kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.615.000   -20.000   -0,76%
  • USD/IDR 18.110   -15,00   -0,08%
  • IDX 6.040   1,68   0,03%
  • KOMPAS100 789   0,53   0,07%
  • LQ45 599   -3,49   -0,58%
  • ISSI 210   2,97   1,43%
  • IDX30 339   -1,95   -0,57%
  • IDXHIDIV20 422   -0,99   -0,24%
  • IDX80 90   0,01   0,01%
  • IDXV30 116   1,09   0,96%
  • IDXQ30 109   -0,38   -0,35%

Menakar Valuasi Saham Indonesia Usai Pengumuman Positif S&P


Selasa, 14 Juli 2026 / 19:11 WIB
Menakar Valuasi Saham Indonesia Usai Pengumuman Positif S&P
ILUSTRASI. Bagi pasar saham, keputusan S&P Global Ratings dapat membantu menurunkan sovereign risk premium dan membuka ruang rebound atau re-rating IHSG. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Yuliana Hema | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali bergairah usai pengumuman Standard & Poor's (S&P) Global Ratings. Pada akhir perdagangan Selasa (14/7), IHSG menguat 0,03% ke level 6.039,52. 

S&P mempertahankan Sovereign Credit Rating Indonesia pada level BBB dengan Outlook Stabil. Menurut lembaga rating global itu, pelemahan kondisi fiskal Indonesia saat ini bersifat sementara. 

Mereka menyebut pelemahan kondisi tersebut utamanya dipicu oleh kenaikan harga energi, tingginya suku bunga kebijakan global serta akumulasi utang pasca pandemi. Bahkan, S&P optimistis terhadap prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia. 

Pasalnya, keputusan S&P berbeda dengan dua lembaga pemeringkat global utama lainnya, yakni Fitch dan Moody's, yang sama-sama mempertahankan peringkat investment grade Indonesia tetapi dengan prospek negatif. 

Baca Juga: BEI Seleksi 171 Saham Jumbo, 37 Emiten Terindikasi Saham Terkonsentrasi Tinggi (HSC)

Fitch menyoroti meningkatnya ketidakpastian kebijakan, melemahnya bauran kebijakan, serta risiko bahwa target pertumbuhan ekonomi dan program sosial yang ambisius dapat menggerus disiplin fiskal maupun ketahanan sektor eksternal.

Di sisi lain, lembaga pemeringkat asal Amerika Serikat, Moody's mencermati penurunan prediktabilitas kebijakan dan kualitas tata kelola berpotensi melemahkan stabilitas makroekonomi apabila tidak segera diatasi. 

Chief Economist & Head of Research Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto menyampaikan pihaknya sejalan dengan pandangan Fitch dan Moody’s terkait bauran kebijakan dan tata kelola, meski tetap mengakui kuatnya fundamental neraca yang disoroti S&P. 

“Risiko utama bukanlah hilangnya status investment grade dalam waktu dekat, tetapi pertumbuhan ekonomi yang berpotensi lebih lemah dalam jangka panjang serta meningkatnya premi risiko apabila arah kebijakan tetap tidak jelas,” tulisnya dalam riset yang dirilis, Selasa (14/7/2026). 

Rully bilang kenaikan suku bunga oleh Bank Indonesia belakangan ini juga belum mampu menstabilkan nilai tukar rupiah secara meyakinkan di tengah sikap kebijakan yang masih ambigu antara menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi. 

Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata menambahkan keputusan S&P ini merupakan sentimen positif karena menghilangkan satu risiko besar yang sebelumnya membayangi pasar. 

“Bagi pasar saham, keputusan tersebut dapat membantu menurunkan sovereign risk premium dan membuka ruang rebound atau re-rating IHSG,” katanya kepada Kontan, Selasa (14/7/2026). 

Liza bilang valuasi saham Indonesia kini sudah berada pada level valuasi yang sangat murah setelah koreksi tajam pada semester I-2026. Bahkan, sejumlah saham yang sempat menjadi bagger di 2025 kembali ke area bottom bahkan mendekati di 2026. 

Baca Juga: Pemerintah Minta Pasokan Batubara PLN Ditambah, Begini Prospek Emiten Sektor Batubara

Dalam kondisi seperti ini, Liza mencermati smart money sebenarnya mungkin sudah mulai melakukan akumulasi secara perlahan walau mungkin bukan dengan bendera asing. 

“Investor asing masih membutuhkan konfirmasi tambahan dari stabilitas Rupiah, perbaikan arus dana dan konsistensi kebijakan sebelum meningkatkan eksposur secara signifikan,” kata dia. 

Head of Equity Research BRI Danareksa Sekuritas Erindra Krisnawan menjelaskan saat ini IHSG diperdagangkan pada valuasi forward price-to-earnings (P/E) sebesar 9,1 kali, atau sekitar 2,6 standar deviasi di bawah rata-rata 10 tahun sebesar 14,8 kali. 

Erindra bilang angka itu lebih rendah dibandingkan asumsi valuasi 10 kali yang BRI Danareksa gunakan dalam analisis, ketika earnings yield spread terhadap obligasi pemerintah sudah setara dengan periode-periode tekanan pasar sebelumnya. 

Pada level IHSG saat ini, BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan pasar mengasumsikan pertumbuhan laba emiten pada tahun fiskal 2027 sekitar minus 7% dengan asumsi equity risk premium yang kembali normal di level 300 bps di atas imbal hasil SBN 10 tahun saat ini sebesar 7,24%. 

Lebih lanjut, BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan target IHSG akhir 2026 di level 7.200. Erindra bilang target tersebut didasarkan pada dua asumsi yang kami nilai cukup konservatif.

Pertama, BRI Danareksa menggunakan asumsi pertumbuhan laba per saham (EPS) IHSG pada tahun buku 2027 sebesar 8%, lebih rendah dibandingkan proyeksi bottom-up BRIDS sebesar 14%. 

“Kedua, asumsi valuasi dalam target kami menggunakan forward P/E sebesar 10 kali, yang masih tergolong murah secara historis karena berada sekitar 2,2 standar deviasi di bawah rata-rata 10 tahun sebesar 14,8 kali,” jelas Erindra. 

Dia bilang apabila IHSG tetap diperdagangkan pada valuasi 9,1 kali forward P/E dan pertumbuhan laba sebesar 8% benar-benar terealisasi, indeks masih berpotensi mencapai sekitar 6.520. 

Sementara itu, Liza menjelaskan secara keseluruhan, afirmasi S&P memperkuat peluang IHSG menuju target Kiwoom di kisaran 7.000–7.200 pada akhir 2026 tetapi tidak menjalin rally akan berlangsung lurus tanpa volatilitas. 

Saham pilihan Kiwoom Sekuritas untuk semester dua tahun ini ialah BBRI, BBNI, ANTM, INCO, JPFA, KLBF, JSMR, MTEL, PANI. Namun Liza menegaskan pemilihan saham tetap harus selektif karena saham murah belum tentu langsung menguat. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Teori, Strategi & Taktik Penagihan Kredit/ Piutang Macet Secara Dini & Terintegrasi Serta Efisien & Efektif

[X]
×