Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Penerbitan obligasi korporasi menunjukkan tren peningkatan hingga April 2026. Kondisi ini didorong oleh korporasi yang memanfaatkan momentum yield rendah untuk memperoleh biaya pendanaan yang lebih kompetitif.
Chief Economist PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), Suhindarto mengatakan, meskipun pada April 2026 terjadi perlambatan pertumbuhan penerbitan surat utang korporasi sebesar 13,20% secara year on year (YoY), secara keseluruhan kondisi pasar surat utang korporasi masih cukup solid.
“Sejak Januari hingga April 2026, penerbitan surat utang korporasi Indonesia telah mencapai Rp 67,05 triliun. Jumlah tersebut meningkat sebesar 20,56% dari Januari – April 2025,” ujar Suhindarto kepada Kontan, Selasa (12/5/2026).
Suhindarto menjelaskan, salah satu faktor utama yang menopang pertumbuhan penggalangan dana di pasar surat utang korporasi adalah kondisi yield yang masih relatif lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Perbedaan yield tersebut dinilai cukup signifikan dan memberikan keuntungan bagi emiten dalam menerbitkan obligasi.
Baca Juga: Cek Prospek Emiten Konsumer di Tengah Kenaikan Indeks Keyakinan Konsumen April 2026
Pada periode Januari hingga April 2025, yield surat utang pemerintah tenor 3 tahun tercatat berada di level 6,73%. Sementara itu, pada periode Januari hingga April 2026, rata-rata yield surat utang pemerintah tenor 3 tahun berada di level 5,79%, meskipun sempat mengalami tren kenaikan akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.
“Dengan perbedaan sekitar 94 bps ini, maka biaya penerbitan pada 4 bulan pertama tahun ini masih memiliki acuan yang relatif lebih murah dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu,” terang Suhindarto.
Menurut Suhindarto, kondisi tersebut mendorong korporasi lebih agresif menerbitkan surat utang sejak awal tahun guna mengamankan biaya dana yang lebih rendah. Yield surat utang pemerintah yang lebih rendah juga membuat kupon obligasi korporasi tetap kompetitif di pasar.
Hal ini menjadi salah satu alasan utama tingginya aktivitas penerbitan obligasi korporasi sepanjang empat bulan pertama 2026.
Baca Juga: AS – Iran Memanas, Harga Minyak Mentah Tembus US$ 100 per Barel
Selain faktor yield, kondisi ekonomi domestik yang masih solid sepanjang kuartal I-2026 hingga April turut memberikan sentimen positif bagi dunia usaha. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat mencapai 5,61% YoY, sementara konsumsi rumah tangga tumbuh 5,52% YoY.
Data tersebut menunjukkan bahwa permintaan agregat domestik masih berada dalam kondisi yang baik dan menopang aktivitas bisnis korporasi di berbagai sektor.
Suhindarto menilai, keberhasilan pemerintah dalam meredam lonjakan harga energi juga turut menjaga daya beli masyarakat sehingga konsumsi tetap tumbuh positif.
“Guna menjawab pertumbuhan permintaan yang solid tersebut, korporasi masih membutuhkan pendanaan, dan menggalang dana melalui pasar surat utang korporasi menjadi salah satu opsi yang menarik seiring dengan biaya dana yang masih kompetitif,” jelas Suhindarto.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













