kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45900,82   11,02   1.24%
  • EMAS1.333.000 0,45%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Kinerja Matahari (LPPF) Lesu pada Kuartal III, Begini Kata Analis


Sabtu, 28 Oktober 2023 / 16:30 WIB
Kinerja Matahari (LPPF) Lesu pada Kuartal III, Begini Kata Analis
ILUSTRASI. Suasana di Matahari Departemen Store (LPPF). KONTAN/Baihaki/26/1/2015


Reporter: Recha Dermawan | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Hingga tutup kuartal III-2023, kinerja keuangan emiten ritel fesyen PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) masih lesu. Pasalnya, laba bersih LPPF turun hingga double digit.

Menilik laporan keuangan per 30 September 2023, pendapatan bersih LPPF hanya naik 0,31% secara tahunan atau year on year (YoY) menjadi Rp 4,98 triliun dari Rp 4,96 triliun. Laba operasi Matahari Department Store tercatat turun 30,14% dibanding per September 2022 di Rp 1,47 triliun menjadi Rp 1,02 triliun hingga akhir kuartal III-2023.

Sejalan, laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk LPPF juga ikut tertekan sebesar 40,18% YoY menjadi Rp 630,51 miliar dari Rp 1,05 triliun.

Selain itu, LPPF tak hanya membukukan penurunan pendapatan dan laba bersih, tetapi Per 30 September 2023 ekuitasnya tinggal tersisa Rp 3,52 miliar atau menciut hingga 99,39% dari posisi akhir 2022 yang masih Rp 580,16 miliar. 

Baca Juga: Dana Asing Terus Lari dari Pasar Saham Indonesia, Simak Rekomendasi Analis Berikut

Senior Vice President, Head of Retail, Product Research & Distribution Divion Henan Putihrai Asset Management Reza Fahmi Riawan mengatakan, ekuitas LPPF ambruk disebabkan oleh beberapa faktor. Seperti faktor penurunan pendapatan dan laba bersih akibat pandemi COVID-19 yang berdampak pada menurunnya daya beli masyarakat dan pembatasan operasional toko

Lalu penyusutan aset tetap dan properti investasi yang mengakibatkan penurunan nilai buku aset, kenaikan beban bunga dan beban sewa akibat utang dan kewajiban sewa yang tinggi.

Faktor selanjutnya bisa juga karena penyisihan kerugian penurunan nilai piutang usaha dan persediaan yang meningkatkan beban operasional. Yang terakhir, penjualan saham anak usaha PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) yang menghasilkan rugi selisih kurs dan rugi pelepasan entitas anak.

“Prospek usaha LPPF ke depannya masih belum pasti, tergantung pada perkembangan situasi pandemi, perekonomian, dan persaingan pasar,” kata Reza kepada Kontan.co.id, Jumat (27/10).

Menurutnya, LPPF perlu melakukan transformasi bisnis untuk menyesuaikan diri dengan perubahan perilaku konsumen dan tren industri ritel.  Adapun transformasi bisnis untuk penyesuaian perubahan perilaku konsumen tersebut sudah dilakukan oleh LPPF seperti melakukan efisiensi operasional dengan menutup beberapa toko yang tidak menguntungkan dan mengurangi jumlah karyawan.

Mengembangkan platform digital dengan meluncurkan aplikasi Matahari.com dan bermitra dengan beberapa marketplace online seperti Shopee, Tokopedia, dan Blibli.

Meningkatkan kualitas produk dan layanan dengan menghadirkan merek-merek baru, menawarkan diskon dan promo menarik, serta memberikan pengalaman belanja yang nyaman bagi pelanggan.

Lalu mencari sumber pendanaan baru dengan menjual aset non-strategis, melakukan rights issue, atau mencari investor strategis.

Namun, Reza mengatakan selain langkah-langkah di atas, LPPF masih punya tugas untuk melakukan beberapa hal guna meningkatkan kinerja

Baca Juga: Laba Bersih Merosot, Cek Rekomendasi Matahari Department Store (LPPF)

Seperti memperkuat manajemen keuangan dengan mengelola arus kas, menegosiasikan utang, dan mengurangi beban bunga dan sewa, meningkatkan loyalitas pelanggan dengan memanfaatkan data dan analitik untuk memahami kebutuhan dan preferensi pelanggan, serta memberikan program loyalitas yang menarik.

LPPF juga harus coba meningkatkan inovasi produk dan layanan dengan mengikuti perkembangan mode dan gaya hidup, serta menyediakan produk-produk yang ramah lingkungan dan sosial.

Yang terakhir, harus meningkatkan kolaborasi dengan pemasok, mitra bisnis, dan pemangku kepentingan lainnya untuk menciptakan sinergi dan nilai tambah bagi perusahaan.

“Menurut saya, prospek LPPF atau sektor ritel secara keseluruhan saat ini apalagi saat hendak hendak memasuki tahun politik masih sulit diprediksi, karena terdapat banyak ketidakpastian dan risiko yang dapat mempengaruhi kondisi sosial, politik, dan ekonomi di Indonesia” kata Reza.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Success in B2B Selling Omzet Meningkat dengan Digital Marketing #BisnisJangkaPanjang, #TanpaCoding, #PraktekLangsung

[X]
×