kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.809.000   -16.000   -0,57%
  • USD/IDR 17.222   -19,00   -0,11%
  • IDX 7.142   12,60   0,18%
  • KOMPAS100 966   -0,64   -0,07%
  • LQ45 690   -1,17   -0,17%
  • ISSI 259   -0,37   -0,14%
  • IDX30 381   -1,17   -0,31%
  • IDXHIDIV20 467   -4,42   -0,94%
  • IDX80 108   -0,12   -0,12%
  • IDXV30 136   -1,04   -0,76%
  • IDXQ30 122   -0,73   -0,59%

IHSG Oversold, Analis Rekomendasikan Strategi Trading Selektif


Senin, 27 April 2026 / 13:10 WIB
IHSG Oversold, Analis Rekomendasikan Strategi Trading Selektif
ILUSTRASI. Analis memperkirakan IHSG pada pekan ini (27–30 April 2026) akan bergerak mixed dengan kecenderungan konsolidasi hingga melemah. (ANTARA FOTO/Putra M. Akbar)


Reporter: Muhammad Alief Andri | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berada dalam tekanan setelah mencatatkan koreksi tajam sepanjang pekan lalu. Pada periode 20–24 April 2026, IHSG turun 6,61% dan ditutup di level 7.129,49 pada Jumat (24/4/2026).

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Brigita Kinari mengatakan, pelemahan signifikan tersebut dipicu oleh kombinasi sentimen global dan domestik, terutama eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga energi serta meningkatkan kekhawatiran inflasi global.

“Kondisi eksternal tersebut juga berdampak langsung pada pelemahan nilai tukar rupiah yang terdepresiasi hingga menyentuh level Rp17.315 per dolar AS akibat derasnya aliran modal keluar,” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (27/4/2026).

Baca Juga: Gelar RUPST, AKR Corporindo (AKRA) Bakal Bagi Dividen Tunai Rp 1,98 Triliun

Selain itu, sentimen negatif turut datang dari keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membekukan rebalancing indeks saham Indonesia untuk periode Mei 2026. Kondisi ini mendorong aksi jual investor asing yang tercatat mencapai Rp42,8 triliun secara year-to-date (ytd).

Tekanan jual tersebut terutama menyasar saham-saham berkapitalisasi besar (blue chips), sehingga turut menyeret kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia turun 6,59% menjadi Rp12.736 triliun.

Secara sektoral, pelemahan paling dalam terjadi pada sektor teknologi dan keuangan yang sensitif terhadap pergerakan suku bunga dan nilai tukar. Saham-saham seperti BREN, BBCA, DSSA, BRPT, dan FILM menjadi pemberat utama indeks.

Brigita menilai, kondisi pasar saat ini mencerminkan dominasi sentimen risk-off di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. Oleh karena itu, investor disarankan untuk tetap berhati-hati dan mengedepankan strategi defensif.

“Selama stabilitas geopolitik belum membaik dan belum ada sentimen positif domestik, investor sebaiknya tetap konservatif serta memantau indikator risiko seperti yield obligasi dan harga energi,” jelasnya.

Dari sisi global, pasar masih dibayangi ketidakpastian akibat belum tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran, yang berpotensi mengganggu pasokan energi global, khususnya melalui jalur strategis Selat Hormuz.

Baca Juga: Investor Didominasi Generasi Muda, OJK Perkuat Literasi Pasar Modal

Kondisi ini berisiko menjaga harga energi tetap tinggi, sehingga menahan penurunan inflasi global dan membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter. Ekspektasi terhadap kebijakan Federal Reserve pun kembali cenderung hawkish, tercermin dari yield US Treasury yang masih berada di level tinggi.

Di dalam negeri, tekanan juga datang dari pelemahan rupiah serta penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi yang berpotensi mendorong inflasi jangka pendek, khususnya pada sektor transportasi dan logistik.

Bank Indonesia (BI) dalam Rapat Dewan Gubernur 22–23 April 2026 memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75%, dengan fokus menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan global.

Brigita memperkirakan IHSG pada pekan ini (27–30 April 2026) akan bergerak mixed dengan kecenderungan konsolidasi hingga melemah. Secara teknikal, posisi indeks saat ini sudah berada di area oversold, sehingga membuka peluang technical rebound jangka pendek meski terbatas.

“Fokus pasar berada pada support di kisaran 7.100–7.150. Jika level ini ditembus, IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan ke area 7.022–7.080 hingga 6.917,” ujarnya.

Dari sisi sektoral, sektor energi diperkirakan tetap menjadi penopang seiring harga komoditas yang masih tinggi. Sementara sektor transportasi dan logistik dinilai relatif lebih resilien di tengah volatilitas pasar.

Dalam kondisi tersebut, IPOT merekomendasikan sejumlah saham untuk strategi trading jangka pendek. Di antaranya saham DKFT dengan target harga Rp900, ESSA dengan target Rp1.045, serta ERAA dengan target Rp442.

Baca Juga: Seleksi Direksi BEI Bergulir, Dua Paket Kandidat Sudah Masuk ke OJK

Selain saham, IPOT juga merekomendasikan produk ETF berbasis sektor konsumsi domestik sebagai alternatif investasi defensif di tengah tekanan pasar.

“Investor disarankan memprioritaskan saham yang memiliki kekuatan relatif dan katalis fundamental yang kuat, serta tetap disiplin dalam manajemen risiko,” tutup Brigita.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Capital Structure

[X]
×