Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tren penguatan bursa teknologi global sukses mendorong pertumbuhan kinerja reksadana saham offshore berdenominasi dolar Amerika Serikat (AS).
Merujuk pada data Infovesta per 8 Juli 2026, reksadana BNP Paribas Greater China Equity Syariah USD Kelas RK1 mencetak return 18,50% secara year-to-date (YTD).
Sementara Batavia Technology Sharia Equity USD menorehkan performa 17,15% YTD.
Baca Juga: Dian Swastatika Sentosa (DSSA) Telah Alihkan Kembali 620,37 Saham Hasil Buyback
Melesatnya permintaan terhadap ekosistem digital dan kecerdasan buatan (AI) menjadi motor utama yang menopang nilai aktiva bersih instrumen investasi kolektif global ini.
Menariknya, instrumen ini menyajikan dinamika rotasi sentimen ekosistem AI yang bergerak lincah di tengah kewajiban modal awal jumbo sebesar US$ 10.000 sesuai regulasi POJK.
Alokasi khusus tersebut sekaligus menjadi opsi diversifikasi eksklusif yang belum mampu dihadirkan oleh sektor pasar modal domestik saat ini.
Head of Equity PT BNP Paribas Asset Management, Laurentia Amica Darmawan, melihat persaingan teknologi dunia terus mendorong lonjakan investasi di bidang semikonduktor dan infrastruktur digital.
"Tema AI dan transformasi digital masih menjadi salah satu pendorong utama pasar global," kata Laurentia kepada Kontan, Jumat (10/7/2026).
Produk BNP Paribas ini menjaring keuntungan lewat kepemilikan aset top seperti Taiwan Semiconductor Manufacturing Co sebesar 10,04%, MediaTek Inc 6,82%, dan Alibaba Group 5,11%.
Di sisi lain, Direktur Batavia Prosperindo Aset Manajemen, Eri Kusnadi, menilai pergerakan return di semester kedua kemungkinan akan bergerak lebih landai akibat perputaran sentimen investor.
"Mungkin di semester II-2026 akan sedikit lebih softer tapi masih positif," ujar Eri kepada Kontan, Jumat (10/7/2026).
Portofolio Batavia ini mengoleksi saham-saham cip papan atas dunia dengan bobot jumbo pada Nvidia Corp sebesar 10,08%, Broadcom Inc 9,53%, dan Micron Technology 7,14%.
Direktur Infovesta Utama, Wawan Hendrayana, menilai dominasi imbal hasil tinggi pada reksadana mata uang asing ini murni didorong oleh kebebasan alokasi aset secara penuh di pasar internasional.
"Global fund adalah reksadana yang berinvestasi 100% keluar negeri," tandas Wawan.
Baca Juga: Simak Nasib Saham yang Tercatat dalam Daftar HSC, Ada DSSA dan BREN
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














