Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Harga emas dunia rebound lebih dari 2% pada perdagangan Senin (2/11/2026), setelah sempat menyentuh level terendah dalam setahun pada sesi sebelumnya.
Kenaikan ini ditopang oleh penurunan harga minyak dunia yang meredakan kekhawatiran inflasi, sementara investor mencermati hasil pemilihan paruh waktu Amerika Serikat (AS).
Mengutip Reuters, harga emas spot naik 2,1% menjadi US$ 3.954,41 per ons pada pukul 13.49 waktu AS.
Baca Juga: Harga Emas Dunia Rebound ke US$ 4.020, Investor Menanti Keputusan The Fed
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember 2026 ditutup menguat 1,8% ke level US$ 3.969,60 per ons.
Penguatan tersebut menjadi momentum pemulihan setelah harga emas spot pada Jumat (30/10/2026) anjlok 3,6% dan menyentuh level terendah sejak Oktober 2025.
Salah satu faktor yang menopang pemulihan harga emas adalah penurunan harga minyak.
Pada Senin, harga minyak dunia merosot sekitar 8% setelah pejabat Iran dan Qatar menggelar pembicaraan selama tiga hari berturut-turut untuk mengakhiri perang antara AS-Israel dan Iran.
Penurunan harga minyak memberikan ruang bagi pasar untuk mengurangi kekhawatiran terhadap tekanan inflasi.
Baca Juga: UPDATE: Harga Emas Dunia Rebound ke Level US$ 4.553,41 pada Selasa (5/5)
Kondisi ini turut memengaruhi ekspektasi investor terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).
Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals, Peter Grant, mengatakan pelemahan harga minyak membantu meredakan kekhawatiran inflasi.
Namun, pasar masih memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga pada Desember, meski peluangnya mulai berkurang.
"Penurunan harga minyak memberikan sedikit kelegaan dengan mengurangi kekhawatiran inflasi," ujar Grant.
Berdasarkan CME Group FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Desember mencapai 77%. Angka tersebut turun dibandingkan ekspektasi sebesar 80% pada pekan sebelumnya.
Selain harga minyak, pelemahan dolar AS juga memberikan dukungan terhadap harga emas.
Di sisi lain, perhatian investor kini tertuju pada pemilihan paruh waktu AS yang berlangsung pada Selasa (3/11/2026). Hasil pemilu tersebut akan dicermati karena berpotensi memengaruhi kebijakan fiskal, geopolitik, serta sentimen pasar secara lebih luas.
Analis Julius Baer, Carsten Menke, menilai hasil pemilu kemungkinan tidak akan mengubah kondisi fiskal AS secara signifikan sehingga faktor utang pemerintah tetap menjadi penopang harga emas dalam jangka panjang.
Baca Juga: Harga Emas Dunia Rebound Meski Timur Tengah Memanas, Ini Katalisnya
Menurut dia, defisit anggaran AS diperkirakan tetap berlanjut terlepas dari hasil pemilu.
Dengan demikian, beban utang dan pembayaran bunga pemerintah AS masih berpotensi mendukung daya tarik emas sebagai aset investasi.
Sementara itu, harga perak spot turut mengalami pemulihan. Harga perak naik 3,1% menjadi US$ 50,64 per ons setelah pada sesi sebelumnya sempat turun di bawah US$ 50 per ons untuk pertama kalinya sejak akhir November 2025.
Kenaikan tersebut menandai pemulihan harga logam mulia setelah tekanan jual yang terjadi pada akhir pekan lalu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













