Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Keputusan pemerintah untuk melakukan pergantian Menteri Keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa kepada Suahasil Nazara dianggap cukup diterima oleh pasar.
Hal tersebut tercermin dari pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Senin (14/9/2026). Di mana, IHSG yang sempat tertekan cukup, bahkan capai 2,56% ke level 6.373,96 dalam sebelum berbalik dan ditutup melemah tipis.
Guru Besar Universitas Indonesia (UI) sekaligus Pengamat Pasar Modal Budi Frensidy mengatakan, IHSG sempat turun hingga sekitar level 6.377, namun kemudian rebound dan ditutup turun tipis 0,10% ke level 6.534,69 pada Senin (14/9/2026).
Baca Juga: Rupiah Berpotensi Tertekan, Pasar Tunggu Keputusan The Fed dan Harga Minyak
“Rebound IHSG menunjukkan pasar cukup menerima Suahasil sebagai figur yang memberikan kontinuitas kebijakan,” kata Budi kepada Kontan, Senin (14/9/2026).
Di pasar valuta asing, rupiah turut melemah sekitar 0,33% ke level Rp17.669 per dolar AS. Budi menilai volatilitas pasar dalam jangka pendek masih berpotensi tinggi karena investor masih membutuhkan kepastian mengenai arah kebijakan fiskal di bawah Menkeu baru.
Selain itu, arus dana asing juga masih menjadi perhatian. Pada pekan sebelumnya, investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp 3,36 triliun. Menurut Budi, sentimen foreign flow masih sensitif terhadap perkembangan kebijakan fiskal dan kepercayaan investor terhadap pemerintah.
Budi bilang, dampak pergantian Menkeu terhadap IHSG dan rupiah akan bergantung pada kemampuan Suahasil meyakinkan pasar bahwa disiplin fiskal tetap terjaga, termasuk komitmen menjaga defisit APBN di bawah 3%.
“Jika Suahasil mampu meyakinkan pasar bahwa disiplin fiskal dan defisit di bawah 3% tetap dijaga, dampaknya terhadap rupiah dan IHSG bisa justru positif,” ujarnya.
Baca Juga: Emiten Kabel Tersengat Sentimen Data Center, Simak Prospek dan Rekomendasi Sahamnya
Menurut Budi, pergantian Menkeu juga belum otomatis mengubah outlook pasar hingga akhir 2026. Investor akan lebih mencermati kebijakan yang diterapkan setelah pergantian, termasuk defisit APBN, pembiayaan program pemerintah, koordinasi fiskal dan moneter, pergerakan rupiah, serta kepercayaan investor asing.
Ia menilai, apabila kredibilitas fiskal semakin membaik, pergantian Menkeu justru dapat menjadi katalis positif bagi pasar.
Adapun kebijakan yang diharapkan investor dari Menkeu baru adalah kebijakan fiskal yang prudent. Namun, untuk pergerakan IHSG dalam jangka pendek, Budi menilai investor masih perlu memperhatikan sejumlah faktor ekonomi global dan domestik.
“Untuk IHSG, tergantung faktor-faktor ekonomi seperti kurs, harga minyak, yield obligasi AS dan RI, dan lainnya,” jelasnya.
Di tengah kondisi tersebut, Budi tidak menyarankan investor melakukan panic selling maupun agresif membeli saham. Strategi yang dapat dilakukan adalah buy on weakness secara bertahap, terutama pada saham berkapitalisasi besar yang likuid dan memiliki fundamental kuat.
Investor juga disarankan tetap menjaga kas sambil menunggu arah kebijakan Menkeu baru semakin jelas, mengingat volatilitas pasar global masih tinggi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














