Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Supra Boga Lestari Tbk (RANC), pengelola jaringan supermarket Ranch Market dan Farmers Market, berencana memperluas kegiatan usahanya dengan menambahkan empat klasifikasi baku lapangan usaha Indonesia (KBLI) baru.
Langkah ini ditujukan untuk mendiversifikasi sumber pendapatan sekaligus mengoptimalkan infrastruktur dan rantai pasok yang telah dimiliki perusahaan.
Berdasarkan keterbukaan informasi yang disampaikan pada Senin (2/11/2026), empat kegiatan usaha baru yang akan ditambahkan meliputi perdagangan eceran minuman beralkohol, pergudangan dan penyimpanan lainnya, aktivitas cold storage, serta perdagangan besar sediaan farmasi untuk manusia.
Rencana perubahan kegiatan usaha tersebut akan dimintakan persetujuan pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan berlangsung pada 9 Desember 2026.
Baca Juga: Kimia Farma (KAEF) Bidik Peluang Bisnis dari Manufaktur Kontrak Farmasi
Manajemen menjelaskan, ekspansi kegiatan usaha ini merupakan respons terhadap dinamika pasar ritel modern, perubahan preferensi konsumen, serta kebutuhan peningkatan efisiensi rantai pasok.
Perusahaan juga ingin memanfaatkan jaringan gerai, fasilitas penyimpanan, sistem distribusi, dan kemampuan operasional yang sudah tersedia.
Melalui penambahan kegiatan usaha tersebut, perusahaan membidik sejumlah peluang.
Di antaranya memperluas pilihan produk di jaringan gerai, memperoleh pendapatan dari jasa penyimpanan untuk pihak ketiga atau third-party logistics (3PL), serta memperkuat pengadaan dan distribusi produk farmasi untuk kebutuhan gerai.
Dalam studi kelayakan yang disusun Kantor Jasa Penilai Publik Benedictus Darmapuspita dan Rekan, penambahan kegiatan usaha baru diproyeksikan membutuhkan investasi awal sebesar Rp 21 miliar.
Proyek tersebut diperkirakan menghasilkan nilai kini bersih atau net present value (NPV) sebesar Rp 2,63 miliar, dengan tingkat pengembalian internal atau internal rate of return (IRR) sebesar 13,49%, lebih tinggi dibandingkan tingkat diskonto 10,83%.
Baca Juga: BTN Bidik Peluang Bisnis dari Industri Fesyen Lewat JFW 2027
Adapun periode pengembalian investasi atau payback period diperkirakan sekitar lima tahun. Pendapatan tambahan dari kegiatan usaha baru diproyeksikan mulai berkontribusi sebesar Rp 12 miliar pada 2027, kemudian meningkat menjadi Rp 18,37 miliar pada 2031.
Meski demikian, studi kelayakan tersebut juga menunjukkan bahwa proyek cukup sensitif terhadap penurunan pendapatan. Penurunan penjualan sekitar 6% berpotensi membuat proyek tidak lagi layak secara finansial, dengan NPV negatif dan IRR di bawah tingkat diskonto.
Manajemen menilai, penambahan kegiatan usaha baru tidak akan mengubah fokus utama perusahaan, yakni perdagangan eceran modern melalui jaringan supermarket.
Perusahaan juga menyebut telah memiliki infrastruktur dan sumber daya pendukung, seperti jaringan ritel, pusat distribusi, sistem pengadaan, serta rantai pasok.
Namun, sejumlah penyesuaian tetap diperlukan sesuai karakteristik masing-masing kegiatan usaha. Misalnya, penyediaan tenaga teknis kefarmasian dan fungsi penjaminan mutu untuk distribusi farmasi, serta fasilitas dan sistem pemantauan suhu untuk kegiatan cold storage.
Baca Juga: Artotel Group Bidik Peluang Bisnis dari Pengembangan Sport Tourism di Jawa Barat
Perusahaan baru akan memulai kegiatan usaha tersebut setelah memperoleh persetujuan RUPSLB, persetujuan perubahan anggaran dasar dari Menteri Hukum, serta memenuhi seluruh perizinan yang dipersyaratkan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














