kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Kinerja tetap ciamik, saham-saham ini mampu menahan laju penurunan IHSG pada Oktober


Minggu, 20 Oktober 2019 / 07:05 WIB
Kinerja tetap ciamik, saham-saham ini mampu menahan laju penurunan IHSG pada Oktober

Reporter: Irene Sugiharti | Editor: Herlina Kartika

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Hingga Oktober 2019 kinerja IHSG tercatat anjlok lebih dari 3%, beruntungnya merosotnya kinerja IHSG ini tertolong akan penguatan beberapa emiten.

Sepanjang Oktober 2019, kinerja IHSG tercatat anjlok lebih dari 3% dengan saham-saham seperti BBCA, CPIN, PGAS, GGRM, SMGR, TPIA dan INTP jadi saham penopang penguat Indeks. 

Analis Bina Artha Sekuritas Muhammad Nafan Aji menuturkan pergerakan saham TPIA yang hingga (18/10) menguat dan jadi jawara IHSG dipengaruhi oleh isu akan mergernya emiten kimia ini dengan anak usahanya yang menyebabkan harga saham emiten ini meningkat.

TPIA terkait dengan merger, karena ketika ada isu merger yang sedang berkembang, hal ini membuat harga sahamnya meningkat. Selain itu dampak merger ini akan membuat aset emiten meningkat, bisa ekspansi bisnis, dan bagus untuk kinerja fundamental dalam jangka panjang,” Jelas Nafan yang dihubungi Jumat (18/10).

Nafan melihat adanya peluang TPIA akan terus menguat hingga akhir tahun nanti meskipun terdapat beberapa indikator teknikal yang menunjukkan telah terjadinya overbought pada saham TPIA. 

Baca Juga: IHSG menguat 0,18% ke 6.191 di akhir perdagangan pekan ini

Nafan merekomendasikan untuk hold TPIA di level 11.175 untuk diakumulasikan dalam jangka panjang.

Sementara itu terkait CPIN, GGRM maupun PGAS walaupun sempat tertekan dengan berbagai sentimen, nyatanya saham GGRM, CPIN, dan PGAS masih bisa bertahan. 

Nafan menuturkan PGAS masih menunjukkan kinerja yang positif. Pertumbuhan dan kinerja yang positif ini didorong oleh wujud komitmen PGAS dalam rangka peningkatan distribusi gas serta efisiensi dan inovasi bisnis yang dilakukan PGAS seperti pembangunan penyaluran gas untuk kebutuhan rumah tangga. 

Seperti yang diketahui, penyaluran gas alam untuk kebutuhan domestik di klaim lebih hemat dan baik ketimbang penggunaan gas pada umumnya. Dibuatnya beragam kebijakan strategis ini menurut Nafan menjadi sentimen positif yang membuat harga saham PGAS cenderung defensif terhadap sentimen-sentimen negatif yang menerpa emiten ini.

Begitu pula dengan GGRM yang meskipun pergerakannya sempat terpengaruh oleh sentimen kenaikan cukai rokok yang pada tahun 2020 akan naik 23% dinilai Nafan tetap memiliki demand yang besar dan stabil serta terus berinovasi sehingga tetap akan digandrungi oleh pasar. 

Terlebih, kinerja fundamentalnya sendiri secara tahunan masih menunjukkan trend kenaikan untuk laba bersih sejak tahun 2012. Nafan juga menilai sentimen window dressing pada akhir tahun mendatang dan sentimen January effect pada awal tahun depan dapat mendongkrak naik saham emiten rokok ini ke level 65.500 hingga akhir tahun.

Untuk CPIN, Nafan menilai pertumbuhan positif CPIN didorong oleh sentimen impor jagung yang merupakan katalis positif bagi pergerakan saham CPIN setelah sebelumnya CPIN dipengaruhi oleh sentimen mahalnya harga pakan unggas. 

Baca Juga: IHSG berbalik ke zona merah, enam saham ini naik lebih dari 10%

Selain itu Nafan juga menilai produk olahan yang juga menjadi salah satu barang produksi dari CPIN menjadi produk yang berkontribusi positif karena dinilai memiliki demand yang positif terkait kebutuhan pasar akan produk-produk makanan olahan.

Nafan menyimpulkan baik GGRM, CPIN dan PGAS hingga akhir tahun nanti sama-sama masih prospektif dan menarik untuk diakumulasikan menimbang beragam sentimen tersebut. Untuk CPIN Nafan memberikan target harga saham di level Rp 7.320 untuk jangka panjang, PGAS di level Rp 2.360 dengan rekomendasi hold.

Sementara dari sisi sektor perbankan Head of Research Narada Asset Kiswoyo Adi Joe belum melihat ada sentimen yang perlu dikhawatirkan akan mempengaruhi kinerja BBCA. 

Secara fundamental Kiswoyo menilai BBCA masih menunjukkan performa yang baik meskipun secara PER dan PBV Kiswoyo membenarkan BBCA memiliki angka yang lebih tinggi ketimbang emiten perbankan lainnya. Tingginya PER maupun PBV BBCA ini terkait dengan track record NPL BBCA yang rendah. 

Pendapatan BBCA juga menurut Kiswoyo masih menunjukkan pertumbuhan sehingga Kiswoyo memberikan target harga untuk BBCA di level Rp 33.000 hingga akhir tahun nanti.



Video Pilihan

TERBARU

×