Reporter: Dimas Andi | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga saham emiten-emiten pendatang baru di Bursa Efek Indonesia (BEI) bergerak cukup bervariasi seiring volatilitasnya yang tergolong tinggi. Investor pun diminta hati-hati jika hendak berinvestasi pada saham-saham Initial Public Offering (IPO).
Sebagai informasi, pekan lalu ada enam saham IPO yang resmi tercatat di bursa. Di antaranya, adalah PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX) dan PT Niramas Utama Tbk (JELI) yang listing pada 7 Juli 2026, kemudian ada PT Bach Multi Global Tbk (BACH) dan PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI) pada 8 Juli 2026. Setelah itu, ada PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) pada 9 Juli 2026 dan PT Rans Entertainment Indonesia Tbk (RANS) pada 10 Juli 2026.
Jika ditelusuri, saham JECX yang memiliki harga IPO Rp 1.250 per saham, sempat melesat ke level Rp 1.950 per saham pada 8 Juli 2026. Namun, setelah itu, harga saham JECX terus melorot hingga 32,05% dalam lima hari terakhir ke level Rp 1.325 per saham pada Selasa (14/7/2026).
Saham JELI juga sempat melonjak dari harga IPO di level Rp 900 per saham ke level Rp 2.190 per saham pada awal perdagangan Jumat (10/7). Namun, saham JELI terus terkoreksi. Jika ditarik dalam lima hari terakhir, harga saham JELI telah terkikis 22,78% ke level Rp 1.085 per saham hingga Selasa (14/7/2026).
Saham BACH terpantau mengalami kenaikan 22,43% dari harga IPO di level Rp 442 per saham menjadi level Rp 550 per saham pada Selasa (14/7/2026). Namun, dalam perjalanannya, saham BACH juga sempat bergerak volatil.
Baca Juga: Serapan Dana IPO yang Tinggi Jadi Sentimen Positif bagi Investor
Berikutnya, saham EMMI yang memiliki harga IPO di level Rp 470 per saham sempat melonjak ke level Rp 580 per saham pada perdagangan intraday Jumat (10/7/2026) lalu. Setelah itu, harga saham emiten ini longsor hingga kembali ke level Rp 470 per saham pada Selasa (14/7).
Nasib baik dialami oleh saham PRDL. Dengan harga IPO di level Rp 120 per saham, saham emiten ini terus melesat hingga mencapai 183,33% ke level Rp 340 per saham pada Selasa (14/7/2026).
Saham RANS juga melompat 34,12% dari harga IPO di level Rp 170 per saham ke level Rp 228 per saham pada perdagangan perdana hari Jumat (10/7/2026). Pada penutupan perdagangan Selasa (14/7/2026), harga saham RANS berada di level Rp 218 per saham atau naik 28,24% dari harga saat IPO. Namun, saham RANS tetap saja bergerak liar. Bahkan, awal perdagangan hari ini saham emiten tersebut sempat jatuh ke level Rp 187 per saham.
Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia (UI) Budi Frensidy mengatakan, volatilitas pergerakan harga saham-saham IPO pada beberapa hari awal perdagangan di bursa merupakan hal yang wajar. Sebab, harga saham emiten tersebut masih berada dalam tahap price discovery atau penentuan harga wajar, sementara jumlah saham yang beredar (free float) umumnya masih terbatas.
“Alhasil, transaksi dalam jumlah relatif kecil dapat menggerakkan harga saham secara signifikan,” kata dia, Selasa (14/7/2026).
Selain itu, faktor spekulasi, aksi ambil untung, ekspektasi investor, serta likuiditas yang belum stabil juga membuat pergerakan harga saham IPO menjadi sangat tajam. Dari itu, kenaikan atau penurunan harga saham pada awal IPO belum tentu mencerminkan nilai fundamental emiten yang bersangkutan.
Volatilitas tinggi biasanya terjadi dalam beberapa hari hingga beberapa minggu pertama setelah pencatatan perdana, meskipun pada sebagian saham dapat berlangsung lebih lama. Setelah euforia mereda, harga saham IPO umumnya mulai lebih dipengaruhi oleh kinerja fundamental, laporan keuangan, prospek bisnis, likuiditas perdagangan, dan kondisi pasar secara keseluruhan.
Baca Juga: Saham JELI Mentok ARA Dua Hari Beruntun, Dana IPO Difokuskan untuk Inovasi Produk
“Saham IPO yang memiliki fundamental kuat tetap berpeluang menarik untuk investasi jangka panjang,” tutur Budi.
Sementara itu, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi mengatakan, volatilitas harga saham IPO usai pencatatan perdana merupakan hal yang wajar, bukan sebuah anomali.
Dia mencontohkan, lonjakan harga saham PRDL cukup dipengaruhi oleh melepas porsi saham yang terbilang kecil, sehingga antrean pembelian masih panjang saat listing. Ada pula EMMI dan BACH mencatat tingkat oversubscribe yang jauh lebih rendah, sehingga jumlah saham yang beredar di pasar lebih besar dan tekanan jual dari investor yang melakukan profit taking lebih dominan dibandingkan permintaan.
Wafi juga menilai, volatilitas tinggi saham-saham IPO biasanya terjadi selama 2—8 pekan sampai tahap price discovery selesai dan pembeli berwawasan fundamental datang untuk menggantikan trader spekulatif.
“Katalis kunci dalam waktu dekat adalah laporan keuangan pertama sebagai emiten publik pada kuartal III-2026 yang harus bisa deliver sesuai panduan di prospektus,” kata dia, Selasa (14/7/2026).
Baca Juga: Hari Ini (8/7) Perdagangan Perdana IPO Saham EMMI, Ada Potensi Sentuh ARA
Budi menyarankan, investor sebaiknya tidak membeli saham IPO jika hanya merasa takut ketinggalan momentum atau fear of missing out (FOMO). Bakal jauh lebih bijaksana apabila investor menunggu hingga volatilitas harga mulai mereda dan valuasi lebih mencerminkan kondisi fundamental emiten.
Bagi investor yang sudah telanjur membeli saham IPO namun berada dalam posisi “nyangkut”, keputusan mempertahankan atau menjual saham sebaiknya didasarkan pada prospek bisnis emiten atau bukan semata-mata pergerakan harga harian.
Jika prospek fundamental memburuk atau risiko sudah melampaui batas toleransi, maka langkah cut loss merupakan keputusan yang wajar sebagai bagian dari disiplin manajemen risiko oleh investor.
Wafi mengingatkan agar investor menghindari membeli saham IPO pada saat pembukaan pasar jika harganya sudah melonjak tinggi. Bagi investor yang sudah terlanjur masuk, maka mereka perlu evaluasi kembali apakah rencana investasi awal masih tetap berlaku atau berubah.
“Upaya cut loss tidak memalukan, karena menahan posisi rugi tanpa thesis yang jelas jauh lebih mahal,” tandas dia.
Baca Juga: Resmi Melantai di BEI, Harga Saham JELI dan JECX Langsung Mentok ARA
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














