kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Pembobotan indeks bikin emiten free float kecil kurang atraktif


Jumat, 23 November 2018 / 22:52 WIB

Pembobotan indeks bikin emiten free float kecil kurang atraktif
ILUSTRASI. Bursa Efek Indonesia

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Februari 2019, Bursa Efek Indonesia (BEI) bakal memberlakukan penghitungan atau metodologi pembobotan indeks harga saham yang baru secara bertahap. Upaya ini dinilai mampu membuat saham dengan free float kecil menjadi kurang menarik.

Kepala Riset BNI Sekuritas Norico Gaman menjelaskan, pembobotan indeks diberlakukan berdasarkan besarnya free float atau jumlah saham yang diperdagangkan di bursa. Sehingga, emiten yang memiliki free float besar berpeluang menarik para investor.


"Sedangkan emiten yang free float-nya (kecil), menjadi kurang atraktif diperdagangkan karena likuiditas atau volume transaksi yang rendah," katanya kepada Kontan.co.id, Jumat (23/11).

Adapun dari penerapan aturan pembobotan indeks, Norico menilai investor retail akan diuntungkan, terutama bagi mereka yang aktif trading. "Intinya, semakin besar free float suatu saham, maka akan banyak yang memperdagangkan," ungkapnya.

Penerapan pembobotan indeks lewat free float akan dilakukan bertahap dari 1 Februari 2019 hingga 1 Agustus 2019. Aturan tersebut, diperuntukan bagi Indeks LQ45 dan IDX30, di mana setiap tahapannya BEI akan mengurangi rasio saham non-free float secara gradual.

Ketentuannya, mulai 1 Februari 2019, rasio saham non-free float yang tidak dihitung sebesar 30%. Sedang pada 1 Agustus 2019, rasio yang tidak dihitung bakal menjadi 100%.

Seperti diketahui, free float sendiri merupakan saham milik investor dengan kepemilikan kurang dari 5%. Sedang rasio free float adalah perbandingan saham free float terhadap total saham tercatat.


Reporter: Intan Nirmala Sari
Editor: Wahyu Rahmawati

Video Pilihan


Close [X]
×