kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.809.000   -16.000   -0,57%
  • USD/IDR 17.222   -19,00   -0,11%
  • IDX 7.107   -22,97   -0,32%
  • KOMPAS100 961   -5,51   -0,57%
  • LQ45 687   -4,03   -0,58%
  • ISSI 257   -1,74   -0,67%
  • IDX30 379   -2,57   -0,67%
  • IDXHIDIV20 465   -6,38   -1,35%
  • IDX80 108   -0,59   -0,55%
  • IDXV30 136   -1,32   -0,96%
  • IDXQ30 121   -1,18   -0,97%

IHSG dan Rupiah Kompak Melemah, Begini Alokasi Aset yang Disarankan


Senin, 27 April 2026 / 18:11 WIB
IHSG dan Rupiah Kompak Melemah, Begini Alokasi Aset yang Disarankan
ILUSTRASI. IHSG Jatuh Ke Zona Merah-Suasana di BEI, Jakarta (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tengah mengalami tren pelemahan. Sejak awal tahun, IHSG telah anjlok sekitar 18% secara year to date (ytd).

Nilai tukar rupiah juga tercatat melemah. Tercatat pada 2 Januari 2026, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp 16.725 per dolar AS, dan saat ini rupiah berada di level Rp 17.211 per dolar AS. 

Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono melihat kondisi pasar saat ini memang cukup menantang. Apalagi dengan IHSG yang terkoreksi signifikan dan rupiah yang melemah hingga ke level Rp 17.200 - Rp 17.300, investor perlu melakukan penyesuaian strategi agar portofolio tetap resilien. 

Baca Juga: Kinerja Reksadana Pasar Uang Masih Unggul, Pendapatan Tetap Berpeluang Bangkit

“Di tengah volatilitas tinggi, strategi utama adalah defensif namun adaptif,” ujar Wahyu kepada Kontan, Senin (27/4/2026). 

Wahyu mengatakan, investor bisa memanfaatkan suku bunga tinggi. Bank Indonesia (BI) terpantau masih menahan suku bunga di level 4,75% untuk menstabilkan rupiah. Instrumen pasar uang atau obligasi pemerintah jangka pendek (SBN) menjadi sangat menarik karena menawarkan imbal hasil yang relatif aman dengan risiko minimal.

Kemudian, seleksi sektor resilien. Fokus pada emiten yang memiliki fundamental kuat dan mampu melakukan cost-pass-through (meneruskan beban biaya ke konsumen). Sektor consumer staples (konsumsi primer) dan healthcare biasanya lebih tahan banting dalam kondisi pelemahan daya beli.

Wahyu mengatakan, investor perlu melakukan strategi dollar-cost averaging (DCA). Jangan melakukan all-in saat pasar sedang jatuh. Gunakan metode cicil bertahap untuk mendapatkan harga rata-rata yang lebih baik, terutama pada saham-saham blue-chip yang valuasinya sudah terdiskon besar.

Strategi lindung nilai (hedging) juga bisa dilakukan. Karena rupiah melemah, pertimbangkan aset yang berkorelasi positif dengan penguatan USD atau komoditas, seperti emas atau saham emiten eksportir yang pendapatannya dalam mata uang asing. 

Wahyu melanjutkan, persentase alokasi aset yang dipertimbangkan. Bagi investor konservatif (prioritas keamanan modal), investor dapat menempatkan 50% investasinya pada pasar uang/kas.

Baca Juga: Wijaya Karya (WIKA) Dapat Restu Tunda Bayar Kupon Surat Utang, Ini Rinciannya

Seperti deposito, reksadana pasar uang (RDPU) untuk likuiditas. Lalu, 40% ditempatkan pada surat berharga negara (SBN) untuk mengunci imbal hasil dari kupon yang stabil. Serta 10% pada emas/saham blue-chip sebagai sebatas penjaga nilai (hedging). 

Bagi investor moderat (keseimbangan pertumbuhan & risiko), investor dapat menempatkan 40% portofolio investasinya pada obligasi/SBN sebagai bantalan saat pasar saham volatil.

Lalu, 40% dialokasikan ke saham/ETF Indeks yang fokus pada sektor perbankan (Big Caps) dan konsumer. Serta 20% ditempatkan di pasar uang sebagai dana taktis untuk masuk saat ada koreksi lanjutan. 

Bagi investor agresif (mengejar rebound jangka panjang), investor dapat menempatkan 70% portofolio investasinya pada saham (growth & cyclical) yakni akumulasi saham di harga murah (undervalued). Lalu, 15% ditempatkan pada instrumen alternatif seperti sektor teknologi, komoditas, atau aset luar negeri. Serta 15% ditempatkan di obligasi/kas sebagai cadangan dana untuk rebalancing.

“Dalam kondisi pasar yang "merah" seperti sekarang, sangat penting untuk tetap tenang dan tidak melakukan panic selling selama fundamental aset yang kita miliki tidak berubah. Rebalancing portofolio sebaiknya dilakukan secara berkala untuk memastikan profil risiko tetap sesuai dengan tujuan awal,” jelas Wahyu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Capital Structure

[X]
×