kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.592.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.918   -15,00   -0,08%
  • IDX 6.094   62,48   1,04%
  • KOMPAS100 785   10,40   1,34%
  • LQ45 602   8,03   1,35%
  • ISSI 213   1,61   0,76%
  • IDX30 334   4,21   1,27%
  • IDXHIDIV20 427   4,86   1,15%
  • IDX80 90   1,14   1,28%
  • IDXV30 117   0,96   0,83%
  • IDXQ30 109   1,31   1,21%

7 Saham Bagi Dividen Interim Cum Date Mulai Hari Ini (12/10), Cek yang Layak Beli


Senin, 12 Oktober 2026 / 05:46 WIB
7 Saham Bagi Dividen Interim Cum Date Mulai Hari Ini (12/10), Cek yang Layak Beli
ILUSTRASI. 7 Saham Bagi Dividen Interim Cum Date Mulai Hari Ini (12/10), Cek yang Layak Beli


Reporter: Rashif Usman | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) bersiap membagikan dividen interim kepada pemegang saham pada Oktober 2026 dengan jadwal cum date mulai hari ini Senin 12 Oktober hingga 16 Oktober 2026. Dari saham pembayar dividen tersebut, manakah yang memiliki prospek bagus untuk investasi?

Cum date adalah periode akhir suatu saham mengandung hak pembayaran dividen. Investor yang ingin mendapatkan jatah pembayaran dividen harus membeli saham tersebut paling lambat saat cum date.

Ada tujuh emiten yang akan bagi dividen dengan cum date pekan ini. Mereka berasal dari beragam sektor, mulai dari otomotif, ritel, perkebunan kelapa sawit, properti, hingga perdagangan buah.

Emiten yang masuk dalam daftar ini adalah PT Astra International Tbk (ASII), PT Teladan Prima Agro Tbk (TLDN), PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), PT Astra Otoparts Tbk (AUTO), PT Wulandari Bangun Laksana Tbk (BSBK), PT Plaza Indonesia Realty Tbk (PLIN), dan PT Segar Kumala Indonesia Tbk (BUAH).

Berdasarkan data jadwal dividen yang dihimpun dari sumber pasar, ASII menawarkan dividen interim terbesar dari sisi nilai total, yakni sekitar Rp 3,89 triliun atau Rp 98 per saham. Sementara itu, TLDN menjadi salah satu emiten yang menarik perhatian dari sisi dividend yield.

Financial Expert Ajaib Sekuritas Ratih Mustikoningsih mengatakan, di tengah tekanan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), strategi investasi pada saham pembagi dividen dapat menjadi salah satu alternatif untuk memperoleh pendapatan tunai sekaligus mengelola risiko portofolio.

Pada penutupan perdagangan 9 Oktober 2026, IHSG tercatat berada di level 6.093, setelah terkoreksi sekitar 29,5% secara year to date.

Baca Juga: Rumor! Perusahaan Bakrie Grup Ini Akuisisi Anak Usaha INDY, Cek Saran untuk Investor

Jadwal dan nilai dividen interim tujuh saham

Berikut daftar emiten dengan jadwal cum date dividen interim pada 12 Oktober hingga 16 Oktober 2026. 

Kode saham Dividen per saham Total dividen Cum date
ASII Rp 98 Rp 3,89 triliun 12 Oktober 2026
TLDN Rp 20 Rp 258,93 miliar 12 Oktober 2026
AMRT Rp 14,50 Rp 595,83 miliar 13 Oktober 2026
AUTO Rp 72,52 Rp 349,52 miliar 13 Oktober 2026
BSBK Rp 1 Rp 25,09 miliar 13 Oktober 2026
PLIN Rp 76 Rp 268,71 miliar 15 Oktober 2026
BUAH Rp 10 Rp 20 miliar 16 Oktober 2026

Baca Juga: 10 Saham LQ45 dengan PER Terendah & Tertinggi (9 Oktober 2026), INDY dan AMMN Melesat

TLDN tawarkan dividend yield tertinggi

Berdasarkan perhitungan Ajaib Sekuritas dengan menggunakan harga penutupan saham pada 9 Oktober 2026, TLDN mencatatkan dividend yield tertinggi di antara sejumlah emiten yang dianalisis, yakni 3,25%.

Berikutnya, PLIN menawarkan dividend yield sebesar 3,03%, AUTO sebesar 2,15%, ASII sebesar 2,03%, dan AMRT sebesar 1,17%.

"Di tengah minimnya katalis positif pasar, besaran yield ini turut berfungsi sebagai downside buffer untuk meredam volatilitas harga," kata Ratih kepada Kontan, Jumat (9/10/2026).

Meski demikian, Ratih mengingatkan bahwa investor tidak sebaiknya hanya mengejar dividen menjelang cum date. Dalam teori pasar modal, informasi mengenai pembagian dividen dapat tercermin pada harga saham setelah pengumuman, sedangkan pada ex-date harga saham dapat mengalami penyesuaian.

Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan dividend trap, yakni ketika penurunan harga saham setelah tanggal ex-date lebih besar daripada dividen tunai yang diterima investor.

Oleh karena itu, Ratih menyarankan investor mengakumulasi saham dividen secara bertahap dan mempertimbangkan rekam jejak pembagian dividen emiten. Investor juga dapat mencermati saham yang memiliki pertumbuhan laba dan fundamental kuat agar berpeluang memulihkan harga setelah penyesuaian dividen.

Tonton: Harga Emas Antam Tak Bergerak! Bertahan di Rp2,59 Juta per Gram

AUTO dan ASII menarik dari sisi fundamental

Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama menilai AUTO menjadi salah satu saham yang menarik untuk dicermati karena menawarkan kombinasi pembagian dividen interim dan pertumbuhan kinerja keuangan.

Pada semester I-2026, AUTO membukukan laba bersih sebesar Rp 1,15 triliun, meningkat sekitar 22% secara tahunan. Dividen interim Rp 72,52 per saham juga menjadi salah satu faktor yang dapat dipertimbangkan investor.

Sementara itu, ASII menarik bagi investor yang menginginkan eksposur ke bisnis terdiversifikasi, mulai dari otomotif, alat berat, jasa keuangan, hingga agribisnis. Namun, investor perlu mencermati perkembangan kinerja sejumlah segmen utama perusahaan.

Pada semester I-2026, laba bersih ASII tercatat turun sekitar 19% secara tahunan menjadi Rp 12,53 triliun. Penurunan tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhitungkan dalam menilai prospek pertumbuhan laba dan valuasi saham.

Adapun AMRT memiliki potensi pertumbuhan jangka panjang yang ditopang ekspansi gerai dan kebutuhan konsumsi domestik. Namun, nilai dividen interim Rp 14,50 per saham relatif kecil terhadap harga sahamnya. Karena itu, prospek pertumbuhan laba, penjualan, dan margin keuntungan tetap menjadi pertimbangan utama.

"Jika fokusnya adalah kombinasi dividen dan fundamental, saya cenderung mencermati AUTO dan ASII terlebih dahulu. Sementara itu, AMRT lebih menarik bagi investor yang berorientasi pada pertumbuhan jangka panjang," ujar Elandry.

Baca Juga: Prambahan Investasi Sukses (PIS) Lepas 7,04% Saham DOOH di Harga Premium

Prospek TLDN, PLIN, BSBK, dan BUAH

Selain ketiga saham tersebut, investor dapat mempertimbangkan karakteristik bisnis empat emiten lainnya sebelum mengambil keputusan investasi.

TLDN memiliki eksposur terhadap bisnis perkebunan kelapa sawit. Kinerja perusahaan dipengaruhi pergerakan harga minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO), produktivitas kebun, serta biaya operasional.

PLIN bergerak di sektor properti, sehingga prospeknya berkaitan dengan kinerja aset properti komersial, tingkat okupansi, dan kondisi pasar properti.

Sementara itu, BSBK dan BUAH perlu dianalisis secara selektif dengan memperhatikan skala usaha, likuiditas perdagangan saham, konsistensi kinerja keuangan, serta prospek pertumbuhan bisnis.

Elandry mengingatkan bahwa dividend yield yang tinggi tidak selalu menunjukkan saham dengan valuasi murah. Rasio tersebut juga dapat meningkat akibat penurunan harga saham yang dipicu pelemahan kinerja atau memburuknya prospek usaha.

Karena itu, investor perlu memeriksa konsistensi laba dan arus kas operasional, membandingkan nilai dividen dengan laba bersih, serta menilai rasio pembayaran dividen atau dividend payout ratio.

Investor juga sebaiknya mempertimbangkan valuasi saham dan prospek bisnis jangka panjang, bukan sekadar membeli saham untuk mendapatkan dividen dalam waktu dekat.

Tonton: MBG Telan Rp153,19 Triliun, Apakah Sudah Tepat Sasaran?

Rekomendasi saham ASII dan AMRT

Ratih merekomendasikan investor mencermati saham ASII dengan strategi akumulasi beli. Ia menetapkan area resistance di level Rp 5.000 per saham dan support di Rp 4.700 per saham.

Untuk AMRT, Ratih juga menyarankan strategi akumulasi beli dengan resistance di Rp 1.350 per saham dan support di Rp 1.100 per saham.

Rekomendasi tersebut tetap perlu disesuaikan dengan pergerakan harga terkini, kondisi pasar, dan profil risiko investor.

Pada akhirnya, strategi investasi saham dividen perlu mempertimbangkan potensi pendapatan tunai sekaligus risiko perubahan harga saham. Emiten dengan fundamental kuat, arus kas sehat, likuiditas memadai, dan prospek pertumbuhan laba berkelanjutan layak menjadi prioritas dibandingkan saham yang dipilih semata-mata karena besarnya dividen interim.



 

PNBP Indonesia Capai Rp492,3 Triliun hingga September 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU

[X]
×