kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.045.000   -77.000   -2,47%
  • USD/IDR 16.919   17,00   0,10%
  • IDX 7.577   -362,70   -4,57%
  • KOMPAS100 1.058   -52,77   -4,75%
  • LQ45 772   -33,15   -4,11%
  • ISSI 268   -15,46   -5,46%
  • IDX30 410   -16,83   -3,94%
  • IDXHIDIV20 502   -16,39   -3,16%
  • IDX80 119   -5,62   -4,51%
  • IDXV30 136   -4,86   -3,45%
  • IDXQ30 132   -4,99   -3,63%

Menilik Kepemilikan Saham Emiten Konglomerasi usai BEI Buka Data Hingga 1%


Rabu, 04 Maret 2026 / 19:04 WIB
Menilik Kepemilikan Saham Emiten Konglomerasi usai BEI Buka Data Hingga 1%


Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Noverius Laoli

Hans melihat, langkah tersebut bukan masalah besar. Meskipun para pemilik saham itu berupaya untuk mengurangi kepemilikan hingga ke bawah 1%. Namun, jika memang mereka masih mau mengakali itu, usahanya akan jauh lebih sulit.

Pengamat pasar modal sekaligus Direktur Avere Investama, Teguh Hidayat berpandangan, langkah BEI-KSEI itu tak terlalu menjamin bakal adanya transparansi dan perbaikan pasar modal.

Menurutnya, BEI-KSEI seharusnya hanya fokus pada saham yang memang terindikasi menggoreng saham. Sebab, banyak pihak yang memegang saham blue chip dengan porsi di atas 1%, tetapi tak serta merta menjadi market maker untuk emiten itu.

Baca Juga: IPO BEI Raup US$ 1,1 Miliar Sepanjang 2025, Didorong Sektor Energi dan Konsumer

“Data ini tidak membuat transparansi menjadi terbuka semua juga. Misalnya saja, dari Grup Bakrie, tidak mungkin mereka pakai nama asli, pasti pakai perusahaan cangkang,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (4/3).

Upaya rilis shareholder concentration list itu berpeluang membuka keinginan investor asing untuk masuk kembali ke pasar saham Indonesia. Sebagai gambaran, aliran dana asing sudah keluar dari pasar saham Indonesia sebanyak Rp 20,33 triliun di pasar reguler.

Sayangnya, net buy asing kemungkinan tak akan terjadi dalam waktu dekat. Sebab, banyak sentimen buruk menghantui Bursa Indonesia, seperti konflik Timur Tengah dan penurunan rating pasar Indonesia oleh lembaga pemeringkat global.

Namun, Hans menegaskan bahwa dalam beberapa waktu belakangan, net buy sudah mulai kembali tercatat lantaran ada langkah dan respons positif dari self regulatory organization (SRO) Tanah Air terkait transformasi pasar saham.

Sementara, untuk investor ritel, Hans menyarankan untuk membeli saham-saham yang porsi kepemilikannya naik ke depan. Sebab, hal itu menjadi salah satu indikator yang menunjukkan bahwa orang-orang tengah melakukan akumulasi di saham tersebut.

Baca Juga: Ini Alasan Utama BEI Membuka Data Kepemilikan Saham Hanya Hingga 1%

"Dengan adanya langkah ini, investor bisa lebih percaya diri untuk menaruh dana mereka di pasar saham dan membuat pasar menjadi lebih likuid,” tuturnya.

Teguh bilang, penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini turun pun bukan semata karena rilis shareholder concentration list, tetapi perihal penurunan rating dari lembaga pemeringkat global.

Untuk investor ritel, disarankan untuk berhenti dulu memilih saham konglomerasi dan mulai memilih emiten blue chip. “IHSG memang akan turun karena sejak awal kenaikannya karena ditopang oleh saham-saham konglomerasi itu,” paparnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026 Mastering Strategic Management for Sustainability

[X]
×