Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penerbitan obligasi korporasi diproyeksi meningkat seiring dengan kebutuhan refinancing. Sebab, nilai jatuh tempo obligasi korporasi pada semester II-2026 tercatat meningkat tajam.
Economic Research Division Pefindo, Ahmad Nasrudin memandang penerbitan obligasi korporasi pada kuartal II-2026 masih akan berlanjut dengan solid, tetapi polanya kemungkinan lebih selektif dibandingkan dengan kuartal I – 2026.
Kebutuhan refinancing tetap menjadi penopang utama karena nilai jatuh tempo tahun ini masih tinggi, mencapai Rp 162,72 triliun, sedikit di atas Rp 161,22 triliun pada 2025. Oleh karena itu, pasokan obligasi baru masih akan terjaga meski kondisi pasar lebih menantang.
“Profil jatuh tempo per kuartal juga menunjukkan tekanan refinancing belum akan mereda dalam waktu dekat. Nilainya mencapai Rp 26,88 triliun pada kuartal I, Rp28,33 triliun pada kuartal II, lalu naik tajam menjadi Rp 63,95 triliun pada kuartal III dan Rp 43,56 triliun pada kuartal IV,” jelas Ahmad kepada Kontan, Selasa (7/4/2026).
Ahmad menilai pola tersebut menunjukkan emiten masih punya insentif untuk masuk pasar pada kuartal II agar kebutuhan pendanaan dapat dipenuhi sebelum beban jatuh tempo mencapai puncak pada semester II tahun ini.
Baca Juga: Naik 26,9%, Penerbitan Obligasi Korporasi Kuartal I-2026 Capai Rp 59,35 Triliun
Secara sektoral, kebutuhan refinancing datang dari multifinance Rp 33,93 triliun, pulp dan kertas Rp 23,18 triliun, serta perbankan Rp 19,08 triliun. Komposisi ini menunjukkan suplai obligasi baru pada kuartal II berpeluang tetap aktif, terutama dari sektor-sektor dengan kebutuhan rollover besar.
“Namun, penerbitan untuk ekspansi kemungkinan lebih hati-hati,” terang Ahmad.
Ahmad menyebut inflasi per Maret 2026 masih mendekati batas atas target bank sentral, sementara nilai tukar juga masih cenderung volatil di tengah kondisi geopolitik yang menantang. Kondisi ini membuat ruang penurunan suku bunga masih terbatas dan biaya dana berpotensi cenderung lebih tinggi dibandingkan tahun lalu.
“Dalam kondisi seperti ini, penerbitan kuartal II kemungkinan lebih banyak datang dari emiten berkualitas tinggi dan lebih fokus pada refinancing serta modal kerja, bukan ekspansi agresif,” ucap Ahmad.
Ahmad menilai sentimen utama yang mempengaruhi obligasi korporasi pada kuartal II – 2026 masih berasal dari suku bunga global yang tinggi, harga energi, nilai tukar rupiah, risiko fiskal, dan arus dana asing. Yield US Treasury tenor 10 tahun naik dari sekitar 3,94% pada akhir Februari menjadi sekitar 4,43% pada 27 Maret 2026.
Pada saat yang sama, harga Brent melonjak dari sekitar US$ 72 per barel pada awal Maret menjadi sekitar US$ 113 per barel pada akhir Maret. Kombinasi ini menahan ruang penurunan yield dan membuat investor meminta imbal hasil yang lebih tinggi, termasuk yield obligasi korporasi.
Dalam konteks ini, Ahmad melihat dua jalur yang paling penting bagi obligasi korporasi pada kuartal II-2026 adalah penahanan permintaan agregat oleh suku bunga tinggi dan menyempitnya ruang fiskal yang mendorong risiko pelebaran defisit dari yang dianggarkan akibat kenaikan beban subsidi energi.
“Suku bunga yang tetap tinggi akan menahan permintaan agregat melalui biaya kredit yang lebih mahal, baik untuk rumah tangga maupun dunia usaha. Jalur ini pada akhirnya menekan laju pertumbuhan ekonomi seiring dengan ekspansi usaha yang menjadi lebih berhati-hati,” jelas Ahmad.
Di saat yang sama, Ahmad mengatakan, harga minyak yang tinggi dapat memperbesar beban subsidi energi dan memperlebar defisit anggaran. Tekanan ini membatasi ruang fiskal pemerintah untuk mendorong pertumbuhan melalui belanja yang lebih ekspansif. Implikasinya, prospek pendapatan di sebagian sektor dunia usaha menjadi kurang kuat, kebutuhan penerbitan untuk ekspansi cenderung lebih terbatas, sementara penerbitan untuk refinancing dan modal kerja tetap berjalan.
“Dalam kondisi seperti ini, investor juga cenderung lebih selektif dan lebih memilih emiten dengan kualitas kredit tinggi, tenor lebih pendek, dan sektor yang lebih defensif terhadap perlambatan ekonomi,” ucap Ahmad.
Baca Juga: Obligasi Korporasi Dinilai Lebih Tahan Gejolak Dibanding SUN pada Tahun 2026
Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas, Ramdhan Ario Maruto mengatakan, ketegangan geopolitik di Timur Tengah memicu sentimen risk – off yang berpengaruh pada pasar keuangan global, termasuk obligasi korporasi. Hal itu membuat biaya dana (cost of fund) yang diterbitkan korporasi meningkat sehingga membuat yield obligasi korporasi naik.
“Kalo asumsi perang ini segera mereda, pasar akan cenderung menguat dalam arti yield (obligasi korporasi) akan mulai mengecil kembali. Sekarang walaupun likuiditas tinggi, tapi karena uncertainty tinggi membuat sebagian investor menahan diri untuk masuk,” ujar Ramdhan.
Ramdhan menilai strategi yang dapat dilakukan investor adalah terus memantau perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Investor juga dapat memilih obligasi korporasi dengan rating yang baik dan menyesuaikan dengan profil risiko masing-masing investor. Menurutnya, obligasi korporasi dengan peringkat yang tinggi dan tenor jangka pendek hingga menengah berpotensi diminati hingga semester I-2026.
“Investor sangat hati-hati masuk ke obligasi korporasi karena potensi pelemahan kalau eskalasi geopolitik berkepanjangan berpotensi membuat market melemah,” terang Ramdhan.
Ramdhan memproyeksikan yield obligasi korporasi dengan peringkat AAA tenor 3 tahun berkisar 6,50% - 7% pada semester I-2026. Yield obligasi korporasi peringkat AAA tenor 3 tahun berpotensi menuju 6,50% jika eskalasi geopolitik Timur Tengah mereda. Sebaliknya, yield obligasi tersebut bisa menuju 7% jika eskalasi berlanjut.
Sementara Pefindo melihat bahwa ruang kenaikan yield AAA tetap ada, tetapi relatif lebih terbatas dibandingkan dengan segmen rating lebih rendah. Dalam fase ketidakpastian yang tinggi, investor biasanya berpindah ke aset yang dinilai lebih aman. Pola flight to quality ini membuat permintaan pada obligasi korporasi berperingkat tinggi relatif lebih terjaga.
Ahmad melihat argumen flight to quality kini lebih kuat bila dibandingkan dengan akhir Februari 2026. Pada 27 Februari 2026, spread AAA tenor 3 tahun masih 46,37 bps, lalu turun menjadi 37,57 bps pada 7 April 2026. Sebaliknya, spread BBB tenor 3 tahun justru naik dari 394,03 bps menjadi 401,42 bps pada periode yang sama.
Baca Juga: Obligasi Korporasi 2026 Masih Menjanjikan, Investor Diminta Lebih Selektif
Yield AAA tenor 3 tahun naik dari 5,87% menjadi 6,77%, tetapi kenaikannya terutama mengikuti lonjakan yield pemerintah tenor 3 tahun dari 5,40% ke 6,40%. Di sisi lain, yield BBB tenor 3 tahun naik lebih besar, dari 9,34% menjadi 10,41%, dan kenaikan itu disertai pelebaran spread.
“Pola ini menunjukkan investor tetap masuk ke obligasi korporasi, tetapi lebih memilih kualitas yang lebih tinggi ketika ketidakpastian meningkat. Karena itu, saya melihat ruang kenaikan yield AAA masih ada, tetapi relatif lebih terbatas dibandingkan dengan segmen BBB yang lebih sensitif terhadap pelebaran premi risiko,” pungkas Ahmad.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), sampai dengan 27 Maret 2026 terdapat 28 emisi dari 20 penerbit obligasi korporasi yang sedang berada dalam pipeline dengan klasifikasi sektor sebagai berikut:
• 1 Perusahaan dari sektor Basic Materials;
• 1 Perusahaan dari sektor Consumer Non-Cyclicals;
• 2 Perusahaan dari sektor Energy;
• 10 Perusahaan dari sektor Financials;
• 6 Perusahaan dari sektor Infrastructures
Baca Juga: Ada Kebutuhan Refinancing, Penerbitan Obligasi Korporasi Marak di Kuartal I 2026
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













