kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 18.013   50,00   0,28%
  • IDX 5.745   49,44   0,87%
  • KOMPAS100 744   8,79   1,19%
  • LQ45 565   8,75   1,57%
  • ISSI 199   0,85   0,43%
  • IDX30 321   4,92   1,56%
  • IDXHIDIV20 395   5,89   1,52%
  • IDX80 85   1,16   1,39%
  • IDXV30 107   1,21   1,14%
  • IDXQ30 103   1,26   1,24%

Prospek Saham ISAT Masih Cerah, Ditopang Pertumbuhan Data dan Bisnis AI


Kamis, 02 Juli 2026 / 18:06 WIB
Prospek Saham ISAT Masih Cerah, Ditopang Pertumbuhan Data dan Bisnis AI
ILUSTRASI. Pelayanan pelanggan di gerai Indosat Ooredoo, Jakarta (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek saham PT Indosat Tbk (ISAT) dinilai masih menjanjikan hingga akhir 2026 meski jumlah pelanggan prabayar mengalami penurunan. Pertumbuhan konsumsi data hingga pengembangan bisnis kecerdasan buatan (AI) diperkirakan masih menjadi penopang kinerja emiten telekomunikasi tersebut. 

Untuk diketahui, Indosat mencatat jumlah pelanggan prabayar turun menjadi 92 juta pada kuartal I-2026 dari 94 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, jumlah pelanggan pascabayar stagnan di level 2 juta pelanggan. Kendati demikian, manajemen menyebut basis pelanggan perusahaan masih tergolong stabil, tercermin dari tren pengguna aktif harian, pengguna aktif bulanan, hingga pengguna aplikasi bulanan yang tetap sehat. 

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, Arinda Izzaty, mengatakan penurunan jumlah pelanggan prabayar memang menunjukkan bahwa persaingan industri telekomunikasi masih sangat ketat, terutama di segmen pengguna yang sensitif terhadap harga. 

Baca Juga: Dual Listing EMAS di Hong Kong Perkuat Akses Modal Global bagi Perusahaan Indonesia

“Namun, penurunan tersebut belum tentu mencerminkan pelemahan fundamental apabila pelanggan yang tersisa memiliki kualitas yang lebih baik dan menghasilkan pendapatan rata-rata per pengguna (ARPU) yang lebih tinggi,” ujar Arinda kepada Kontan, Kamis (2/7/2026).

Kendati demikian, Analis KB Valbury Sekuritas, Steven Gunawan, memprediksi jumlah pelanggan Indosat akan tetap stabil di kisaran 93,7 juta, serta pertumbuhan trafik data sebesar 8,3% YoY menjadi 19.120 petabyte (PB). Hingga kuartal I 2026, trafik data telah mencapai sekitar 25,7% dari target tahunan.

Selain itu, Steven juga memprediksi data yield tetap stabil di Rp 2,44 per MB, sementara ARPU meningkat secara moderat menjadi Rp 44.900 per pelanggan.

“Potensi kenaikan kinerja juga berasal dari bisnis home broadband (HBB). Tingkat penetrasi yang masih rendah diperkirakan mendorong pertumbuhan pelanggan HBB sebesar 6,6% YoY,” ujar Steven dalam riset 5 Mei 2026.

Tak hanya itu saja, Analis Ciptadana Sekuritas Asia, Christopher Rusli dalam risetnya 8 Mei 2026 mencatat bahwa ISAT juga terus memperkuat posisinya sebagai AI Native Telco melalui kerja sama dengan NVIDIA dan Google Gemini. Kolaborasi tersebut mencakup paket layanan data berbasis AI yang terintegrasi, serta berbagai layanan AI seperti Sahabat-AI dan SATSPAM.

Di sisi lain, bisnis AI Neocloud dinilai semakin memiliki skala yang menjanjikan. Pendapatan yang telah dikontrak diperkirakan mencapai sekitar US$ 170 juta dalam tiga tahun ke depan. Manajemen juga menyebutkan bahwa bisnis tersebut sudah memberikan kontribusi positif terhadap laba per saham (EPS) dan arus kas bebas (Free Cash Flow/FCF) sejak awal beroperasi.

Selain itu, monetisasi FiberCo diperkirakan tetap berjalan sesuai rencana dan ditargetkan rampung pada kuartal III 2026. Langkah ini dinilai berpotensi membuka nilai tambah sekaligus memperkuat fleksibilitas neraca keuangan perusahaan.

Arinda memproyeksikan prospek ISAT hingga akhir 2026 masih cukup positif, didukung oleh pertumbuhan konsumsi data, monetisasi layanan digital, serta efisiensi operasional yang terus berlanjut pascamerger yang masih terus berjalan.

Selama perusahaan mampu mempertahankan pertumbuhan pendapatan data dan menjaga profitabilitas melalui pengendalian biaya, kinerja ISAT diperkirakan tetap bertumbuh meski ekspansi jumlah pelanggan tidak terlalu agresif.

Kinerja keuangan ISAT pada semester I-2026 tercatat tumbuh dua digit. ISAT meraup pendapatan sebesar Rp 15,22 triliun. Raihan ini tumbuh 12,10% secara tahunan atau YoY dari Rp 13,57 triliun.

Diikuti laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada entitas induk ISAT mencapai Rp 1,49 triliun selama Januari-Maret 2026. Ini tumbuh sekitar 13,75% secara tahunan dari Rp 1,31 triliun.

Dari sisi katalis, Arinda melihat peningkatan kebutuhan layanan data masih menjadi pendorong utama pertumbuhan bisnis Indosat. Selain itu, penetrasi jaringan 4G dan 5G, pengembangan layanan berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan digital, serta potensi efisiensi belanja modal (capital expenditure/capex) setelah integrasi jaringan semakin matang juga berpotensi menopang kinerja perusahaan.

Di sisi lain, ia mengingatkan masih terdapat sejumlah sentimen yang perlu dicermati. Persaingan tarif di industri telekomunikasi diperkirakan tetap ketat, sementara pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berpotensi meningkatkan biaya operasional karena sebagian belanja jaringan masih bergantung pada impor.

Selain itu, perlambatan daya beli masyarakat juga berisiko membatasi pertumbuhan konsumsi layanan telekomunikasi. Dari sisi makro, arah kebijakan suku bunga global dan kondisi ekonomi domestik turut menjadi faktor yang dapat memengaruhi belanja konsumen maupun keputusan investasi perusahaan.

Berdasarkan proyeksi Christopher, kinerja keuangan ISAT diperkirakan masih akan bertumbuh pada 2026. Pendapatan ISAT pada 2026 dibidik mencapai Rp 59,04 triliun, meningkat sekitar 4,5% YoY dibandingkan realisasi 2025 yang sebesar Rp 56,52 triliun. Sejalan dengan itu, laba bersih diperkirakan naik menjadi Rp 5,98 triliun pada 2026, atau tumbuh sekitar 8,6% YoY dibandingkan laba bersih 2025 yang sebesar Rp 5,51 triliun.

Dengan mempertimbangkan berbagai katalis dan risiko tersebut, Christopher dan Steven sama-sama memberikan rekomendasi buy saham ISAT dengan target harga Rp 2.500 per saham. Arinda pun merekomendasikan investor untuk buy saham ISAT dengan target harga Rp 2.800 per saham.

Baca Juga: Prospek ORI030 Dinilai Tetap Menarik, Besaran Kupon Jadi Penentu Minat Investor

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU

[X]
×