kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.635.000   -20.000   -0,75%
  • USD/IDR 18.158   71,00   0,39%
  • IDX 5.921   -3,20   -0,05%
  • KOMPAS100 772   0,78   0,10%
  • LQ45 590   0,28   0,05%
  • ISSI 203   -0,46   -0,23%
  • IDX30 333   -0,10   -0,03%
  • IDXHIDIV20 413   -0,10   -0,03%
  • IDX80 88   0,12   0,14%
  • IDXV30 112   0,14   0,12%
  • IDXQ30 107   -0,25   -0,23%

IHSG Masih Diselimuti Sentimen Global, Ini Rekomendasi Saham Pilihan Analis


Senin, 13 Juli 2026 / 12:30 WIB
IHSG Masih Diselimuti Sentimen Global, Ini Rekomendasi Saham Pilihan Analis
ILUSTRASI. ihsg,melemah (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih diselimuti sentimen global yang turut menyebabkan arus dana asing masih tercatat keluar.

Di akhir perdagangan pekan lalu (10/7/2026), IHSG naik 0,83% dalam sepekan. Namun di tengah penguatan indeks domestik tersebut, investor asing justru tercatat melakukan aksi jual bersih (outflow) yang cukup masif mencapai Rp1,7 triliun di pasar reguler.

Pada perdagangan Senin (13/7/2026) sesi I Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG parkir di level 5.930,84 menguat 0,11% dari hari sebelumnya. 

Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp 18.145 per Dolar AS, Ini Penyebabnya

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan memaparkan sejumlah sentimen krusial dari kancah global hingga domestik yang memengaruhi gerak IHSG.

Dari panggung global, perhatian pasar tertuju pada eskalasi ketegangan di Timur Tengah yang kembali mencapai titik kritis setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran terlibat dalam aksi saling serang secara terbuka. 

Konfrontasi militer tersebut langsung memicu kekhawatiran mendalam terkait potensi gangguan rantai pasok minyak mentah dunia, mengingat wilayah tersebut merupakan urat nadi jalur logistik energi global.

Menghadapi tingginya ketidakpastian geopolitik ini, para investor global cenderung mengambil sikap risk-off dan bersikap jauh lebih konservatif dalam mengelola portofolio mereka. 

“Mereka berbondong-bondong menarik modal dari instrumen berisiko tinggi seperti pasar saham dan aset kripto untuk mengamankan likuiditas," katanya dalam keterangan resmi, Senin (13/7/2026).

David melihat, arus dana global kini dialihkan secara masif ke aset-aset safe-haven yang dinilai lebih stabil dan tahan banting, seperti emas batangan dan mata uang dolar AS. 

“Lonjakan permintaan ini diprediksi akan terus mendongkrak harga komoditas emas dan memperkuat nilai tukar dolar AS di pasar valuta asing dalam beberapa waktu ke depan,” tuturnya.

Sementara, dari dalam negeri, kondisi fiskal Indonesia masih menunjukkan fundamental yang terukur. 

Baca Juga: Rupiah Makin Loyo ke Rp 18.145 per Dolar AS di Senin (13/7), Terlemah Kedua di Asia

Pemerintah secara resmi melaporkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada paruh pertama tahun 2026 mencatatkan angka sebesar Rp196,5 triliun, atau setara dengan 0,76% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Secara regulasi, angka defisit ini berada dalam batas yang sangat aman karena jauh di bawah batas maksimal undang-undang sebesar 3%. 

Namun, David mengingatkan bahwa laju belanja negara yang lebih cepat dibandingkan penerimaan tetap memberikan sinyal kewaspadaan bagi otoritas fiskal. Sebab, kondisi tersebut menuntut pemerintah untuk mengelola pembiayaan negara dengan jauh lebih ketat dan selektif di paruh kedua tahun ini. 

Langkah ini penting guna meminimalisir risiko penambahan utang baru yang tidak efisien, sekaligus memastikan stabilitas makroekonomi domestik tetap kokoh di tengah gejolak global," tuturnya.

Pada pekan ini (13-17 Juli 2026), perhatian pasar akan berpusat pada agenda ekonomi penting dari luar negeri. 

Rilis data Tingkat Inflasi (CPI) Amerika Serikat untuk bulan Juni yang dijadwalkan pada hari Selasa menjadi indikator yang paling dinantikan, karena akan menjadi kompas utama pasar dalam membaca arah kebijakan suku bunga global.

“Selain itu, pelaku pasar akan mencermati rangkaian pidato dari para pejabat bank sentral AS (The Fed) serta rilis data pertumbuhan PDB Singapura,” katanya 

Baca Juga: IHSG Naik 0,11% ke 5.930 Sesi I, Top Gainers LQ45: PGEO, BRPT, PGAS, Senin (13/7)

Sementara itu dari dalam negeri, pergerakan nilai tukar Rupiah dan pasar saham domestik diproyeksikan masih akan dibayangi oleh dinamika ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

David pun merekomendasikan buy on pullback untuk PGEO dan BUVA dengan target harga masing-masing Rp1.070 per saham dan Rp900 per saham. Rekomendasi beli juga disematkan untuk LSIP dengan target harga Rp1.400 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Teori, Strategi & Taktik Penagihan Kredit/ Piutang Macet Secara Dini & Terintegrasi Serta Efisien & Efektif

[X]
×