Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah ditutup menguat tipis usai Bank Indonesia (BI) memutuskan menahan suku bunga acuan di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Rabu (21/1/2026).
Rupiah spot ditutup pada level Rp 16.936 per dolar Amerika Serikat (AS) di akhir perdagangan Rabu (21/1/2026), menguat 0,12% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 16.956 per dolar AS.
Sementara Rupiah di Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) ada di level Rp 16.963 per dolar AS, menguat 0,11% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 16.981 per dolar AS.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, & Komoditas, Ibrahim Assuaibi menilai, penguatan rupiah tidak lepas dari kombinasi sentimen global dan domestik.
Baca Juga: Rupiah Menguat Tipis Usai BI Tahan Suku Bunga, Cek Proyeksinya Kamis (22/1)
Dari sisi eksternal, pasar masih dibayangi meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa terkait isu Greenland.
“Pentingnya strategi Greenland memicu ketegangan baru antara AS dan Uni Eropa. Presiden AS Donald Trump menegaskan tidak ada jalan mundur terkait Greenland dengan alasan keamanan Arktik, bahkan mengancam pengenaan tarif terhadap negara-negara Eropa," jelas Ibrahim, Rabu (21/1/2026).
Menurutnya, hal ini memperburuk sentimen pasar yang sebelumnya sudah tertekan oleh risiko perdagangan global.
Baca Juga: BI Rate Ditahan, Rupiah Spot Menguat 0,12% ke Rp 16.936 per Dolar AS, Rabu (21/1)
Sementara dari dalam negeri, sentimen datang dari kebijakan fiskal pemerintah.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pelebaran defisit fiskal APBN 2025 ke level 2,92% atau mendekati 3% merupakan langkah yang disengaja sebagai strategi countercyclical untuk mendorong pemulihan ekonomi nasional.
“Kebijakan fiskal yang lebih ekspansif ini menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah serius membalikkan tren perlambatan ekonomi yang membayangi sepanjang 2025,” ujar Ibrahim.
Di sisi moneter, meskipun BI mempertahankan suku bunga acuan pada Januari ini, bank sentral tetap menegaskan bahwa ruang penurunan suku bunga masih terbuka.
Namun, pelonggaran kebijakan tersebut akan tetap mempertimbangkan proyeksi inflasi 2026 yang berada dalam sasaran 4,5% plus minus 1%.
Untuk pergerakan rupiah pada Kamis (22/1/2026), Ibrahim memperkirakan rupiah masih akan bergerak di kisaran Rp 16.930 hingga Rp 16.950 per dolar AS.
Baca Juga: Rupiah Dibuka Menguat Tipis ke Rp 16.953 Per Dolar AS, Mata Uang Asia Bervariasi
Selanjutnya: Kinerja Saham Big Banks Melemah, BBCA Catat Penurunan Terdalam Rabu (21/1)
Menarik Dibaca: Pantau 5 Kripto Top Gainers 24 Jam Terakhir, LayerZero Memimpin
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













