Reporter: Dimas Andi | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketegangan politik yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Venezuela dipercaya hanya memberikan efek terbatas bagi kelangsungan usaha emiten-emiten minyak dan gas (migas) Indonesia.
Sebagaimana diketahui, akhir pekan lalu dunia dikejutkan oleh operasi militer AS ke Venezuela, di mana pihak AS menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro beserta istrinya.
Tak lama setelah peristiwa penangkapan tersebut, Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa mereka akan mengambil alih industri minyak Venezuela. Asal tahu saja, Venezuela merupakan negara dengan cadangan minyak terbukti terbesar di dunia yakni mencapai 303,22 miliar barel.
Sementara itu, pada Senin (5/1/2026) pukul 17.30 WIB, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) terpantau melemah tipis 0,01% ke level US$ 57,31 per barel.
Baca Juga: IHSG Melonjak 1,27% ke 8.859, Top Gainers LQ45: BUMI, MDKA dan HEAL, Senin (5/1)
Harga minyak mentah jenis Brent juga melemah 0,04% ke level US$ 60,72 per barel. Begitu pula dengan harga gas alam yang ikut melemah 3,15% ke level US$ 3,50 per MMBTU.
Saham-saham terkait sektor migas juga terpantau mengalami penguatan harga pada perdagangan Senin (5/1/2026). Contohnya, PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) yang menguat 2,41% ke level Rp 1.485 per saham. Harga saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) juga naik 3,35% ke level Rp 1.695 per saham.
Harga saham PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) dan PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) juga kompak menguat masing-masing 1,59% ke level Rp 6.400 per saham dan 1,29% ke level Rp 9.800 per saham.
Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menyampaikan, pengaruh konflik AS–Venezuela terhadap harga minyak dunia untuk saat ini memang tergolong terbatas karena kontribusi produksi Venezuela yang hanya berkisar 860.000 hingga 1,1 juta barel per hari atau mewakili kurang dari 1% pasokan global.
Pasar global saat ini berada dalam kondisi surplus struktural dengan proyeksi kelebihan pasokan mencapai 3,8 juta barel per hari menurut International Energy Agency (IEA), sehingga mampu meredam guncangan pasokan dari wilayah tersebut secara efektif.
"Penguatan saham emiten migas domestik dipengaruhi oleh sentimen terbatas terkait konflik AS–Venezuela," kata dia, Senin (5/1/2026).
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi menambahkan, risiko tekanan terhadap harga minyak justru berpotensi berlanjut dalam jangka menengah.
Hal ini bisa terjadi apabila AS kelak memperoleh peran dominan dalam pengelolaan cadangan dan produksi minyak Venezuela, baik melalui normalisasi sanksi, restrukturisasi industri migas, maupun masuknya perusahaan energi AS.
Baca Juga: January Effect Berpotensi Terjadi, Simak Sektor Saham Unggulannya
Kondisi ini juga akan mendorong peningkatan produksi minyak Venezuela secara signifikan, sehingga berpotensi membanjiri pasokan minyak dunia.
Imam juga menilai, perubahan signifikan terhadap harga minyak mentah dan gas alam baru berpotensi terjadi apabila konflik AS–Venezuela meningkat menjadi konflik geopolitik yang lebih luas, khususnya jika melibatkan China atau Rusia secara langsung maupun tidak langsung.
"Keterlibatan dua negara tersebut akan mengubah persepsi risiko pasar secara drastis karena keduanya merupakan pemain kunci dalam rantai pasok dan geopolitik energi global," terang dia, Senin (5/1/2026).
Di sisi lain, Abida menyebut, jika konflik ini berlarut, dinamika pasar diperkirakan akan tetap stabil karena adanya peran dari negara non-OPEC+ seperti AS, Guyana, dan Brasil yang dapat bertindak sebagai batas atas harga minyak dunia.
Bagi emiten migas di Indonesia, kondisi ini justru memperkuat perencanaan bisnis jangka menengah untuk berfokus pada gas alam yang memiliki margin lebih premium dan permintaan stabil sebagai energi transisi.
"Kelangsungan usaha emiten tetap terjaga secara positif karena mereka cenderung mempercepat akuisisi aset-aset produktif dan infrastruktur migas guna mengamankan visibilitas arus kas pada masa depan tanpa terlalu bergantung pada volatilitas minyak mentah semata," ungkap dia.
Imam menambahkan, terlepas dari dinamika konflik geopolitik, prospek kinerja emiten-emiten migas pada 2026 secara fundamental masih cenderung konstruktif.
Hal ini ditopang oleh kombinasi harga minyak dan gas yang relatif masih berada pada level ekonomis, serta mulai aktifnya kembali agenda ekspansi melalui eksplorasi dan akuisisi blok migas.
Baca Juga: IHSG Naik 0,65% ke 8.804 pada Sesi I Senin (5/1), BUMI, INCO, ANTM Top Gainers LQ45
Prospek emiten di sektor ini juga didukung oleh perbaikan efisiensi operasional. Pemanfaatan teknologi, optimalisasi lapangan eksisting, serta manajemen biaya yang lebih ketat membantu menurunkan biaya produksi per barel. Hal ini membuat emiten migas menjadi lebih tahan banting terhadap fluktuasi harga minyak mentah dan gas alam dunia.
"Bahkan, jika harga komoditas bergerak sideways atau sedikit terkoreksi, profitabilitas masih dapat dipertahankan pada level yang wajar," tutur dia.
Secara umum, sektor migas tetap menjadi pilihan investasi yang sangat layak dipertimbangkan investor dengan rekomendasi beli pada sejumlah saham unggulan yang memiliki target harga ambisius.
Abida menyebut saham MEDC dapat dijadikan pilihan dengan target harga Rp 1.700 per saham. Saham ENRG juga dapat dipertimbangkan oleh investor dengan target harga di kisaran Rp 1.800 per saham.
Katalis positif utama bagi sektor ini adalah peningkatan volume produksi dari hasil ekspansi anorganik serta potensi penurunan beban bunga seiring tren penurunan suku bunga acuan yang diprediksi terjadi sepanjang 2026.
Selanjutnya: Erajaya (ERAA) Optimalkan Potensi Ritel, Lifestyle, dan F&B 2026
Menarik Dibaca: Hujan Amat Deras di Provinsi Ini, Cek Peringatan Dini BMKG Cuaca Besok (6/1)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













