Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Indah Prakasa Sentosa Tbk (INPS) membukukan laba tahun berjalan sebesar Rp 14,65 miliar pada kuartal III-2026, melonjak 417,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 2,83 miliar. Pertumbuhan laba ini sejalan dengan peningkatan pendapatan serta penurunan beban bunga pinjaman bank.
INPS mencatat pendapatan sebesar Rp 299,71 miliar hingga September 2026. Angka tersebut tumbuh 61,4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 185,65 miliar.
Pertumbuhan pendapatan terutama ditopang lini keagenan bahan bakar minyak (BBM) dan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) yang meningkat 103,7% menjadi Rp 193,48 miliar dari Rp 95 miliar. Kenaikan ini turut dipengaruhi harga jual BBM industri yang lebih tinggi sejalan dengan pergerakan harga minyak dunia.
Baca Juga: Rupiah Ditutup Melemah Rp 18.147 Per Dolar AS Hari Ini (30/10), Asia Menguat
Sejumlah lini usaha lainnya juga mencatat pertumbuhan. Pendapatan keagenan gas naik 28,6% menjadi Rp 21,22 miliar, pelumas tumbuh 30,8% menjadi Rp 11,41 miliar, transportasi dan logistik meningkat 12,2% menjadi Rp 65,93 miliar, serta SPPBE naik 15% menjadi Rp 7,68 miliar.
Seiring kenaikan pendapatan, laba bruto INPS tumbuh 31,7% menjadi Rp 53,19 miliar. Namun, margin laba bruto menyusut menjadi 17,7% dari 21,8% pada kuartal III-2025. Hal ini dipengaruhi pergeseran komposisi pendapatan ke lini keagenan BBM yang memiliki margin lebih tipis.
Di sisi lain, beban usaha meningkat lebih lambat dibandingkan pertumbuhan pendapatan, yakni sebesar 15,2% menjadi Rp 35,36 miliar. Kondisi tersebut mendorong laba usaha INPS naik 84,2% menjadi Rp 17,83 miliar, dengan margin laba usaha meningkat menjadi 5,9% dari 5,2%.
Selain perbaikan kinerja operasional, penurunan beban bunga turut menopang laba perusahaan. Beban bunga pinjaman bank turun menjadi Rp 2,50 miliar dari Rp 7,80 miliar pada kuartal III-2025.
Penurunan tersebut merupakan dampak restrukturisasi fasilitas kredit PT Bank Mandiri (Persero) Tbk pada akhir 2025. Saat itu, fasilitas kredit INPS sebesar Rp 59,88 miliar dialihkan kepada entitas anak, PT Ekatama Raya, dengan tenor 72 bulan dan bunga 6% hingga 8% per tahun yang pembayarannya ditangguhkan sampai jatuh tempo. Sementara itu, kewajiban bunga dan denda dialihkan kepada PT Nusantara Nuraga melalui perjanjian novasi kredit.
Baca Juga: Bisnis Non-Batubara Topang Kinerja TOBA hingga Kuartal III-2026
Dari sisi neraca, total liabilitas INPS per 30 September 2026 tercatat Rp 207,88 miliar, turun 14,7% atau Rp 35,84 miliar dibandingkan posisi akhir 2025. Penurunan ini antara lain ditopang pelunasan pinjaman kepada PT Perusahaan Pengelola Aset sebesar Rp 16,49 miliar pada Februari 2026 serta pembayaran pokok pinjaman bank sebesar Rp 5,50 miliar.
Total ekuitas perusahaan masih mencatat defisiensi modal sebesar Rp 36,54 miliar. Meski demikian, posisi tersebut membaik dibandingkan defisiensi modal Rp 51,20 miliar pada 31 Desember 2025, sejalan dengan laba yang dibukukan sepanjang periode berjalan.
Sementara itu, arus kas bersih dari aktivitas operasi tercatat negatif Rp 4,83 miliar, berbalik dari positif Rp 11,26 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Kondisi ini antara lain dipengaruhi kenaikan piutang usaha pihak ketiga sebesar Rp 15,13 miliar, terutama dari keagenan BBM.
Adapun belanja modal hingga September 2026 tercatat Rp 2,96 miliar, lebih rendah dibandingkan Rp 6,94 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Saldo kas dan bank perusahaan pada akhir September 2026 mencapai Rp 850 juta.
Direktur Utama Indah Prakasa Sentosa Reagy Sukmana mengatakan, manajemen berkomitmen memperbaiki kinerja keuangan, tata kelola, serta menjalankan ekspansi secara terukur.
Baca Juga: Peluang Tokenisasi Sukuk Negara Valas Mulai Dilirik
"Sebagai pengendali baru, manajemen berkomitmen membawa Perseroan bertransformasi secara positif, baik dari sisi kinerja keuangan, tata kelola, maupun ekspansi yang terukur. Komitmen tersebut dibuktikan dengan hasil kinerja positif saat ini," ujar Reagy dalam keterangan resmi, Kamis (29/10/2026).
Ke depan, INPS melanjutkan rencana penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (private placement) sebanyak-banyaknya Rp 125 miliar. Rencana tersebut akan dimintakan persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 3 November 2026.
Dana hasil private placement direncanakan untuk melunasi utang perusahaan dan menambah penyertaan modal kepada PT Tri Satria Indah Motor, entitas anak di bidang otomotif yang 90% sahamnya dimiliki INPS sejak 5 Oktober 2026. PT Graha Inti Guna Persada selaku pemegang saham pengendali telah menyatakan kesiapan sebagai calon investor dalam aksi korporasi tersebut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














