Profitabilitas tetap dipengaruhi harga jual batubara dan biaya produksi, termasuk pengupasan lapisan tanah, pengangkutan, royalti, serta logistik.

Baca Juga: MNC Sky Vision (MSKY) Hadapi Permohonan PKPU dari Ascot Group Holdings

Kontribusi Kideco penting bagi prospek saham INDY

Di sisi lain, potensi divestasi Kideco juga menjadi perhatian investor INDY. Pada kuartal I-2026, Kideco membukukan pendapatan US$ 377,4 juta atau setara 72,8% dari total pendapatan INDY, dengan laba bersih US$ 42,4 juta.

Besarnya kontribusi tersebut membuat pelepasan Kideco berpotensi memengaruhi pendapatan dan arus kas INDY setelah transaksi selesai.

Hendra menilai, penjualan Kideco pada valuasi menarik dapat memberikan ruang bagi INDY untuk memperkuat neraca keuangan, mengurangi utang, membiayai investasi, atau mengembangkan bisnis nonbatubara.

Namun, investor perlu memperhitungkan hilangnya kontribusi laba dan arus kas dari Kideco. Nilai transaksi yang besar tidak otomatis meningkatkan nilai perusahaan apabila aset yang dilepas selama ini memberikan kontribusi keuntungan signifikan.

Karena itu, prospek INDY akan ditentukan oleh harga jual final, pemanfaatan dana hasil divestasi, serta kemampuan bisnis yang tersisa menghasilkan keuntungan secara berkelanjutan.

Baca Juga: 10 Saham LQ45 dengan PER Terendah & Tertinggi (9 Oktober 2026), INDY dan AMMN Melesat

Rekomendasi saham BUMI dan INDY

Terkait prospek saham, Nafan memberikan rekomendasi trading buy atau accumulate untuk BUMI dengan target harga Rp 284 per saham.

Sementara itu, Hendra merekomendasikan speculative buy untuk BUMI dengan target harga Rp 200 per saham. Rekomendasi tersebut mempertimbangkan potensi pertumbuhan skala usaha dan tambahan kontribusi laba jika akuisisi Kideco terealisasi.

Untuk INDY, Hendra memberikan rekomendasi speculative buy dengan target harga Rp 3.000 per saham. Potensi divestasi Kideco dinilai dapat mendukung fleksibilitas keuangan, meskipun dampak akhirnya bergantung pada nilai penjualan dan strategi penggunaan dana.

Pada perdagangan Jumat (9/10/2026), saham BUMI ditutup menguat 3,45% ke level Rp 180 per saham. Adapun saham INDY naik 6,08% menjadi Rp 2.790 per saham.

Meski demikian, target harga tersebut merupakan pandangan analis, bukan jaminan harga saham akan tercapai. Investor perlu menunggu keterbukaan informasi resmi mengenai transaksi, termasuk valuasi final dan skema pendanaan, sebelum menilai dampaknya terhadap prospek kedua emiten.



 

Asing Kabur Rp111 Triliun, Apa yang Salah dari Pasar Indonesia?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU

[X]
×