kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.645.000   -15.000   -0,56%
  • USD/IDR 17.870   -65,00   -0,36%
  • IDX 5.821   -75,34   -1,28%
  • KOMPAS100 752   -12,33   -1,61%
  • LQ45 573   -10,72   -1,84%
  • ISSI 201   -1,70   -0,84%
  • IDX30 325   -6,09   -1,84%
  • IDXHIDIV20 401   -6,69   -1,64%
  • IDX80 86   -1,38   -1,59%
  • IDXV30 108   -1,25   -1,14%
  • IDXQ30 105   -1,88   -1,76%

Menilik Prospek Emiten yang Cum Dividen di Akhir Juni 2026


Senin, 29 Juni 2026 / 19:00 WIB
Menilik Prospek Emiten yang Cum Dividen di Akhir Juni 2026
ILUSTRASI. Merdeka Copper Gold (MDKA) (Dok/MDKA)


Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah emiten akan segera masuk jadwal cum dividen di akhir Juni 2026 ini.

Sejumlah emiten cum dividen di pekan ini. Di antaranya, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA), PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk (TRIM), PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP), PT Map Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA), PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO), PT Rukun Raharja Tbk (RAJA), PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA), hingga PT Gudang Garam Tbk (GGRM). 

MAPI membagikan dividen Rp 166 miliar yang setara dengan Rp 10 per saham dari buku tahun 2025. Data keuangan per 31 Desember 2025 yang mendasari pembagian dividen berasal dari laba bersih yang didapat diatribusikan kepada entitas induk senilai Rp 2.231.156.000.000.

“Lalu, saldo laba ditahan yang tidak dibatasi penggunaannya Rp 10.921.705.000.000 dan total ekuitas mencapai Rp 17.211.483.000.000,” kata Corporate Secretary MAPI Eva Andrianie dalam keterbukaan informasi, Senin (29/6/2026).

Baca Juga: Katalis Positif Chandra Asri (TPIA) Meningkat

Dengan harga Rp 1.510 per saham pada penutupan perdagangan di Senin (29/6/2026), imbal hasil dividen alias dividend yield MAPI berada di kisaran 0,66%.

INKP menebar dividen tunai Rp 410,32 miliar yang setara Rp 75 per saham dari buku tahun 2025. Per 31 Desember 2025, INKP mengantongi laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk senilai US$ 453.348.000.

“Lalu, saldo laba ditahan yang tidak dibatasi penggunaannya US$ 4.577.370.000 dan total ekuitas mencapai US$ 6.843.797.000,” kata Corporate Secretary INKP Heri Santoso dalam keterbukaan informasi, Kamis (25/6/2026). Dengan harga saat ini Rp 7.075 per saham, dividen yield INKP ada dikisaran 1,04%.

Dengan harga saham di penutupan hari ini, dividend yield BREN sekitar 0,12%, GGRM 4,85%, MDKA 0,46%, MAPA 0,67%, SSIA 0,33%, RAJA 1,78%, CLEO 0,67%, TBLA 8,82%, dan TRIM 0,18%.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta mengatakan, GGRM menjadi salah satu yang paling mencolok secara nominal karena memutuskan membagikan dividen sebesar Rp800 per saham (total Rp1,53 triliun) dari saldo laba ditahan dan laba 2025. 

“Mengingat harga saham GGRM yang mengalami tekanan dalam setahun terakhir, nominal Rp800 ini menghasilkan estimasi yield yang lumayan,” ujarnya kepada Kontan, Senin (29/6/2026).

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Brigita Kinari mengatakan, di antara emiten yang disebutkan, TBLA menawarkan dividend yield paling tinggi sekitar 8,9%, disusul GGRM sekitar 4,7%. 

Sementara itu, RAJA, INKP, MAPA, MAPI, CLEO, MDKA, SSIA, dan BREN memiliki yield yang relatif lebih rendah. Namun, perbedaan dividend yield juga mencerminkan karakteristik masing-masing emiten. 

“Emiten seperti MDKA, BREN, MAPA, MAPI, dan RAJA lebih mengedepankan strategi pertumbuhan (growth), sehingga daya tarik investasinya lebih berasal dari potensi capital gain dibandingkan dividend yield,” ujarnya kepada Kontan, Senin (29/6/2026).

Ester Mulyani, Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori mengatakan, yang paling menarik dari sisi yield adalah TBLA, dengan indikasi dividend yield sekitar 8,9%-9,2% dan GGRM sekitar 4,7%-4,9%. 

“Jadi kalau murni bicara dividen, menurut saya TBLA paling menarik dan GGRM,” katanya kepada Kontan, Senin.

Brigita bilang, prospek masing-masing emiten masih cukup beragam. MAPI dan MAPA masih menarik dari sisi fundamental karena didukung pemulihan konsumsi domestik serta ekspansi jaringan gerai yang berpotensi menopang pertumbuhan pendapatan dan laba hingga akhir tahun. 

RAJA juga memiliki prospek positif seiring meningkatnya kebutuhan infrastruktur gas bumi dan permintaan energi domestik. Di sisi lain, BREN masih ditopang tren transisi energi dan pertumbuhan aset pembangkit EBT, meskipun valuasinya relatif premium. 

MDKA berpotensi mencatatkan perbaikan kinerja seiring percepatan proyek emas Pani, pengembangan hilirisasi domestik, serta dukungan harga emas dan tembaga yang tetap tinggi, meski volatilitas harga komoditas masih menjadi risiko.

Untuk emiten lainnya, INKP akan dipengaruhi oleh pergerakan harga pulp global dan permintaan ekspor. TBLA sensitif terhadap harga CPO dan kebijakan ekspor sawit. Sementara, GGRM memperoleh sentimen positif dari tidak adanya kenaikan cukai rokok tahun ini, tetapi masih menghadapi tantangan penurunan volume industri. 

Lalu, CLEO tetap memiliki prospek pertumbuhan yang stabil melalui ekspansi kapasitas dan penetrasi pasar. Sedangkan, SSIA bergantung pada penjualan lahan industri dan realisasi investasi baru.

“Secara keseluruhan, MAPI dan MAPA adalah emiten dengan momentum fundamental yang paling konsisten tahun ini. Sementara MDKA dan RAJA menjadi emiten yang memiliki katalis pertumbuhan paling menarik hingga akhir 2026,” tuturnya.

Ester bilang, untuk prospek sisa tahun 2026, yang paling kuat secara operasional ada di BREN, MAPI/MAPA, RAJA, CLEO, dan MDKA. 

BREN membukukan pendapatan US$165 juta dan laba bersih US$53 juta di kuartal I 2026, naik sekitar 24% YoY, sehingga visibilitas bisnisnya paling stabil meskipun yield dividennya kecil. 

MAPI juga kuat, karena pendapatan kuartal I 2026 naik 32% menjadi Rp12,3 triliun dan manajemen menargetkan pertumbuhan high single digit di 2026 dengan ekspansi 550-600 gerai.

RAJA masih menarik karena story proyek baru dan ekspansi midstream, sementara CLEO masih menargetkan pertumbuhan double digit di 2026 meskipun margin 2025 tertekan biaya distribusi. 

MDKA juga mulai membaik, dengan manajemen menegaskan fondasi 2026 lebih kuat dan kuartal I 2026 ditopang emas serta nikel. 

Sebaliknya, SSIA lebih cocok sebagai recovery play, GGRM masih dibebani tantangan struktural industri rokok, INKP sangat siklikal terhadap pulp & paper, dan TRIM lebih sensitif ke aktivitas pasar modal daripada yield. 

“Jadi secara kualitas bisnis dan visibilitas yang paling baik di tahun ini adalah BREN dan MAPI. Sementara, kalau bicara kombinasi dividen dan prospek, ada di TBLA,” tuturnya.

Nafan melihat, saham-saham seperti GGRM, INKP, MAPI, dan MDKA memiliki likuiditas pasar reguler yang cukup baik, sehingga risiko kesulitan exit lebih rendah dibandingkan saham lapis ketiga yang volumenya tipis.

Baca Juga: BEI Masih Tunggu Aturan Turunan untuk Eksekusi Demutualisasi Bursa

Jika sebagai long-term investor, dividend trap jangka pendek tidak akan menjadi masalah besar karena fokus pada akumulasi lot dan kinerja emiten dalam jangka panjang. 

“Namun, bagi short-term trader, mengejar dividen dengan yield kecil di tengah tren harga saham yang sedang downtrend sangat tidak disarankan,” tuturnya.

Nafan mengingatkan, fenomena dividend trap kerap terjadi ketika harga saham mengalami penurunan tajam pada saat ex-dividend date (satu hari kerja setelah cum date). Penurunan harga ini sering kali menyamai atau bahkan lebih besar daripada nilai dividen yang diterima investor.

“Jika sebuah saham memberikan yield 4%, namun secara historis pada hari ex-date saham tersebut sering langsung terkoreksi hingga Auto Rejection Bawah (ARB), maka potensi keuntungan dividen bisa langsung tergerus oleh capital loss,” tuturnya.

Menjelang cum date, investor pun sebaiknya tidak hanya mengejar dividend yield. Hal yang perlu diperhatikan adalah potensi dividend trap, karena pada ex-date harga saham umumnya akan terkoreksi sebesar nilai dividen yang dibagikan. 

Selain itu, investor juga perlu melihat apakah dividen berasal dari pertumbuhan laba yang berkelanjutan atau hanya didorong oleh payout ratio yang tinggi. 

“Dengan demikian, kualitas fundamental dan prospek bisnis tetap menjadi pertimbangan utama dibanding hanya besarnya dividen,” ungkapnya.

Kata Ester, ada tiga hal yang perlu diperhatikan investor jelang cum dividend. Pertama, jangan dividend chasing terlalu mepet, karena setelah ex date harga biasanya menyesuaikan. 

Kedua, lihat apakah dividennya berasal dari laba yang kuat dan berulang, atau hanya payout sesaat. “Ketiga, tetap hitung potensi capital gain setelah cum date,” paparnya

Nafan pun merekomendasikan add untuk GGRM dengan target harga Rp 18.925 per saham. Brigita menyarankan beli untuk MAPI dan MDKA dengan target harga masing-masing Rp 1.600 per saham dan Rp 4.500 per saham. 

Baca Juga: Prospek Logam Industri di Semester II, Timah dan Aluminium Lebih Menjanjikan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×