kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.809.000   -16.000   -0,57%
  • USD/IDR 17.222   -19,00   -0,11%
  • IDX 7.107   -22,97   -0,32%
  • KOMPAS100 961   -5,51   -0,57%
  • LQ45 687   -4,03   -0,58%
  • ISSI 257   -1,74   -0,67%
  • IDX30 379   -2,57   -0,67%
  • IDXHIDIV20 465   -6,38   -1,35%
  • IDX80 108   -0,59   -0,55%
  • IDXV30 136   -1,32   -0,96%
  • IDXQ30 121   -1,18   -0,97%

Kinerja IHSG Tertinggal Dibandingkan Mayoritas Indeks di Bursa Asia, Ini Sebabnya


Senin, 27 April 2026 / 20:07 WIB
Kinerja IHSG Tertinggal Dibandingkan Mayoritas Indeks di Bursa Asia, Ini Sebabnya
ILUSTRASI. Pergerakan indeks harga saham gabungan (ANTARA FOTO/Putra M. Akbar)


Reporter: Rashif Usman | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja pasar saham yang tercermin dalam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat masih tertinggal dibandingkan kinerja indeks di bursa Asia lainnya.

Pada penutupan perdagangan Senin (27/4/2026), IHSG melemah 0,32% atau turun 22,97 poin ke level 7.106,52. 

Sementara itu, mayoritas bursa Asia justru mencatatkan penguatan. Misalnya saja, Nikkei 225 (Jepang) naik 1,38% ke 60.537, Shanghai Composite (China) bertambah 0,16% ke 4.086, Kospi (Korea Selatan) naik 2,15% ke 6.615, serta Taiex (Taiwan) yang melesat 1,76% ke 39.616.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata mengatakan kenaikan beberapa bursa Asia seperti Nikkei dan Kospi memang menunjukkan adanya rotasi ke market yang lebih growth driven, terutama yang punya eksposur kuat terhadap kecerdasan buatan (AI) dan semikonduktor. 

Baca Juga: IHSG Tertinggal dari Bursa Asia, Analis Soroti Faktor MSCI dan Negosiasi Global

Dalam konteks ini, IHSG masih relatif tertinggal dan disebut termasuk salah satu underperformer di Asia dalam beberapa bulan terakhir. Faktor utamanya bukan semata fundamental domestik, tetapi kombinasi tekanan rupiah di atas Rp 17.000 per dolar AS, outflow asing yang masih berlanjut, serta sensitivitas tinggi terhadap kenaikan harga energi global.

Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas Indonesia, Fath Aliansyah, menjelaskan pasar domestik saat ini masih dibayangi sejumlah sentimen, salah satunya rencana pengumuman quarterly rebalancing MSCI pada 12 Mei yang berpotensi memengaruhi arus dana.

Secara teknikal, IHSG masih berada dalam tren turun jangka menengah dengan tekanan jual yang cukup kuat.

Meski demikian, terdapat peluang rebound jangka pendek dalam beberapa hari ke depan, setelah koreksi membawa IHSG kembali menguji level Fibonacci retracement 61,8% dalam jangka panjang di kisaran 7.140.

Baca Juga: IHSG dan Rupiah Kompak Melemah, Begini Alokasi Aset yang Disarankan

Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto ikut menimpali. Jika ditarik sejak awal tahun, performa IHSG memang tertinggal dibandingkan sejumlah indeks utama Asia seperti Nikkei dan Kospi yang sempat mencetak reli kuat. 

"IHSG memang menjadi salah satu yang kinerjanya kurang baik tahun ini," kata Rully kepada Kontan, Senin (27/4/2026).

Valuasi Murah IHSG

Retail Research Analyst Sinarmas Sekuritas, Dipta Daniswara, mengungkapkan secara valuasi, IHSG saat ini berada pada level price to earnings ratio (PER) sekitar 16,8 kali, lebih rendah dibandingkan rata-rata historisnya di kisaran 18 kali hingga 19,8 kali, sehingga terlihat relatif murah secara historis. 

Namun, jika menggunakan pendekatan price/earnings to growth (PEG), posisi IHSG justru berada di sekitar 2,5 kali, jauh lebih tinggi dibandingkan Jepang sekitar 0,34 kali, China 0,75 kali, dan Hong Kong 0,82 kali.

"Ini menunjukkan bahwa valuasi IHSG tidak cukup menarik relatif terhadap pertumbuhannya, sehingga secara risk-reward kalah kompetitif," tutur Dipta.

Baca Juga: Daftar Saham HSC Belum Bertambah, OJK Beri Penjelasan Ini

Fath juga menyampaikan berdasarkan data tim risetnya, valuasi price to earnings (P/E) Indonesia untuk proyeksi tahun penuh 2026 berada di kisaran 11,8 kali, menjadikannya salah satu yang terendah di kawasan ASEAN.

Menanggapi potensi kembalinya dana asing, Fath menilai pergerakan pasar bersifat dinamis. Ketika berbagai faktor negatif mulai mereda, aliran dana asing berpeluang masuk kembali secara bertahap ke pasar saham domestik.

Prospek IHSG

Untuk outlook, Liza melihat IHSG masih berada dalam fase bottoming, belum masuk fase recovery penuh. Secara teknikal, area 6.900–7.000 menjadi support penting, sementara upside jangka menengah berada di kisaran 7.400–7.600 jika tekanan eksternal mereda. 

Dari sisi sentimen, valuasi pasar yang semakin menarik serta peluang stabilisasi rupiah dapat menjadi penopang. Namun, risiko tetap datang dari tingginya harga minyak, tekanan inflasi global, serta ketidakpastian arah kebijakan suku bunga bank sentral AS.

Liza juga mengungkapkan secara valuasi, IHSG telah mengalami penurunan yang cukup dalam, terutama pada saham perbankan besar seperti BBCA, BBRI, dan BMRI yang mulai mendekati area support historisnya. 

Meski demikian, dari sisi daya tarik relatif, investor asing saat ini cenderung mengalihkan dana ke pasar seperti Jepang dan Korea Selatan yang menawarkan eksposur langsung terhadap siklus AI serta momentum pertumbuhan laba yang lebih kuat.

Baca Juga: IHSG Menguat 0,65% ke 7.175 di Sesi I Senin (27/4), AMMN, BUMI, AKRA Top Gainers LQ45

"Jadi bukan berarti IHSG mahal tapi kalah story dan kalah momentum," tambah Liza.

Di sisi lain, untuk jangka menengah hingga panjang, Rully menilai IHSG masih memiliki peluang menguat, meski pergerakannya diperkirakan akan berlangsung cukup fluktuatif.

"Skenario bullish masih terbuka, peluang ke level psikologis 10.000 jika kombinasi pertumbuhan ekonomi, pelonggaran suku bunga, stabilitas rupiah, dan perbaikan arus modal asing berjalan positif," jelas Rully.

Tetap Defensif

Liza mengungkapkan strategi investor saat ini sebaiknya tetap defensif dan bertahap. Pendekatan yang lebih relevan adalah buy on weakness secara selektif, terutama di saham-saham large caps yang sudah terkoreksi dalam, dengan porsi yang tidak agresif. 

Investor disarankan untuk fokus utama tetap pada stabilisasi makro khususnya rupiah dan yield, karena selama faktor ini belum membaik, pergerakan IHSG masih akan cenderung volatile dan belum sepenuhnya menarik untuk positioning besar.

Baca Juga: Cek Proyeksi IHSG untuk Pekan Ini dan Rekomendasi Sahamnya

Dipta juga menambahkan dalam kondisi IHSG yang masih tertekan, investor sebaiknya fokus pada pendekatan selektif berbasis sektor, khususnya saham yang mampu menangkap peluang di tengah ketidakpastian seperti sektor komoditas seperti nikel, migas, emas, CPO. Hal ini sejalan dengan data foreign flow sejak 20 April–24 April yang menunjukkan masih adanya net buy pada saham komoditas. 

"Artinya, meskipun indeks secara keseluruhan melemah, investor asing tetap melakukan akumulasi pada sektor-sektor yang memiliki katalis dan prospek yang lebih kuat," terang Dipta.

Adapun Dipta merekomendasikan sejumlah saham yang menarik untuk dicermati, antara lain:

PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) 

Rekomendasi: Speculative buy

Target price : Rp 8.575 –Rp 8.800

Entry price : Rp 8.000 – Rp 8.375

Stop Loss      : Rp 7.650

Baca Juga: IHSG Anjlok 3,38% ke 7.129 Hari Ini (24/4), DSSA dan Grup Barito Jadi Top Losers LQ45

PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP)  

Rekomendasi: Speculative buy

Target price : Rp 1.820 – Rp 1.870

Entry price : Rp 1.700 - Rp 1.780

Stop Loss : Rp 1.630

PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) 

Rekomendasi: Speculative buy

Target price : Rp 1.600 – Rp 1.650

Entry price : Rp 1.500 - Rp 1.565

Stop Loss : Rp 1.440

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Capital Structure

[X]
×