kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45845,50   -13,12   -1.53%
  • EMAS1.347.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Market Cap Lima Emiten Prajogo Pangestu Mencapai Hampir Seperlima Bursa Saham


Sabtu, 18 Mei 2024 / 07:30 WIB
Market Cap Lima Emiten Prajogo Pangestu Mencapai Hampir Seperlima Bursa Saham
ILUSTRASI. Market cap gabungan dari lima saham Praogo Pangestu menyentuh Rp 2.455,62 triliun.


Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten milik grup konglomerasi masih menguasai Bursa Efek Indonesia (BEI). Sejumlah saham Prajogo Pangestu berhasil menembus rekor harga tertinggi (all time high) pada pekan ini. 

PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) masih membetot perhatian publik dengan level harga yang sudah menyentuh Rp 10.750 per saham. BREN kokoh di puncak emiten dengan kapitalisasi pasar (market cap) terbesar di BEI, senilai Rp 1.438,20 triliun.

Saudara sekandung BREN, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) ikut melejit dan menjadi emiten dengan market cap terbesar ketiga senilai Rp 787,26 triliun. Lompatan harga juga dialami tiga saham Prajogo Pangestu lainnya: PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) dan PT Petrosea Tbk (PTRO).

Hitungan Kontan.co.id, market cap gabungan dari lima saham Praogo Pangestu ini menyentuh Rp 2.455,62 triliun. Jumlah itu setara dengan 19,77% atau hampir seperlima dari total market cap emiten BEI sebesar Rp 12.420 triliun hingga akhir pekan ini. 

Lonjakan signifikan saham-saham tersebut menjadikan Prajogo sebagai konglomerat dengan peningkatan harta tertinggi di dunia. Menurut catatan Forbes, kekayaan totalnya mencapai US$ 70,6 miliar atau setara dengan Rp 1.126,42 triliun, mengikuti asumsi kurs Rp 15.960 per dolar Amerika Serikat.

Selain merajai puncak konglomerat terkaya di Indonesia, Prajogo Pangestu juga meroket sebagai salah satu taipan tersohor di seluruh dunia, menempati posisi ke-23 dalam daftar para magnat kekayaan global. Kelimpahan keuntungan Prajogo juga turut mempengaruhi pergerakan pasar saham, terutama tercermin dalam lonjakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Baca Juga: Wall Street Menguat Tipis, Harapan Penurunan Suku Bunga Mengerek Pasar Saham

Dengan bobot yang signifikan, kenaikan saham-saham milik Prajogo secara dramatis mengerek IHSG, yang pada pekan ini mencatatkan kenaikan sebesar 3,22% ke puncak 7.317,23. Lonjakan gemilang saham-saham Prajogo ini juga membawa angin segar bagi konglomerasi-konglomerasi lainnya di kancah bursa.

Meskipun demikian, tanpa memperhitungkan perusahaan-perusahaan pelat merah, Bursa Efek Indonesia (BEI) masih didominasi oleh sejumlah perusahaan dari konglomerat-konglomerat tertentu. Di antara perusahaan-perusahaan dengan kapitalisasi pasar tertinggi, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dari Grup Djarum menempati posisi kedua, disusul oleh PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) milik Grup Salim.

Selanjutnya, PT Bayan Resources Tbk (BYAN) yang dimiliki oleh Low Tuck Kwong, dan PT Astra International Tbk (ASII) dari Grup Astra masih bertahan dalam daftar sepuluh besar kapitalisasi pasar BEI.

Ratih Mustikoningsih, Pakar Keuangan dari Ajaib Sekuritas, memperhatikan bahwa rotasi saham di antara perusahaan-perusahaan dengan kapitalisasi pasar tertinggi telah cukup fluktuatif sejak April 2024. Saham-saham bank besar mengalami penurunan akibat aksi ambil untung dan kinerja yang kurang sesuai harapan. "Pergeseran dalam kapitalisasi pasar bank-bank besar terjadi setelah dominasi yang panjang," kata Ratih kepada Kontan.co.id pada Jumat (17/5).

Sementara itu, saham-saham milik Prajogo terus menanjak. Sentimen positif yang mendukung termasuk aksi akuisisi dan inklusi TPIA sebagai konstituen baru dalam Indeks Standar Global Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Baca Juga: IHSG Melesat 3,22% Sepekan, Dana Asing Mulai Masuk Lagi

Cheril Tanuwijaya, Kepala Riset Mega Capital Sekuritas (InvestasiKu), menyatakan bahwa rotasi kapitalisasi pasar sering kali dipengaruhi oleh sentimen terkini. Selain itu, branding Prajogo sebagai orang terkaya di Indonesia dan keanggotaannya dalam jajaran konglomerat global turut menarik minat pasar terhadap saham-sahamnya.

William Hartanto, Pengamat Pasar Modal & Pendiri WH-Project, juga setuju bahwa sentimen yang berkaitan dengan konglomerat yang sedang bersinar bisa membawa optimisme secara psikologis. Dia juga mencatat adanya kecenderungan bahwa kenaikan harga saham satu perusahaan dalam grup konglomerasi akan mendongkrak harga saham lainnya dari grup yang sama.

Namun demikian, William mengingatkan bahwa pelaku pasar tetap harus waspada karena lonjakan harga saham dan kapitalisasi pasar tidak selalu mencerminkan kinerja fundamental perusahaan. "Penguatan yang signifikan tersebut dapat menghasilkan valuasi yang mahal melebihi kinerja emiten itu sendiri. Meskipun IHSG terdongkrak, namun akan ada rotasi berikutnya dalam waktu yang tidak lama," ungkap William.

Emil Fajrizki, Analis dari Stocknow.id, menambahkan bahwa pelaku pasar perlu berhati-hati karena lonjakan harga saham dari satu grup konglomerasi dapat memicu euforia yang menyebabkan spekulasi. Oleh karena itu, manajemen risiko yang disiplin sangat diperlukan karena potensi koreksi akibat ambil untung bisa terjadi dengan luas.

Emil juga menyoroti bahwa ketahanan perusahaan dalam menjaga stabilitas kinerja dan posisi kapitalisasi pasar akan terlihat dari strategi bisnis grup tersebut. Grup yang memiliki portofolio bisnis yang terdiversifikasi di berbagai sektor akan memiliki prospek yang lebih menarik.

Baca Juga: Menilik Peluang Investasi di Bursa Asing

Sementara dalam momentum pasar saat ini, Emil menyarankan untuk mencermati peluang buy on weakness pada saham BRPT. Menurut Emil, BRPT punya prospek yang menarik dengan sokongan dari dua anak usahanya, TPIA dan BREN.

Sedangkan Cheril mengingatkan valuasi saham Grup Barito yang sudah mahal. Sebagai pilihan investasi, Cheril lebih menyarankan BBCA dari Grup Djarum atau PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dari BUMN. Target harga masing-masing di Rp 10.500 dan Rp 5.900.

Di jajaran top market cap, Ratih juga melirik saham dari BUMN yakni BBRI dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) dengan target harga Rp 5.200 dan Rp 3.200. Sedangkan dari grup konglomerasi, Ratih menyarankan wait and see terhadap saham TPIA.

Target harga yang bisa dipertimbangkan untuk TPIA ada di resistance Rp 9.500 dan support di Rp 8.500. Sementara itu, William menyematkan rekomendasi buy saham BRPT, BBCA dan PT United Tractors Tbk (UNTR) dari grup Astra. 

Selanjutnya: GSK Lepas Seluruh Sisa Saham di Haleon Senilai £ 1,25 Miliar

Menarik Dibaca: Resep Praktis Bikin Jasuke Manis untuk Camilan di Akhir Pekan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Omzet Meningkat dengan Digital Marketing #BisnisJangkaPanjang, #TanpaCoding, #PraktekLangsung Negotiation For Everyone

[X]
×