Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (27/1/2026). Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot menguat 0,08% secara harian ke Rp 16.768 per dolar AS.
Sedangkan berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah melemah 0,13% secara harian ke Rp 16.801 per dolar AS.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, Pasar berfokus terhadap pertemuan kebijakan dua hari Federal Reserve, yang dijadwalkan berakhir pada hari Rabu. Pasar secara luas memperkirakan bank sentral akan mempertahankan suku bunga tetap stabil setelah tiga kali pemotongan berturut-turut dalam pertemuan sebelumnya.
“Perselisihan Presiden AS Donald Trump dengan Ketua Fed Jerome Powell, yang telah menimbulkan kekhawatiran tentang independensi Fed dari campur tangan politik, juga akan menjadi sorotan,” ujar Ibrahim, Selasa (27/1/2026).
Baca Juga: Laba Japfa (JPFA) Berpeluang Naik Tahun Ini, Simak Rekomendasi Sahamnya
Selain itu, kekhawatiran akan penutupan pemerintahan AS kembali muncul setelah anggota Senat dari partai Demokrat berjanji untuk memblokir RUU pendanaan besar menyusul penembakan yang terjadi di Minneapolis baru-baru ini. Para anggota parlemen AS menghadapi tenggat waktu pada 30 Januari untuk menghindari Shutdown.
“Pasar prediksi Polymarket menunjukkan peluang penutupan melonjak tajam dari sekitar 8% pada hari Jumat menjadi hampir 78% pada hari Senin,” kata Ibrahim.
Ibrahim menambahkan sentimen lain yang perlu dicermati terkait pembiayaan utang. Pemerintah diprediksi akan menghadapi tantangan berat dalam memenuhi kebutuhan pembiayaan utang pada 2026. Meski target pembiayaan utang netto dalam RAPBN 2026 tercatat sebesar Rp 832,21 triliun, kebutuhan untuk menarik utang baru secara bruto jauh lebih besar, yakni mencapai Rp 1.650 triliun.
“Angka tersebut meliputi kebutuhan untuk menutup defisit anggaran dan, yang lebih signifikan, untuk melunasi pokok utang lama yang jatuh tempo pada tahun berjalan,” ucap Ibrahim.
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan, rupiah menguat terhadap dolar AS oleh meredanya sentimen negatif seputar independensi BI, dengan investor mengalihkan fokus pada FOMC besok.
“Penguatan rupiah juga diperkirakan oleh intervensi BI,” ujar Lukman kepada Kontan, Selasa (27/1/2026).
Lukman memperkirakan bahwa rupiah akan berkonsolidasi dengan investor terus memantau posisi dolar AS yang masih dalam tekanan sentimen sell-America, dan tentunya FOMC besok.
Ibrahim memperkirakan rupiah pada Rabu (28/1) bergerak fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 16.760 – Rp 16.790 per dolar AS. Sedangkan Lukman memproyeksikan rupiah pada Rabu (28/1) bergerak di kisaran Rp 16.700 – Rp 16.800 per dolar AS.
Baca Juga: Kantongi Lisensi, Solusi Sinergi (WIFI) Siap Luncurkan IRA Internet Rakyat
Selanjutnya: Tanpa Pengendalian, Penyaluran LPG 3 Kg Bisa Jebol Hingga 8,7 Juta Ton di 2026
Menarik Dibaca: Mulai 1 Februari, Citilink Layani Rute Jakarta-Tanjung Pinang 7 Kali Seminggu
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












