kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.774.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.000   153,00   0,86%
  • IDX 5.941   -254,36   -4,11%
  • KOMPAS100 785   -38,94   -4,72%
  • LQ45 589   -30,28   -4,89%
  • ISSI 206   -8,52   -3,97%
  • IDX30 334   -15,73   -4,50%
  • IDXHIDIV20 412   -15,89   -3,71%
  • IDX80 89   -4,83   -5,16%
  • IDXV30 113   -4,09   -3,48%
  • IDXQ30 108   -4,46   -3,97%

PMI Manufaktur Indonesia Naik, Prospek Emiten Masih Menantang


Rabu, 03 Juni 2026 / 18:18 WIB
PMI Manufaktur Indonesia Naik, Prospek Emiten Masih Menantang
ILUSTRASI. Laba emiten manufaktur terancam karena produksi turun 3 bulan berturut-turut. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Rashif Usman | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja manufaktur Indonesia mulai merangkak naik. Laporan S&P Global memperlihatkan data Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia meningkat menjadi 50,0 pada Mei 2026 dari bulan sebelumnya yang berada di level 49,1.

Financial Expert Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih mengatakan perolehan tersebut secara angka mengindikasikan kondisi operasional yang mulai stabil. Namun, indikasi stabilitas ini berpotensi hanya ilusi.

Pasalnya, indeks manufaktur hanya ditopang oleh permintaan baru dari pasar domestik, yang mengindikasikan konsumen lokal menimbun stok untuk mengantisipasi gejolak harga di masa depan.

Secara eksternal, ekspor turun selama tiga bulan berturut-turut dengan tingkat kontraksi paling tajam sejak Agustus 2021 akibat eskalasi konflik di Timur Tengah dan tingginya harga bahan baku di pasar global. Kondisi ini selaras dengan surplus neraca perdagangan April 2026 yang merosot ke level US$ 89,1 juta, terendah sejak defisit pada masa pandemi pada April 2020.

Ratih juga mencatat industri manufaktur Indonesia pada Mei 2026 dilanda inflasi biaya input pada level tertinggi sejak September 2013 akibat meroketnya harga bahan baku impor dan keterbatasan pasokan karena konflik di Timur Tengah.

Baca Juga: IHSG Berpotensi Lanjut Melemah pada Kamis (4/6), Simak Proyeksinya

Akibatnya, volume produksi turun selama tiga bulan karena emiten kekurangan bahan baku dan terpaksa menguras persediaan pra-produksi serta stok barang jadi yang tersisa.

Alhasil, harga jual produk naik ke level tertinggi sejak Oktober 2013. Emiten pun perlu meneruskan beban biaya kepada konsumen sekaligus melakukan efisiensi dengan mengurangi jumlah tenaga kerja.

"Penurunan volume produksi merugikan emiten karena biaya tetap dan lonjakan variable cost menurunkan laba kotor serta laba operasional, yang pada akhirnya menekan valuasi emiten, misalnya melalui rasio P/E," kata Ratih kepada Kontan, Rabu (3/6/2026).

Tekanan berlapis yang dihadapi sektor manufaktur semakin diperumit oleh upaya stabilisasi Rupiah melalui instrumen Devisa Hasil Ekspor (DHE) SDA serta langkah preventif mitigasi praktik transfer pricing melalui sistem ekspor satu pintu. Kebijakan tersebut mempersempit ruang perencanaan pajak dan pengelolaan arus kas emiten.

"Kebijakan Bank Indonesia dan pemerintah tersebut bisa menjadi pisau bermata dua," tambah Ratih.

Baca Juga: IHSG Masih Rawan Koreksi pada Kamis (4/6), Simak Rekomendasi Analis

Secara keseluruhan, bursa pasar ekuitas masih kekurangan katalis pertumbuhan yang sehat. Strategi value investing jangka panjang dengan memanfaatkan dividen dapat dilakukan saat harga saham sedang mengalami koreksi, terutama pada saham bank Himbara yang didukung likuiditas dari pemerintah melalui penetapan DHE SDA di tengah iklim suku bunga tinggi.

Adapun saham batu bara milik pemerintah juga dapat menjadi pilihan menjelang RUPST, misalnya PTBA.

Ratih juga membagikan pilihan saham dan trading plan yang perlu diperhatikan menggunakan analisis teknikal, antara lain:

  1. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI)

Rekomendasi: Buy on Weakness

Area beli: Rp 4.000–Rp 4.050

Resistance: Rp 4.400

Support: Rp 4.000

  1. PT Bukit Asam Tbk (PTBA)

Rekomendasi: Buy on Weakness

Area beli: Rp 2.540–Rp 2.580

Resistance: Rp 2.850

Support: Rp 2.500

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×