kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.615.000   -20.000   -0,76%
  • USD/IDR 18.116   -9,00   -0,05%
  • IDX 6.075   36,77   0,61%
  • KOMPAS100 793   4,42   0,56%
  • LQ45 601   -0,89   -0,15%
  • ISSI 210   3,13   1,51%
  • IDX30 340   -0,74   -0,22%
  • IDXHIDIV20 422   -1,12   -0,26%
  • IDX80 90   0,38   0,43%
  • IDXV30 115   0,54   0,47%
  • IDXQ30 109   -0,16   -0,15%

S&P Pasang Rating Investment Grade RI, Mirae: Ekonomi Tumbuh 6% Terlalu Optimistis


Selasa, 14 Juli 2026 / 12:04 WIB
S&P Pasang Rating Investment Grade RI, Mirae: Ekonomi Tumbuh 6% Terlalu Optimistis
ILUSTRASI. IHSG Melemah-Suasana di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lembaga pemeringkat global S&P Global Ratings mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB (investment grade) dengan prospek stabil. Keputusan ini menunjukkan keyakinan S&P bahwa pelemahan fiskal Indonesia saat ini masih bersifat sementara, meski sejumlah risiko ekonomi tetap perlu diwaspadai.

Sikap S&P tersebut berbeda dengan dua lembaga pemeringkat global lainnya, yakni Fitch Ratings dan Moody’s Ratings, yang masih mempertahankan status investment grade Indonesia namun memberikan prospek negatif.

Dalam penilaiannya, S&P melihat tekanan fiskal Indonesia terutama dipengaruhi oleh kenaikan harga energi, meningkatnya suku bunga global, serta akumulasi utang pascapandemi. Menurut S&P, kondisi tersebut belum mencerminkan pelemahan struktural yang mengkhawatirkan.

Baca Juga: Bulog Serap 3,4 Juta Ton Beras, Baru Capai 85% Target Pengadaan Nasional

Meski demikian, S&P tetap mencermati sejumlah risiko, terutama potensi peningkatan beban utang dan pembayaran bunga secara berkelanjutan serta melemahnya kinerja ekspor secara struktural.

Di sisi pertumbuhan, S&P menunjukkan optimisme tinggi terhadap prospek ekonomi Indonesia. Lembaga tersebut memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,2% pada 2026, kemudian meningkat menjadi 5,5% pada 2027, 5,9% pada 2028, dan mencapai 6,3% pada 2029.

Berbeda dengan S&P, Fitch menyoroti meningkatnya ketidakpastian kebijakan, melemahnya kombinasi kebijakan (policy mix), serta risiko program pertumbuhan dan sosial pemerintah yang terlalu ambisius dapat mengurangi disiplin fiskal dan mempersempit cadangan eksternal.

Sementara itu, Moody’s lebih menekankan risiko penurunan kepastian kebijakan dan kualitas tata kelola yang berpotensi mengganggu stabilitas makroekonomi apabila tidak segera diperbaiki.

Analis Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto dalam riset Selasa 14 Juli 2026 menilai posisi Indonesia masih memiliki sejumlah kekuatan fundamental, terutama dari sisi kemampuan menjaga rasio utang dan ketahanan eksternal. Namun, ia melihat jalur pertumbuhan ekonomi yang diproyeksikan S&P menuju level 6% masih terlalu optimistis.

“Kami sepakat bahwa kondisi utang dan metrik eksternal Indonesia masih berada dalam level yang terkendali, serta aturan batas defisit fiskal 3% terhadap PDB tetap menjadi jangkar penting. Namun, percepatan pertumbuhan menuju 6% terlihat cukup menantang di tengah kenaikan suku bunga yang agresif, pelemahan rupiah, inflasi yang lebih tinggi, serta tanda-tanda pelemahan permintaan domestik,” ujar Rully.

Baca Juga: S&P Proyeksikan Ekonomi RI Tumbuh 5% hingga 2029, Tapi Ada Risiko Kebijakan

Menurutnya, komitmen pemerintah untuk menjaga defisit anggaran tetap di bawah batas 3% PDB juga akan membatasi ruang fiskal dalam memberikan stimulus tambahan.

Rully menilai pandangan Mirae Asset saat ini lebih dekat dengan kekhawatiran Fitch dan Moody’s terkait arah kebijakan serta tata kelola, meski tetap mengakui kekuatan neraca ekonomi Indonesia seperti yang disampaikan S&P.

Menurut dia, risiko utama bukan terletak pada kemungkinan kehilangan status investment grade dalam waktu dekat, melainkan potensi perlambatan pertumbuhan yang berkepanjangan serta meningkatnya premi risiko apabila sinyal kebijakan pemerintah tetap tidak jelas.

“Kenaikan suku bunga Bank Indonesia sejauh ini belum secara meyakinkan menstabilkan rupiah di tengah posisi kebijakan yang masih terlihat ambigu antara menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan,” kata Rully.

Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, Mirae Asset Sekuritas memilih mempertahankan strategi investasi yang lebih defensif. Untuk pilihan saham, Rully menyebut BBCA, EXCL, dan JPFA sebagai saham unggulan yang menjadi rekomendasi utama.

“Investor perlu mencermati risiko kebijakan dan menjaga eksposur pada sektor maupun emiten dengan fundamental yang kuat serta kemampuan menghadapi volatilitas makro,” tutup Rully.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Teori, Strategi & Taktik Penagihan Kredit/ Piutang Macet Secara Dini & Terintegrasi Serta Efisien & Efektif

[X]
×