Reporter: Muhammad Alief Andri | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek saham emiten farmasi pada 2026 dinilai masih cukup menjanjikan, meski kinerjanya akan sangat bergantung pada kemampuan perusahaan menjaga efisiensi biaya dan stabilitas margin.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Brigita Kinari menilai, perbedaan kinerja emiten farmasi sepanjang 2025 menunjukkan pentingnya pengelolaan biaya operasional, khususnya di sisi pemasaran.
Menurutnya, emiten seperti PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) dan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) mampu menjaga kinerja dengan mengontrol beban penjualan, sementara PT Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC) mengalami tekanan laba akibat lonjakan biaya operasional yang tidak diimbangi pertumbuhan pendapatan.
Baca Juga: Transaksi Kripto Menurun, Tokocrypto Tambah Kanal Deposit via Bank BRI dan Mandiri
“Outlook sektor farmasi 2026 bisa dikatakan neutral to positive, dengan katalis utama peningkatan anggaran kesehatan dari pemerintah,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (9/4/2026).
Brigita menambahkan, ke depan pelaku industri juga berpotensi mengalihkan fokus dari obat konvensional ke produk preventif seperti suplemen, seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan.
Di sisi lain, pelemahan nilai tukar rupiah masih menjadi tantangan utama bagi sektor ini, mengingat sebagian besar bahan baku farmasi masih bergantung pada impor.
Untuk memitigasi risiko tersebut, emiten dapat melakukan strategi natural hedging, seperti meningkatkan porsi ekspor agar pendapatan dalam dolar AS dapat menutupi biaya impor. Selain itu, penyesuaian harga jual juga dapat dilakukan untuk menjaga margin, meski berisiko menekan volume penjualan.
Dari sisi ekspansi, penetrasi pasar mancanegara dinilai cukup efektif dalam mendiversifikasi sumber pendapatan. Selain mengurangi ketergantungan pada pasar domestik, ekspansi ini juga berpotensi memberikan margin yang lebih tinggi, mengingat harga obat di beberapa negara relatif lebih mahal.
Baca Juga: Simak Prospek Kinerja BSA Logistics Indonesia (WBSA) Pasca IPO
Meski begitu, Brigita menekankan bahwa efektivitas ekspansi tetap bergantung pada kemampuan emiten dalam membuka pasar baru dan meningkatkan basis pengguna.
Untuk pilihan saham, Brigita menjagokan PT Kalbe Farma Tbk (KLBF). Ia menilai KLBF mampu mencatatkan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih, serta menjaga efisiensi biaya operasional meskipun margin kotor mengalami tekanan.
“Valuasi KLBF juga saat ini masih berada di bawah rata-rata historis, sehingga cukup menarik untuk dikoleksi,” tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













