Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kepemilikan emiten konglomerasi kembali menjadi sorotan pasca Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) merilis shareholder concentration list hingga 1%.
Asal tahu saja, rilis shareholder concentration list hingga 1% merupakan bagian dari upaya peningkatan kualitas keterbukaan data kepemilikan saham perusahaan tercatat di BEI.
Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad mengatakan, penyajian informasi ini dilakukan secara terstruktur guna memberikan gambaran yang lebih transparan mengenai struktur kepemilikan saham perusahaan tercatat kepada investor dan pemangku kepentingan.
Selanjutnya, informasi kepemilikan saham perusahaan tercatat di atas 1% ini akan disediakan oleh KSEI dan dipublikasikan setiap bulan melalui situs BEI.
Baca Juga: BEI & KSEI Rilis Kepemilikan Saham Emiten di Atas 1%, Kepercayaan Asing Bisa Kembali?
“Langkah ini merupakan bagian dari reformasi berkelanjutan dalam memperkuat transparansi dan tata kelola Pasar Modal Indonesia,” katanya, Selasa (3/3/2026).
Pejabat Sementara Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia, Jeffrey Hendrik mengatakan, Data tersebut disediakan KSEI dan dipublikasikan melalui website IDX.
Rilis shareholders concentration list ini juga merupakan salah satu poin proposal BEI-KSEI kepada MSCI.
Dari data tersebut, bisa terungkap sejumlah nama pribadi yang memegang saham emiten miliknya. Misalnya saja, Prajogo Pangestu memiliki sejumlah saham emiten Grup Barito miliknya.
Dia menggenggam saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) sebanyak 71,37%, saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) 84,1%, dan saham PT Chandra Asri Pacific (TPIA) 5,03%.
Baca Juga: BEI dan KSEI Rilis Data Kepemilikan Saham di Atas 1%, Ini Tujuannya
Mayoritas pemegang saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) juga tercatat dipegang BRPT, yang dipegang juga oleh Prajogo.
Pengamat Pasar Modal & Co-Founder Pasar Dana Hans Kwee melihat, pembukaan data itu adalah transparansi, sehingga ultimate beneficiary owners (UBO) juga terlihat.
Transparansi data yang diiringi dengan peningkatan free float menjadi 15% diharapkan juga bisa membuat transaksi menjadi lebih tinggi.
“Sehingga kepemilikan oleh investor lebih banyak, free float lebih besar, sehingga transaksi lebih besar. Kalau transaksi lebih besar, risiko likuiditas menjadi turun,” katanya kepada Kontan, Rabu (4/3/2026).
Sayangnya, pembukaan data kepemilikan hingga 1% ini membuat sejumlah pihak afiliasi mengakali data saham yang mereka genggam.
Misalnya saja yang terjadi pada emiten afiliasi Grup Aguan dan Grup Salim. Grup Salim melepas kepemilikan sahamnya pada PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK) hingga di bawah 1%.
Baca Juga: Dirut BEI Mundur, IHSG Terkoreksi Tipis di Pagi Ini (30/1)
Transaksi itu dilakukan pada 12 dan 18 Februari, sementara rilis informasi dari BEI-KSEI adalah yang terdata pada 27 Februari.
Sebelum transaksi, perusahaan afiliasi Grup Salim, PT Tunas Mekar Jaya, punya saham CBDK setara 1,37%. Setelah transaksi, saham yang digenggam tinggal 0,93%.













