kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.750.000   -18.000   -0,65%
  • USD/IDR 17.717   -6,00   -0,03%
  • IDX 6.525   22,98   0,35%
  • KOMPAS100 848   0,18   0,02%
  • LQ45 642   -0,34   -0,05%
  • ISSI 229   0,75   0,33%
  • IDX30 358   -0,17   -0,05%
  • IDXHIDIV20 436   -0,72   -0,16%
  • IDX80 97   0,05   0,06%
  • IDXV30 121   -0,16   -0,13%
  • IDXQ30 114   -0,09   -0,08%

Bisnis TPIA Kian Terdiversifikasi Usai Akuisisi Cycle & Carriage, Ini Saran Maybank


Rabu, 26 Agustus 2026 / 09:29 WIB
Bisnis TPIA Kian Terdiversifikasi Usai Akuisisi Cycle & Carriage, Ini Saran Maybank
ILUSTRASI. PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) (KONTAN/Muradi)


Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) memperluas bisnisnya ke sektor otomotif dan rantai nilai mobilitas setelah menandatangani conditional share and asset purchase agreement (SAPA) pada 21 Agustus 2026.

Analis Maybank Sekuritas Indonesia Kevin Halim dalam riset 23 Agustus 2026 menilai langkah tersebut menjadi bagian dari strategi diversifikasi TPIA untuk mengurangi ketergantungan terhadap bisnis petrokimia dan energi yang bersifat siklikal.

Melalui kesepakatan tersebut, TPIA akan mengakuisisi Cycle & Carriage (C&C), perusahaan otomotif yang bergerak di bidang distribusi kendaraan, ritel, serta layanan purnajual di Singapura dan Malaysia.

"Menurut kami, akuisisi ini merupakan langkah lanjutan dalam strategi diversifikasi TPIA, setelah perseroan mengakuisisi jaringan stasiun pengisian bahan bakar ritel Esso senilai US$ 1 miliar pada awal 2026," ujar Kevin.

Baca Juga: Rupiah Spot Menguat pada Perdagangan Rabu (26/8) Pagi

Ia menilai TPIA memiliki kemampuan untuk mengeksekusi akuisisi secara kontra-siklus sekaligus menciptakan nilai jangka panjang. Di sisi lain, margin penyulingan yang masih tinggi di sekitar US$31 per barel diperkirakan menopang kinerja TPIA dalam jangka pendek.

Dengan mempertimbangkan faktor tersebut, Maybank Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy untuk saham TPIA dengan target harga Rp 2.600 per saham. Target tersebut mencerminkan valuasi sekitar 16,7 kali price to earnings ratio(P/E) berdasarkan estimasi laba 2026.

Pada Rabu (26/8/2026) dibuka melemah 1,01% di Rp 1.970 per saham hingga pukul 09.08 WIB. 

Struktur transaksi dinilai prudent

Nilai transaksi akuisisi C&C mencapai SGD 265 juta atau sekitar US$ 207 juta. Selain itu, terdapat earn-out sebesar SGD 30 juta yang bergantung pada pencapaian kinerja bisnis tertentu, serta break fee SGD 20 juta apabila SAPA tidak berlanjut.

Kevin menilai struktur transaksi tersebut cukup prudent. TPIA mengakuisisi C&C pada valuasi sekitar 0,7 kali price to book value (P/B), yang mengimplikasikan negative goodwill sekitar SGD 105 juta atau US$ 82 juta.

Kondisi tersebut berpotensi menghasilkan keuntungan satu kali (one-off gain) yang dapat masuk ke laporan laba rugi TPIA pada kuartal III 2026.

Selain itu, TPIA tidak mengambil alih pinjaman intragrup non-tunai senilai SGD 333 juta. Menurut Kevin, hal ini turut mendukung struktur transaksi yang konservatif.

Dari sisi kinerja, C&C membukukan laba sebesar US$ 48 juta pada 2025. Sementara itu, laba 2026 diproyeksikan mencapai US$36 juta berdasarkan kinerja yang disetahunkan dan telah disesuaikan dengan faktor musiman.

"Kontribusi laba tersebut menunjukkan adanya akresi laba secara langsung dan valuasi akuisisi yang menarik, yakni sekitar 4,3–5,8 kali P/E berdasarkan estimasi 2026–2027," kata Kevin.

Di sisi pendanaan, posisi kas TPIA yang mencapai sekitar US$ 2,9 miliar dinilai memberikan kapasitas yang memadai untuk mendanai transaksi tersebut.

Baca Juga: IHSG Dibuka Melemah pada Rabu (26/8) Pagi, MEDC, CUAN, ISAT Top Losers LQ45

Menurut Kevin, alasan utama TPIA mengakuisisi C&C adalah memperkuat diversifikasi sumber pendapatan. Bisnis petrokimia dan energi TPIA memiliki karakter siklikal, sedangkan bisnis C&C dapat memberikan aliran pendapatan yang lebih defensif.

Manajemen TPIA juga memprioritaskan keberlanjutan operasional C&C dengan memanfaatkan pengalaman perusahaan yang telah beroperasi selama 127 tahun. Dalam jangka panjang, TPIA juga melihat peluang sinergi dengan bisnis ritel bahan bakar Esso.

Sinergi tersebut antara lain dapat dilakukan melalui integrasi data, pemasaran silang (cross-marketing), penjualan silang produk pelumas, serta layanan ban.

Kevin memperkirakan kontribusi laba berulang dari C&C berpotensi meningkatkan laba TPIA sekitar 3%–5% pada 2026–2027. Dengan demikian, akuisisi tersebut dapat semakin memperkuat ketahanan kinerja TPIA di tengah siklus industri.

C&C merupakan salah satu dari dua peritel otomotif terbesar di Singapura dengan portofolio merek kendaraan yang luas. Perusahaan tersebut juga memiliki hubungan yang kuat dengan Mercedes-Benz.

Selain bisnis kendaraan konvensional, C&C dinilai memiliki posisi yang cukup baik dalam menghadapi transisi menuju kendaraan listrik (EV). Hal ini didukung oleh portofolio merek EV yang terus berkembang dan telah memiliki basis pasar.

C&C juga memiliki Republic Auto yang memberikan eksposur terhadap pasar mobil bekas Singapura yang sudah mapan.

"Yang terpenting, C&C memiliki sumber pendapatan berulang dari layanan purnajual, pembiayaan, dan asuransi. Hal ini mendukung kualitas sekaligus ketahanan laba perusahaan," jelas Kevin.

Dengan masuknya C&C, TPIA dinilai tidak hanya memperluas portofolio bisnis, tetapi juga membangun sumber pendapatan yang lebih beragam untuk menghadapi volatilitas siklus petrokimia dan energi.

Hingga akhir 2026, Kevin memperkirakan pendapatan dan laba bersih bisa mengantongi US$ 12,65 miliar dan US$ 752 juta. Sementara pendapatan di 2027 bisa mencapai US$ 13,98 miliar dan laba bersih mencapai US$ 692 juta. 

Baca Juga: Beban Bunga Utang Rp 650 Triliun di 2027 Makin Menggerus Ruang Fiskal Pemerintah

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU

[X]
×