Reporter: Yuliana Hema | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah emiten mulai membagikan dividen interim di tengah volatilitas pasar saham yang masih tinggi. Bagi investor, momentum tersebut menjadi salah satu peluang untuk mendapatkan tambahan imbal hasil, terutama dari saham yang menawarkan dividend yield relatif besar.
Salah satu emiten dengan dividend yield tinggi adalah PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS). Perseroan membagikan dividen interim sebesar Rp 622,93 per saham. Jika menggunakan harga penutupan Selasa (6/10/2026) di level Rp 8.550 per saham, dividend yield yang ditawarkan GEMS mencapai 7,28%.
Selanjutnya, PT Teladan Prima Agro Tbk (TLDN) berencana membayarkan dividen interim sebesar Rp 233 per saham. Dengan harga terakhir Rp 200 per saham, estimasi dividend yield TLDN mencapai 3,33%.
Dari Grup Astra, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) juga bakal membagikan dividen interim sebesar Rp 233 per saham. Jika menggunakan harga saham Rp 8.525 per saham, dividend yield AALI mencapai 2,73%.
Baca Juga: Bayan (BYAN) Ubah Perjanjian dengan Haji Isam, Saham yang Dialihkan Bertambah
Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Adrian Djie menjelaskan, pengumuman dividen interim umumnya menjadi sentimen positif karena menandakan arus kas emiten yang sehat.
Namun, dia bilang dampaknya terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) cenderung terbatas dan selektif karena kontribusi dividen interim biasanya lebih kecil dibandingkan dividen final ataupun tunai.
Pada akhir perdagangan Selasa (6/10/2026), IHSG menguat 1,21% atau naik 74,07 poin ke level 6.192,93. Penguatan tersebut menjadi kenaikan selama tiga hari perdagangan berturut-turut.
Menurut Adrian, pergerakan IHSG lebih ditentukan oleh saham berkapitalisasi besar, arus dana asing, dan kondisi makro. Selain itu, terdapat pola aksi jual setelah cum date dari pelaku pasar yang hanya mengejar dividen.
“Jadi untuk jangka menengah, dividen lebih berfungsi sebagai penyangga daripada pendorong utama reli, sementara arah IHSG tetap ditentukan prospek laba emiten dan kebijakan moneter,” jelas Adrian kepada Kontan, Selasa (6/10).
Setali tiga uang, Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menambahkan, dampak pembagian dividen interim terhadap IHSG terbatas dan lebih bersifat sebagai sentimen jangka pendek pada saham yang membagikan dividen.
Dia menjelaskan, sebagian besar dividen interim pada bulan ini justru berukuran moderat. Sebagai contoh, dividen interim ASII sebesar Rp 98 dengan estimasi yield sekitar 2,1%, sementara dividen interim UNTR sebesar Rp 430 dengan perkiraan yield 1,8%.
Baca Juga: Minat Investasi Global Naik, Pengguna Saham AS Ajaib Tumbuh 2,5 Kali
“Nilai tersebut belum cukup mengimbangi tekanan makro yang lebih dominan. Namun ini bisa menjadi penahan penurunan saham berfundamental kuat dalam jangka menengah,” ucap Abida.
Strategi Investor Menyambut Dividen Interim
Dalam menyambut musim pembagian dividen interim, Abida bilang terdapat tiga hal utama yang perlu dicermati investor.
Pertama, investor perlu menghindari pembelian saham terlalu dekat dengan cum date karena harga saham biasanya turun setara atau lebih dari nilai dividen saat ex date.
Kedua, investor sebaiknya memilih emiten yang dividennya didukung oleh laba dan arus kas berulang, bukan sekadar pembagian laba ditahan yang dilakukan sekali waktu.
Ketiga, investor perlu menghitung nilai berdasarkan total return, yakni dividen ditambah potensi kenaikan harga saham, bukan hanya berpatokan pada dividend yield.
Menurut Abida, emiten dengan kombinasi dividen konsisten dan fundamental kuat, seperti ASII dan UNTR dari Grup Astra, layak dicermati. GEMS juga layak dilirik bagi investor yang mencari yield tinggi dengan eksposur pada sektor batubara.
Baca Juga: Penjualan ICBP Tumbuh 11%, Tapi Margin Tertekan Kenaikan Bahan Baku
“Di sisi lain, emiten dengan rekam jejak dividen interim di akhir tahun seperti ITMG dan BBCA layak dipantau, meski besarannya baru pasti setelah pengumuman resmi kedepannya,” ucapnya.
Sementara itu, Adrian mengingatkan investor agar tidak membeli saham hanya demi mengejar dividen. Pasalnya, harga saham berpotensi terkoreksi sebesar nilai dividen saat ex date sehingga keuntungan bersih yang diperoleh belum tentu terealisasi.
“Fokus pada kualitas ketimbang angka yield semata, atur timing masuk sebelum cum date dengan rencana keluar atau tahan yang jelas sesuai horizon investasi,” kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














