kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.645.000   -15.000   -0,56%
  • USD/IDR 17.870   -65,00   -0,36%
  • IDX 5.821   -75,34   -1,28%
  • KOMPAS100 752   -12,33   -1,61%
  • LQ45 573   -10,72   -1,84%
  • ISSI 201   -1,70   -0,84%
  • IDX30 325   -6,09   -1,84%
  • IDXHIDIV20 401   -6,69   -1,64%
  • IDX80 86   -1,38   -1,59%
  • IDXV30 108   -1,25   -1,14%
  • IDXQ30 105   -1,88   -1,76%

Prospek Logam Industri di Semester II, Timah dan Aluminium Lebih Menjanjikan


Senin, 29 Juni 2026 / 18:41 WIB
Prospek Logam Industri di Semester II, Timah dan Aluminium Lebih Menjanjikan
ILUSTRASI. Lindungi Industri dan Pasar Nasional, SNI Wajib Produk Logam Perlu Ditambah (Dok/Kemenperin)


Reporter: Alya Fathinah | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek harga logam industri pada semester II-2026 diperkirakan bergerak beragam. 

Di tengah tekanan dari penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan ekspektasi suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama, harga timah dan aluminium masih memiliki ruang penguatan. Sebaliknya, nikel diperkirakan menghadapi tekanan lebih besar akibat melimpahnya pasokan global.

Berdasarkan data Trading Economics pada Senin (29/6) pukul 18.18 WIB, harga aluminium turun 1,05% secara harian dan terkoreksi 5,90% dalam sepekan menjadi US$ 3.165 per ton. Harga nikel juga melemah 1,22% dalam sehari dan turun 6,30% secara mingguan menjadi US$ 16.599 per ton.

Baca Juga: Prospek HRTA Masih Menarik, Ekspansi Gerai dan Bullion Bank Jadi Penopang

Sementara itu, timah masih mampu menguat tipis 0,34% secara harian. Namun, secara mingguan harga logam tersebut tetap terkoreksi 5,14%. Timah saat ini dibanderol seharga US$ 50.553 per ton.

Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono mengatakan pelemahan harga logam industri dalam sepekan terakhir dipicu oleh menguatnya indeks dolar AS dan ekspektasi kebijakan suku bunga tinggi Federal Reserve (The Fed). 

"Dolar AS yang kuat membuat komoditas yang dihargai dalam USD menjadi lebih mahal bagi pembeli dengan mata uang lain, sehingga menekan permintaan," ujar Wahyu kepada Kontan, Senin (29/6).

Namun, secara spesifik aluminium dan timah mengalami penguatan harian sebagai bentuk teknikal rebound setelah terkoreksi tajam dalam sepekan. 

"Timah juga masih ditopang oleh kecemasan pasar terhadap pengetatan pasokan jangka pendek," kata Wahyu.

Sementara itu, nikel mengalami tekanan harian dan mingguan akibat kekhawatiran pasar terhadap peningkatan pasokan (surplus) secara global, terutama dari ekspansi kapasitas produksi smelter di Indonesia yang terus berjalan.

Baca Juga: Bukan Lagi Bobol Sistem, Penjahat Siber Kini Incar Kelengahan Pengguna Kripto

Menurut Wahyu, secara fundamental kondisi ketiga logam mulai menunjukkan arah yang berbeda. 

Aluminium dan timah didukung oleh defisit pasokan struktural seiring meningkatnya kebutuhan dari sektor kecerdasan buatan (AI), elektronik, hingga transisi energi. Sebaliknya, pasar nikel masih dibayangi risiko surplus pasokan jangka panjang akibat terus bertambahnya kapasitas produksi, termasuk untuk nikel kelas baterai.

Untuk semester II-2026, aluminium diperkirakan bergerak stabil dengan kecenderungan menguat seiring permintaan dari industri kendaraan listrik (EV) dan proyek energi hijau. Harga aluminium diproyeksikan berada di kisaran US$ 2.800 hingga US$ 3.600 per ton.

Prospek paling positif diperkirakan datang dari timah. Defisit pasokan yang masih berlangsung dan meningkatnya kebutuhan komponen elektronik berbasis AI diperkirakan mampu menjaga harga timah pada kisaran US$ 40.000 hingga US$ 55.000 per ton.

Sementara itu, ruang kenaikan harga nikel dinilai relatif terbatas. Harga nikel diperkirakan bergerak di kisaran US$ 13.000 hingga US$ 20.000 per ton, dengan peluang penguatan yang cenderung tertahan di level US$ 17.000–US$ 18.000 per ton akibat tekanan kelebihan pasokan global.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU

[X]
×