Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja saham emiten kabel tampak bisa mendapar berkah dan tampil menguat di tengah ramainya proyek data center.
Tengok saja, saham PT Communication Cable Systems Indonesia Tbk (CCSI) terbang 35,11% dalam sebulan ke Rp 354 per saham. Sejalan, saham PT Kabelindo Murni Tbk (KBLM) juga melejit 16,34% dalam sebulan ke level Rp 356 per saham.
Lalu, saham PT Jembo Cable Company Tbk (JECC) harganya melesat 33,86% dalam sebulan.
Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama mengatakan, kenaikan saham CCSI, KBLM, dan JECC belakangan ini tidak sepenuhnya disebabkan tren data center.
Baca Juga: Harga Batubara Menguat, Kinerja Emiten Tambang Diproyeksi Tetap Positif
Tema data center memang meningkatkan ekspektasi permintaan kabel serat optik dan kabel listrik. Namun, dampaknya paling relevan bagi CCSI karena memiliki eksposur langsung pada kabel fiber optic, termasuk jaringan telekomunikasi dan kabel bawah laut.
Sementara itu, bisnis KBLM dan JECC lebih banyak ditopang prospek pembangunan jaringan listrik, ekspansi energi terbarukan, proyek properti dan infrastruktur.
Kenaikan harga yang cukup cepat juga menunjukkan adanya momentum beli pada saham kabel yang kapitalisasi pasar dan likuiditasnya relatif terbatas.
“Sehingga pergerakannya dapat lebih agresif dibandingkan perubahan fundamentalnya,” ujarnya kepada Kontan, Senin (14/8/2026).
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta mengatakan, kenaikan saham emiten kabel merupakan kombinasi antara ekspektasi pertumbuhan permintaan kabel, terutama dari data center dan infrastruktur kelistrikan atau digital, serta apresiasi saham-saham yang sebelumnya relatif murah.
Tema data center memang semakin relevan karena kebutuhan listrik data center Indonesia diproyeksikan meningkat dari sekitar 1.098 MW pada 2025 menjadi 2.122 MW pada 2026 dan terus naik hingga 5.226 MW pada 2034.
KBLM sendiri secara eksplisit melihat ekspansi data center sebagai peluang dan telah memasok kebutuhan sejumlah proyek data center sejak 2018. Sementara, perusahaan juga mengembangkan produk solar alias PV cable untuk menangkap pertumbuhan energi terbarukan.
Baca Juga: Suahasil Jadi Menkeu, Begini Dampaknya ke Pasar Saham
Artinya, data center merupakan salah satu katalis struktural, tetapi bukan satu-satunya. “Ada pula kebutuhan kabel dari ekspansi jaringan listrik, renewable energy, transmisi-distribusi, pembangunan kawasan industri, telekomunikasi/fiber optic, hingga proyek infrastruktur,” ujarnya kepada Kontan, Senin.
Dari sisi fundamental, KBLM terlihat paling solid di antara tiga nama tersebut. Hingga semester I 2026, pendapatan KBLM mencapai Rp1,29 triliun atau tumbuh 47,3% secara tahunan (YoY), EBITDA naik 105%, dan laba bersih naik 7,2% YoY menjadi Rp29,9 miliar.
Sebaliknya, kenaikan harga saham JECC perlu dicermati, karena belum sepenuhnya dikonfirmasi fundamental. Per semester I 2026, pendapatan JECC justru turun 4,4% YoY dan laba bersih turun 57,8% YoY menjadi Rp20,2 miliar.
CCSI juga masih menunjukkan profitabilitas yang relatif tipis per kuartal II-2026.
“Sehingga, kenaikan harga sahamnya lebih banyak merefleksikan ekspektasi terhadap prospek bisnis ke depan daripada kinerja berjalan semata,” paparnya.
Di sisi lain, rencana Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menurunkan sekitar 6.500 km kabel ke bawah tanah dalam lima tahun dapat menjadi sentimen positif. Namun, manfaatnya bagi emiten kabel tidak otomatis sebesar panjang jaringan tersebut.
Baca Juga: Aspirasi Hidup Indonesia (ACES) Terus Ekspansi, Simak Rekomendasi Analis
Elandry bilang, proyek ini pada tahap awal lebih banyak mencakup relokasi jaringan, pembangunan ducting bersama, serta penataan kabel milik operator telekomunikasi dan utilitas.
Permintaan baru akan lebih terasa apabila relokasi membutuhkan penggantian kabel lama, penambahan kapasitas jaringan, atau menggunakan spesifikasi kabel khusus bawah tanah.
“Dampaknya berpotensi positif bagi CCSI dan produsen kabel lain yang memenangkan kontrak, tetapi tetap bergantung pada skema tender, tingkat local content, jadwal pengerjaan, dan pihak yang menanggung biaya relokasi,” ungkapnya.
Senada, Nafan bilang, rencana Pemprov DKI tersebut juga bisa menjadi sentimen positif bagi sektor kabel dalam jangka menengah-panjang, tetapi dampak langsung terhadap pendapatan emiten harus tetap dibedakan.
Pemprov DKI memang telah memiliki landasan hukum melalui Perda Nomor 8 Tahun 2025 dan membuka ruang kolaborasi dengan BUMD maupun swasta. Bahkan, skema pendanaannya tidak hanya mengandalkan APBD, tetapi juga berpotensi melibatkan investor.
“Namun, proyek tersebut pada tahap awal lebih banyak menyangkut relokasi kabel komunikasi/fiber optic, sedangkan kabel listrik masih membutuhkan koordinasi dan persiapan dengan Perusahaan Listrik Negara (PLN),” ungkapnya.
Oleh karena itu, manfaat langsung terbesar kemungkinan mengalir kepada produsen kabel yang memiliki eksposur kuat pada kabel telekomunikasi, fiber optic, medium-voltage/low-voltage cable dan produk utilitas perkotaan, bukan otomatis seluruh emiten kabel.
Yang menarik, kata Nafan, infrastruktur sarana jaringan utilitas terpadu (SJUT) yang sudah terbangun baru sekitar 41,7 km dan ditargetkan menjadi 54,2 km pada akhir 2026.
“Artinya, masih terdapat ruang ekspansi yang sangat besar apabila program 6.500 km benar-benar berjalan,” tuturnya.
Prospek industri kabel sampai akhir 2026 hingga 2027 pun dilihat masih positif.
Elandry menyebut, hal ini terutama ditopang pembangunan data center, perluasan jaringan fiber optic, kebutuhan listrik yang meningkat, proyek transmisi PLN, energi terbarukan, serta pembangunan kawasan industri.
Namun, pertumbuhannya kemungkinan tidak merata karena bisnis kabel memiliki margin relatif tipis dan sensitif terhadap harga tembaga, aluminium, kurs rupiah, serta keterlambatan proyek.
Kinerja JECC cukup menarik sebagai kandidat jawara karena produknya lebih terdiversifikasi pada kabel listrik dan telekomunikasi, memiliki dukungan teknologi serta sedang meningkatkan kapasitas produksi.
Kemudian, CCSI mempunyai growth story yang lebih agresif dari konektivitas digital. Namun, kenaikan sahamnya sudah cukup tinggi, sehingga risiko profit taking juga membesar.
“Sedangkan, KBLM menarik dari sisi valuasi tetapi katalis pertumbuhannya relatif lebih moderat,” paparnya.
Nafan berpandangan, tren positif sektor kabel masih mempunyai peluang berlanjut hingga tahun 2027, tetapi volatilitas harga sahamnya kemungkinan lebih tinggi daripada pertumbuhan fundamentalnya.
Baca Juga: Penjualan SR025 Tembus Rp25,5 Triliun, Tapi Kalah Ngebut dari ORI030
Pendorong utama adalah akselerasi pembangunan data center, peningkatan kebutuhan listrik, ekspansi transmisi-distribusi PLN, renewable energy atau PLTS, pembangunan kawasan industri, fiberisasi jaringan telekomunikasi, serta program penataan utilitas Jakarta.
Indonesia secara keseluruhan juga berpotensi mendapatkan limpahan investasi data center regional karena keterbatasan kapasitas di Singapura dan Malaysia.
“Ini akan membuat kebutuhan power, construction dan connectivity jadi ikut meningkat,” katanya.
Sementara, sentimen pemberatnya berasal dari harga tembaga dan aluminium sebagai bahan baku, kemampuan perusahaan meneruskan kenaikan biaya bahan baku kepada pelanggan, persaingan harga, ketergantungan pada proyek-proyek besar, working capital, serta valuasi saham yang sudah naik cukup cepat.
“Kenaikan seluruh saham kabel bukan tren yang otomatis berkelanjutan. Sebab, akan terjadi seleksi berdasarkan kualitas order book, product mix, margin, leverage dan kemampuan menangkap proyek strategis,” paparnya.
Nafan pun merekomendasikan sell on strength untuk CCSI, KBLM, dan JECC. Sementara, Elandry merekomendasikan speculative buy pada area Rp 760 – Rp 810 per saham untuk JECC dengan target harga di Rp 900 – Rp 950 per saham dalam 12 bulan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














