kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45892,94   -7,87   -0.87%
  • EMAS1.338.000 0,38%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Pengenaan Biaya Lebih Rendah, Analis Khawatir Potensi GoTo Meraih Laba


Kamis, 17 Maret 2022 / 05:45 WIB
Pengenaan Biaya Lebih Rendah, Analis Khawatir Potensi GoTo Meraih Laba


Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Goto Gojek Tokopedia Tbk berencana go public pada 4 April 2022. Pendapatan Goto dibagi menjadi tiga segmen yakni on demand, ecommerce dan fintech. Goto berharap akan menciptakan sinergi dalam ekosistem dan kedekatan dengan pelanggan. GoTo telah berhasil mengamankan posisi di semua layanan. 

Berdasarkan laporan keuangan GoTo membukukan pendapatan bersih hingga Juli 2021 sebesar Rp 2,52 triliun dengan rugi bersih Rp 7,59 triliun. Dimana kontribusi terbesar masih dari on demand alias Gojek sebesar Rp 1,36 triliun baru kemudian dikontribusikan dari layanan jasa keuangan Rp 303 miliar dan Tokopedia sebesar Rp 593 miliar. Sisanya dari lain-lain Rp 253,97 miliar. 

Selain Indonesia, GoTo memiliki posisi pasar O2O di Singapura dan Vietnam. GoTo selanjutnya menyediakan bisnis B2B untuk mendukung loyalitas pedagang. 

Baca Juga: Masih Bukukan Rugi Bersih, Analis Memperkirakan Kinerja GoTo Akan Membaik

Perusahaan ini memang masih mencatatkan compounded annual growth rate (CAGR) 46% dari periode 2018 - 2020. CAGR pendapatan GoTo juga naik 56% pada periode 2018 - 2020. Namun analis RHB Sekuritas menyebut, GoTo masih mencatatkan rugi bersih Rp 16,8 triliun pada tahun 2020. Hingga September 2021 pun perusahaan ini masih mencatatkan rugi bersih Rp 12,3 triliun. Rugi tersebut naik dari periode sama tahun 2020 sebesar Rp 11,5 triliun. 

GoTo menargetkan bisa meraih dana IPO Rp 18 triliun setara dengan US$ 1,2 miliar dengan harga penawaran di Rp 316 - Rp 346. Dana tersebut didapat dari penawaran 52 miliar saham setara dengan 4,35% dari total saham perusahaan.

Dana hasil IPO GoTo akan digunakan untuk modal kerja. Sebelum IPO, GoTo mengumpulkan dana dari Abu Dhabi Investment Authority, Google, Temasek dan Fidelity International. 

"Kami melihat akan ada efek kuat dari monetasi ekosistem GoTo. Namun kami memiliki kekhawatiran potensi GoTo menuju profitabilitas," jelas analis RHB Sekuritas. Sebab jika dibandingkan dengan pemain lain biaya (fee) yang dibebankan oleh GoTo dalam transaksi marketplace (take rate) lebih rendah. Kondisi ini membuat RHB Sekuritas khawatir potensi GoTo meraih keuntungan ke depan. 

Dari segi penilaian, RHB Sekuritas mengatakan, perdagangan GoTo diperdagangkan di EV/pendapatan tahun 2023 di 10 - 14 kali. Ini cukup premium dibandingkan rekan-rekannya. "Kami menunggu detail lebih lanjut mengenai visibilitas strateginya. Serta sentimen sektor teknologi ke depan," ujar dia. IPO GoTo juga diuntungkan dari kebijakan pemegang saham melalui opsi greenshoe. RHB berpendapat kebijakan ini seharusnya bisa mempertahankan harga saham GoTo. 

Baca Juga: Ada IPO GoTo, Saham-Saham Sektor Teknologi Masih Lesu

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Success in B2B Selling Omzet Meningkat dengan Digital Marketing #BisnisJangkaPanjang, #TanpaCoding, #PraktekLangsung

[X]
×