kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.902.000   75.000   2,65%
  • USD/IDR 17.000   -49,00   -0,29%
  • IDX 7.184   136,22   1,93%
  • KOMPAS100 993   21,00   2,16%
  • LQ45 727   10,98   1,53%
  • ISSI 257   5,98   2,38%
  • IDX30 393   4,71   1,21%
  • IDXHIDIV20 487   -0,17   -0,03%
  • IDX80 112   2,02   1,84%
  • IDXV30 135   -0,77   -0,57%
  • IDXQ30 128   1,38   1,08%

Meski Harga Minyak Mentah Turun, Emiten Petrokimia Masih Dihadapkan Tantangan Berat


Senin, 12 Januari 2026 / 18:43 WIB
Meski Harga Minyak Mentah Turun, Emiten Petrokimia Masih Dihadapkan Tantangan Berat
ILUSTRASI. Pabrik Petrokimia Ciwandan Milik Chandra Asi Group Kembali Ditetapkan sebagai Objek Vital Nasional B (Dok/PT Chandra Asri Pacific Tbk)


Reporter: Dimas Andi | Editor: Noverius Laoli

Ekky juga menganggap tantangan terbesar yang dihadapi emiten lokal pada tahun ini adalah ancaman impor produk petrokimia, terutama dari China, yang memiliki kapasitas produksi besar dan kerap menawarkan harga kompetitif akibat kapasitas berlebih.

Efeknya, daya saing produk petrokimia lokal dapat terkikis, terutama untuk bahan baku plastik dan olefin yang dipasok melalui impor dalam jumlah besar.

Kondisi ini tentu dapat berdampak juga terhadap kapasitas produksi lokal jika tidak diimbangi oleh kebijakan protektif dan peningkatan efisiensi industri.

Ada beberapa strategi yang perlu diperkuat oleh emiten petrokimia pada 2026. Pertama, integrasi bisnis dari hulu ke hilir dan diversifikasi bahan baku untuk mengurangi ketergantungan pada impor naphtha sekaligus meningkatkan kontrol atas biaya.

Baca Juga: Koreksi Harga Minyak Mentah jadi Momentum Emiten Petrokimia, Begini Prospeknya!

Kedua, emiten perlu fokus pada produk bernilai tambah tinggi yang memiliki margin lebih baik dibandingkan komoditas, karena segmen ini cenderung tahan banting terhadap risiko oversupply global.

Ketiga, emiten perlu melakukan kolaborasi strategis yang dapat membuka peluang efisiensi skala dan akses pasar.

"Emiten yang memiliki kemampuan tersebut berpeluang unggul, terutama yang mampu menyesuaikan produksi dengan permintaan downstream dan memiliki skala operasi yang efisien," ungkap Ekky.

Sementara itu, Praska menyebut, emiten yang memiliki integrasi dari bahan baku ke produk petrokimia dasar berpeluang mencatat kinerja yang unggul pada tahun ini.

Dia menjagokan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) yang mendapat sentimen positif berupa dukungan dari BPI Danantara berupa kucuran investasi sebesar US$ 800 juta untuk pengembangan Pabrik Chlor Alkali-Ethylene Dichloride (CA-EDC).

Dari situ, saham TPIA dapat dicermati oleh investor untuk jangka panjang dengan target harga di level Rp 8.000 per saham.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Bergerak Volatil, Begini Dampaknya Bagi Emiten Petrokimia

Di lain pihak, Ekky menyarankan investor untuk wait and see terhadap saham-saham emiten petrokimia seperti TPIA, PT Barito Pacific Tbk (BRPT), dan PT Lotte Chemical Titan Tbk (FPNI).

Secara teknikal, ketiga saham ini sedang dalam momentum penurunan yang kuat, sehingga investor berorientasi jangka panjang bisa melakukan pembelian secara bertahap.

Selanjutnya: 70,39% Saham SCMA Dikuasai EMTK, Bagaimana Nasib Investor?

Menarik Dibaca: Peringatan Dini BMKG Cuaca Besok (13/1), Hujan Sangat Deras di Provinsi Ini

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×