Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga emas dunia mulai bergerak naik. Namun, kenaikannya masih terbatas meski tensi geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat dan harga minyak melonjak.
Melansir Trading Economics pada Rabu (22/7/2026) pukul 10.40 WIB, harga emas bertengger di level US$ 4.133,79 atau menguat 0,57% dalam sebulan terakhir tetapi melemah 4,23% sejak awal tahun (year to date/YTD).
Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, menilai salah satu faktor utama yang menahan laju harga emas adalah ekspektasi pasar bahwa suku bunga acuan Amerika Serikat (AS) akan tetap berada pada level tinggi dalam waktu yang lebih lama. Suku bunga acuan the Fed (Federal Funds Rate) saat ini berada di kisaran 3,50% hingga 3,75%.
Baca Juga: Ini Rencana Singaraja Putra (SINI) Usai Akuisisi Saham Kemilau Mulia Rp 1,73 Triliun
Menurutnya, kondisi tersebut membuat imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) dan dolar AS tetap kuat sehingga mengurangi daya tarik emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset).
Di sisi lain, meskipun konflik di Timur Tengah kembali memanas, pasar masih menilai kondisi tersebut belum mengganggu pasokan energi global secara signifikan. Akibatnya, permintaan terhadap aset safe haven memang meningkat, tetapi belum cukup besar untuk mendorong reli harga emas secara agresif.
"Investor juga masih menunggu perkembangan data ekonomi AS dan arah kebijakan Federal Reserve sebelum menambah eksposur ke emas," ujar Geraldo kepada Kontan, Selasa (21/7/2026).
Geraldo menjelaskan, kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global karena biaya energi merupakan salah satu komponen penting dalam aktivitas ekonomi.
Dalam kondisi normal, inflasi yang lebih tinggi akan mendukung permintaan emas sebagai instrumen lindung nilai (inflation hedge).
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa jika inflasi yang meningkat justru membuat bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, maka dampak positif bagi emas dapat berkurang.
Pasalnya, suku bunga yang tinggi meningkatkan opportunity cost memegang emas sehingga investor cenderung mengalihkan dananya ke aset berbunga seperti obligasi.
Karena itu, pergerakan harga emas ke depan akan ditentukan oleh keseimbangan antara meningkatnya permintaan safe haven akibat risiko geopolitik dan inflasi, dengan tekanan dari kebijakan moneter yang masih ketat.
"Selama The Fed masih mempertahankan sikap hawkish, kenaikan harga emas berpotensi berlangsung secara bertahap, bukan dalam bentuk lonjakan tajam," jelasnya.
Dari sisi strategi investasi, Geraldo menilai level harga emas saat ini mulai menarik bagi investor jangka panjang untuk melakukan akumulasi secara bertahap menggunakan strategi dollar-cost averaging (DCA).
Menurutnya, strategi tersebut lebih tepat dibandingkan menunggu harga menyentuh titik terendah yang sulit diprediksi.
Sementara bagi trader jangka pendek, ia menyarankan untuk tetap mencermati arah kebijakan suku bunga The Fed serta perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah.
"Koreksi jangka pendek masih berpeluang terjadi apabila dolar AS kembali menguat atau ekspektasi penurunan suku bunga semakin mundur," tutup Geraldo.
Baca Juga: Harta Djaya (MEJA) Siapkan Rights Issue untuk Mendukung Rencana Akuisisi
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
