kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Risiko rendah, kupon masih cukup mewah


Kamis, 13 Juli 2017 / 14:05 WIB

Risiko rendah, kupon masih cukup mewah

Berita Terkait

JAKARTA. Institusi perbankan ramai menerbitkan obligasi pada semester II-2017. Perbankan getol menerbitkan obligasi lantaran pertumbuhan pemintaan kredit diprediksi meningkat hingga akhir tahun nanti. 

Kemarin, Bank Mandiri Taspen Pos (Bank Mantap) mencatatkan obligasi Rp 2 triliun di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pada hari yang sama, PT Bank Negara Indonesia Tbk juga mencatatkan obligasi senilai Rp 3 triliun.  


Desmon Silitonga, Fund Manager Capital Asset Management, mengatakan, ramainya penerbitan obligasi perbankan karena pertumbuhan dana pihak ketiga saat ini cenderung stagnan. Padahal pemerintah meminta perbankan mendukung pembiayaan program pembangunan infrastruktur yang tengah gencar dilakukan.

Apalagi, perbankan harus menjaga modal karena kenaikan kredit bermasalah (NPL) yang cukup besar di tahun lalu sempat menggerus modal. "Salah satu cara perbankan menambah modal melalui penerbitan obligasi," kata Desmon, kemarin.

Apalagi, analis Fixed Income MNC Securities I Made Adi Saputra mengatakan, prospek obligasi yang dirilis perbankan masih positif di tengah kondisi ekonomi yang mulai pulih, meski permintaan kredit belum maksimal.

Dari banyaknya obligasi perbankan yang keluar tahun ini, Made menganalisis obligasi dengan tenor panjang lebih banyak dikeluarkan bank yang memiliki modal besar ketimbang bank kecil. "Memang tidak semua perbankan bisa menerbitkan obligasi dengan tenor panjang," kata Made.

Lihat saja, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk dan PT Bank Mandiri Tbk menawarkan obligasi dengan tenor 10 tahun berkupon 8,8% dan 8,65%. Sementara PT Bank Pembangunan Daerah Lampung pada penerbitan obligasi terakhir hanya mematok tenor lima tahun dan kupon 9,6%.

Dengan rating obligasi yang diterima perusahaan perbankan, Made melihat kupon yang ditawarkan masih menarik bagi investor. Terutama, jika dibandingkan dengan bunga deposito dari bank tersebut.

Tantangan yang dapat mempengaruhi obligasi perbankan adalah lambatnya pertumbuhan kredit, kenaikan non-performing loan (NPL). Meski begitu, Made tetap optimistis obligasi perbankan masih menjadi incaran investor. 

Sentimen negatif seperti dana asing yang banyak keluar dari surat berharga negara (SBN) Indonesia selama sebulan kemarin juga tidak akan terlalu berpengaruh dan tidak mengurangi minat investor terhadap obligasi perbankan. Maklum, obligasi korporasi masih didominasi investor domestik.

Dalam tiga tahun terakhir, ramainya penerbitan obligasi perbankan terjadi di tengah tren yield obligasi pemerintah yang turun, terutama setelah Indonesia mendapat kenaikan peringkat investasi dari Standard & Poors (S&P). "Bank memanfaatkan yield obligasi yang turun, dengan rating AAA sekarang kupon bisa di sekitar 8%," kata Desmon.

Saat tren suku bunga deposito turun, kupon obligasi tersebut sangat menarik. Terlebih, obligasi hanya terkena potongan pajak sebesar 15%, "Selisih 5% (dengan pajak deposito) ini lumayan," kata Desmon.

Hingga awal semester II-2017, obligasi perbankan juga terserap baik oleh investor bahkan oversubscribed. Namun, Desmon mengingatkan, obligasi korporasi tidak terlalu likuid di pasar sekunder, karena kebanyakan investor hold to maturity.

Menurut Made, obligasi perbankan baru mulai ramai diperdagangkan di pasar sekunder menjelang jatuh tempo. "Sebutan lainnya mendekati masa money market, jadi kurang dari setahun obligasi dari perbankan sudah cukup aktif diperdagangkan di pasar sekunder," kata Made.


Reporter: Danielisa Putriadita
Editor: Wahyu Rahmawati

Video Pilihan


Close [X]
×