kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.940.000   20.000   0,68%
  • USD/IDR 16.808   -72,00   -0,43%
  • IDX 8.032   96,61   1,22%
  • KOMPAS100 1.132   15,02   1,34%
  • LQ45 821   5,36   0,66%
  • ISSI 284   5,77   2,08%
  • IDX30 427   0,41   0,10%
  • IDXHIDIV20 513   -1,95   -0,38%
  • IDX80 127   1,53   1,22%
  • IDXV30 139   0,46   0,33%
  • IDXQ30 139   -0,29   -0,21%

Laba bersih sektor properti anjlok 37% di 2015


Senin, 04 April 2016 / 22:06 WIB
Laba bersih sektor properti anjlok 37% di 2015


Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Yudho Winarto

JAKARTA. Kinerja emiten properti sepanjang tahun 2015 mengalami perlambatan lantaran dihadapkan dengan tantangan berat. Lesunya kondisi ekonomi dan gejolak nilai tukar membuat pendapatan maupun laba bersih emiten sektor ini tergerus.

Tahun lalu, rata-rata pendapatan yang berhasil dicatatkan 12 emiten properti hanya tumbuh 3,3%. Sedangkan laba bersih rata-rata emiten tersebut merosot 37% dibanding dengan tahun sebelumnya. Dari kedua belas emiten tersebut, hanya dua yang mampu mencetak kinerja positif yakni PT PP Properti Tbk (PPRO) dan PT Metropolitan Kentjana Tbk (MKPI).

PPRO mencetak laba bersih Rp 300,3 miliar, melesat hingga 183% dari tahun sebelumnya. Ini seiring dengan pertumbuhan pendapatan hingga 171% menjadi Rp 1,51 triliun. Adapun MKPI membukukan pertumbuhan laba bersih 103% jadi Rp 889,6 miliar sejalan dengan melonjaknya pendapatan perseroan hingga 81,7%.

Sementara kinerja paling anjlok ditorehkan PT Lippo Karawaci dengan penurunan laba bersih hingga 79% menjadi Rp 535 miliar seiring dengan melorotnya pendapatan pokok perseroan sebesar 23,58%. Lalu dikuti oleh PT Pakuwon jati tbk (PWON) yang mengalami penurunan laba bersih hingga 49%.

Penurunan kinerja PWON diakibatkan rugi kurs yang membengkak tajam dari Rp 40 miliar menjadi Rp 276 miliar. Padahal pendapatan PWON masih tercatat tumbuh 19% yoy menjadi Rp 4,6 triliun tahun 2015. Selain itu, pengembang Gandaria City ini juga harus menanggung penalti atas penebusan utang obligasi wajib konversi sebesar Rp 105 miliar dan kerugian instrumen keuangan derivatif Rp 75 miliar.




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×