Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Masuknya enam saham baru ke indeks IDX30, LQ45, dan IDX80 berpotensi meningkatkan perhatian investor serta memicu penyesuaian portofolio reksadana indeks dan exchange-traded fund (ETF). Meski demikian, dampaknya terhadap pergerakan indeks tetap bergantung pada bobot saham dan kondisi fundamental masing-masing emiten.
Dalam evaluasi mayor indeks Bursa Efek Indonesia (BEI) yang berlaku efektif pada 2 November 2026, PT Indosat Tbk (ISAT) dan PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) masuk ke IDX30 menggantikan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR).
Sementara itu, PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) masuk ke LQ45 menggantikan PT Surya Citra Media Tbk (SCMA). Adapun PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT Timah (Persero) Tbk (TINS), dan PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM) masuk ke IDX80, menggantikan PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL), PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA), dan PT Summarecon Agung Tbk (SMRA).
Baca Juga: Rupiah Tertekan, Ini Prospek Valas Asia hingga Akhir 2026
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) David Kurniawan menilai, masuknya saham-saham baru tersebut berpotensi menarik aliran dana dari investor yang mengikuti indeks.
“Masuknya saham baru seperti ISAT, PTBA, dan SMGR berpotensi menyerap passive inflow dari reksadana indeks dan ETF,” kata David kepada Kontan, Selasa (27/10/2026).
Menurut David, perubahan konstituen juga dapat meningkatkan kualitas likuiditas indeks. Konstituen pengganti dinilai memiliki likuiditas dan nilai transaksi harian yang kuat sehingga mendukung stabilitas serta daya tarik indeks.
Dari sisi fundamental, David menilai ISAT menjadi saham yang paling menonjol di antara enam emiten tersebut. Ia menyoroti pertumbuhan pendapatan data yang stabil, integrasi pascamerger, dan ekspansi jaringan sebagai penopang valuasi perusahaan telekomunikasi tersebut.
“Paling menonjol secara fundamental. Pertumbuhan pendapatan data yang stabil, integrasi pasca-merger yang efisien, serta ekspansi jaringan menjadi penopang utama valuasinya,” ujar David.
Baca Juga: Rupiah Tertekan, Ini Prospek Valas Asia hingga Akhir 2026
Sementara itu, PTBA dan TINS berpotensi diuntungkan oleh dinamika harga komoditas serta potensi dividen dengan imbal hasil tinggi. Adapun prospek SMGR dan TKIM dapat membaik apabila pemulihan industri dan infrastruktur domestik berjalan optimal.
David juga menilai perubahan konstituen dapat meningkatkan kualitas likuiditas dan transparansi indeks IDX30, LQ45, maupun IDX80. Katalis yang perlu dicermati meliputi pemulihan konsumsi domestik, penguatan rupiah, tren suku bunga yang lebih ramah pasar, serta potensi window dressing pada akhir tahun.
Di sisi lain, fluktuasi harga komoditas global, dinamika geopolitik, dan volatilitas nilai tukar masih menjadi risiko bagi emiten komoditas maupun manufaktur.
Senada, Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Kevin Yudha Pratama menilai, perubahan konstituen dapat meningkatkan perhatian investor, tetapi tidak otomatis mendatangkan dana baru ke pasar saham.
“Dampaknya dapat terlihat pada aktivitas perdagangan menjelang 2 November 2026, tetapi tidak otomatis menciptakan aliran dana baru ke pasar,” kata Kevin.
Menurut Kevin, besarnya pembelian saham akan bergantung pada dana kelolaan, bobot saham dalam indeks, serta kepemilikan awal masing-masing investor. Bobot ISAT dan PTBA di IDX30 masing-masing hanya sekitar 1%, sehingga kontribusi langsung keduanya terhadap pergerakan indeks relatif terbatas.
“Setelah rebalancing, fundamental tetap akan lebih menentukan arah harga,” ujarnya.
Kevin melihat ISAT relatif menarik dari sisi pertumbuhan operasional, didukung kenaikan pendapatan per pelanggan dan EBITDA. Namun, kebutuhan belanja modal yang tinggi tetap perlu diperhatikan investor.
AALI juga layak dicermati karena valuasinya berdasarkan nilai buku dinilai menarik dan didukung posisi kas yang kuat. Sementara itu, TINS mencatat lonjakan laba yang turut dipengaruhi kenaikan harga dan volume penjualan timah.
Adapun PTBA menawarkan potensi dividen, meski besarannya tetap bergantung pada laba dan kebijakan perusahaan. SMGR masih perlu memperbaiki margin, sedangkan laba TKIM yang banyak ditopang entitas asosiasi membuat valuasinya perlu dicermati lebih hati-hati.
Untuk prospek indeks, Kevin menilai perubahan konstituen saja belum cukup untuk mengubah arah IDX30, LQ45, maupun IDX80. Pergerakan IDX30 dan LQ45 masih dipengaruhi saham-saham perbankan, sehingga pertumbuhan kredit, suku bunga, kondisi rupiah, dan arus dana asing tetap menjadi faktor penting.
Adapun masuknya AALI, TINS, dan TKIM memberikan tambahan eksposur terhadap bisnis yang sensitif terhadap siklus komoditas di IDX80. Meski begitu, pengaruhnya terhadap indeks tetap bergantung pada bobot masing-masing saham.
Kevin menambahkan, pemulihan laba dan kepercayaan investor dapat menjadi katalis positif. Sebaliknya, volatilitas pasar global dan usulan MSCI untuk menurunkan klasifikasi pasar Indonesia yang masih dalam proses konsultasi menjadi risiko yang perlu diperhatikan.
Dari sisi rekomendasi, Kevin melihat peluang buy on weakness pada saham PTBA. Ia menyarankan area pembelian di sekitar level moving average (MA) Rp 3.120 dengan target harga jangka pendek Rp 3.400 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














