kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.679.000   50.000   1,90%
  • USD/IDR 17.910   -29,00   -0,16%
  • IDX 6.400   56,04   0,88%
  • KOMPAS100 844   11,24   1,35%
  • LQ45 640   9,16   1,45%
  • ISSI 221   2,06   0,94%
  • IDX30 359   4,83   1,36%
  • IDXHIDIV20 438   4,42   1,02%
  • IDX80 96   1,33   1,40%
  • IDXV30 120   0,90   0,75%
  • IDXQ30 114   1,34   1,19%

Peran Danantara Kurang Maksimal, Kinerja Emiten BUMN Belum Merata


Jumat, 07 Agustus 2026 / 13:58 WIB
Peran Danantara Kurang Maksimal, Kinerja Emiten BUMN Belum Merata
ILUSTRASI. Kinerja emiten BUMN dinilai masih belum merata sepanjang semester I 2026 lantaran peran Danantara yang belum maksimal. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja emiten BUMN dinilai masih belum merata sepanjang semester I 2026 lantaran peran Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) yang belum maksimal.

Misalnya, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) berhasil mengantongi laba konsolidasian sebesar Rp 30,41 triliun atau meningkat 24,3% secara tahunan (year-on-year/yoy). 

Sejatinya pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) bank secara konsolidasian turun 7,84% yoy menjadi Rp 48,33 triliun. Sejalan, total kredit konsolidasian yang disalurkan perusahaan turun tipis 1,3% yoy menjadi  Rp 1.674 triliun. 

Kendati begitu, BMRI berhasil menjaga kualitas asetnya, terbukti dari penurunan rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) menjadi 0,98% dari posisi 1,08% pada tahun sebelumnya. 

Baca Juga: Fluktuasi Pasar, Simak Strategi Investasi di Pasar Reksadana

PT Timah Tbk (TINS) meraih laba bersih Rp 2,71 triliun sampai dengan Juni 2026. Keuntungan TINS melonjak 804,70% YoY. Lonjakan laba bersih TINS sejalan dengan raihan pendapatan dari kontrak dengan pelanggan yang meningkat 147,26% (yoy) dari Rp 4,21 triliun menjadi Rp 10,41 triliun pada semester I-2026. 

Direktur Utama Timah Restu Widiyantoro mengungkapkan, penjualan logam timah mencapai 10.984 metrik ton, meningkat 85% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 5.933 metrik ton.

Sementara itu, harga jual rata-rata logam timah sepanjang semester I-2026 mencapai US$ 49.794 per metrik ton, meningkat 52% dibandingkan semester I-2025 sebesar US$ 32.816 per metrik ton, sejalan dengan masih kuatnya harga timah di pasar global.

“Peningkatan produktivitas, disiplin dalam pengelolaan biaya, serta optimalisasi operasi menjadi faktor utama yang mendorong pencapaian tersebut," ungkap Restu melalui keterbukaan informasi, Selasa (28/7/2026).

PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) membukukan pendapatan usaha sebesar US$ 622,74 juta atau setara Rp 11,15 triliun sepanjang semester I 2026, meningkat 35,1% YoY dibandingkan dengan pendapatan usaha pada periode yang sama tahun 2025 sebesar US$ 460,83 juta.

Baca Juga: Saham VIVA Berpeluang Rerating, Nilai Kepemilikan di MDIA Belum Tercermin

KRAS juga mencatat keuntungan atas penyelesaian kewajiban dipercepat dengan keringanan (haircut) atas utang restrukturisasi sebesar US$ 27,19 juta. Restrukturisasi tersebut turut menekan beban keuangan KRAS yang turun 32,7% yoy menjadi US$ 47,35 juta dari sebelumnya US$ 70,35 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Selain itu, KRAS membukukan pendapatan atas divestasi entitas asosiasi dan aset keuangan sebesar US$ 14,23 juta sebagai bagian dari strategi optimalisasi portofolio investasi dan aset perusahaan. 

"Dengan capaian tersebut, perusahaan membukukan laba bersih sebesar US$ 10,94 juta pada semester I-2026, berbalik dari rugi bersih sebesar US$ 105,38 juta pada periode yang sama tahun 2025," tulis Plt. Corporate Secretary Krakatau Steel Rachman Hidayat dalam keterbukaan informasi BEI, dikutip Rabu (5/8/2026).

PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM)  membukukan mencatatkan pendapatan konsolidasi sebesar Rp 75,9 triliun atau tumbuh 3,9% YoY sepanjang semester I 2026. TLKM juga mencatatkan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 10,6 triliun, tumbuh 1,4% YoY.

Dari BUMN karya, PT PP Tbk (PTPP) dan PT Adhi Karya Tbk (ADHI) kompak mencatatkan peningkatan laba di tengah penurunan pendapatan.

Baca Juga: Ada Kekhawatiran Ancaman di Selat Hormuz, Harga Minyak Mentah Kembali Naik

PTPP mengantongi pendapatan usaha sebesar Rp 5,95 triliun per kuartal II 2026, turun 11,2% dari Rp 6,7 triliun di periode sama tahun lalu. Laba bersih menjadi Rp 193,46 miliar per semester I 2026. Ini naik 196,5% YoY dari Rp 65,24 miliar per semester I 2025. 

Corporate Secretary PTPP Joko Raharjo menjelaskan, laba komprehensif tahun berjalan PTPP di periode ini sebesar Rp68,4 miliar, naik 24% YoY. “Kenaikan laba komprehensif disebabkan oleh kenaikan penghasilan komprehensif lain yang diatribusikan pemilik entitas induk yang naik sebesar 264,2% secara YoY menjadi Rp 247,6 miliar,” katanya.

Pendapatan usaha ADHI tercatat Rp 3,11 triliun per Juni 2026. Ini turun 18,35% dari Rp 3,81 triliun dari periode sama tahun lalu. Namun, ADHI mengantongi laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 8,49 miliar per Juni 2026, naik 12,56% YoY. Direktur Portofolio Bisnis & Risiko ADHI, Rozi Sparta mengatakan, laba ADHI meningkat karena adanya peningkatan margin laba kotor akibat klaim atas interest during payment dari proyek LRT Jabodebek.

Baca Juga: Rupiah Spot Melemah 0,06% ke Rp 17.933 per Dolar AS pada Jumat (7/8) Pagi

“Sedangkan pendapatan ADHI turun dikarenakan adanya penurunan produksi untuk proyek-proyek besar ADHI yang hampir selesai yaitu Tol Solo Jogja, Tol Jogja Bawen dan Pusri,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (29/7/2026).

Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata mengatakan, secara umum kinerja emiten BUMN pada Semester I 2026 mulai membaik, meski belum merata. 

PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menjadi salah satu yang paling standout berkat penguatan harga jual emas, nikel, dan bauksit. Sementara, sektor perbankan melalui BBRI dan BBNI ditopang pemulihan pertumbuhan kredit, yield pinjaman, serta pendapatan bunga. 

PT Mitratel Tbk (MTEL) relatif stabil dengan recurring income dari bisnis menara dan pertumbuhan fiber, sedangkan PT Jasa Marga Tbk (JSMR) tetap defensif berkat pendapatan tol dan arus kas yang cukup terjaga.  

Namun, belum tepat jika kinerja emiten BUMN sepanjang semester I 2026 langsung dianggap sebagai keberhasilan atau kegagalan Danantara. Sebab, hasil tersebut masih lebih banyak ditentukan oleh siklus sektoral dan strategi masing-masing perusahaan. 

“Peran Danantara sejauh ini baru mulai terlihat pada arah konsolidasi, tata kelola, dan capital allocation BUMN. Dampak finansial penuhnya masih membutuhkan waktu,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (6/8/2026).

Untuk Semester II-2026, peluang perbaikan kinerja emiten BUM tetap terbuka, tetapi akan sangat selektif. 

Katalis positifnya berasal dari harga emas yang masih tinggi, hilirisasi mineral, pertumbuhan kredit, penyesuaian tarif tol, belanja infrastruktur, serta kebutuhan konektivitas digital.

Sedangkan risikonya meliputi suku bunga tinggi, kualitas kredit UMKM, volatilitas komoditas, tekanan rupiah, tingginya capex, dan konsolidasi operator telekomunikasi.   

Liza melihat, Danantara dapat menjadi katalis apabila mampu mendorong efisiensi, disiplin investasi, konsolidasi aset, dan tata kelola yang lebih transparan. 

“Sebaliknya, Danantara dapat menjadi beban apabila BUMN terlalu banyak diarahkan untuk proyek nonkomersial, subsidi silang, atau setoran dividen besar yang mengurangi kemampuan ekspansi,” katanya.

Liza pun menyarankan investor untuk mencermati saham ANTM dengan target harga Rp4.800 per saham, BBRI Rp 3.600 per saha,, MTEL Rp 705 per saham, JSMR Rp 3.850 per saham, dan BBNI Rp 4.100 per saham untuk akhir 2026.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×