Reporter: Rashif Usman | Editor: Noverius Laoli
Prospek IHSG
Untuk outlook, Liza melihat IHSG masih berada dalam fase bottoming, belum masuk fase recovery penuh. Secara teknikal, area 6.900–7.000 menjadi support penting, sementara upside jangka menengah berada di kisaran 7.400–7.600 jika tekanan eksternal mereda.
Dari sisi sentimen, valuasi pasar yang semakin menarik serta peluang stabilisasi rupiah dapat menjadi penopang. Namun, risiko tetap datang dari tingginya harga minyak, tekanan inflasi global, serta ketidakpastian arah kebijakan suku bunga bank sentral AS.
Liza juga mengungkapkan secara valuasi, IHSG telah mengalami penurunan yang cukup dalam, terutama pada saham perbankan besar seperti BBCA, BBRI, dan BMRI yang mulai mendekati area support historisnya.
Meski demikian, dari sisi daya tarik relatif, investor asing saat ini cenderung mengalihkan dana ke pasar seperti Jepang dan Korea Selatan yang menawarkan eksposur langsung terhadap siklus AI serta momentum pertumbuhan laba yang lebih kuat.
Baca Juga: IHSG Menguat 0,65% ke 7.175 di Sesi I Senin (27/4), AMMN, BUMI, AKRA Top Gainers LQ45
"Jadi bukan berarti IHSG mahal tapi kalah story dan kalah momentum," tambah Liza.
Di sisi lain, untuk jangka menengah hingga panjang, Rully menilai IHSG masih memiliki peluang menguat, meski pergerakannya diperkirakan akan berlangsung cukup fluktuatif.
"Skenario bullish masih terbuka, peluang ke level psikologis 10.000 jika kombinasi pertumbuhan ekonomi, pelonggaran suku bunga, stabilitas rupiah, dan perbaikan arus modal asing berjalan positif," jelas Rully.
Tetap Defensif
Liza mengungkapkan strategi investor saat ini sebaiknya tetap defensif dan bertahap. Pendekatan yang lebih relevan adalah buy on weakness secara selektif, terutama di saham-saham large caps yang sudah terkoreksi dalam, dengan porsi yang tidak agresif.
Investor disarankan untuk fokus utama tetap pada stabilisasi makro khususnya rupiah dan yield, karena selama faktor ini belum membaik, pergerakan IHSG masih akan cenderung volatile dan belum sepenuhnya menarik untuk positioning besar.
Baca Juga: Cek Proyeksi IHSG untuk Pekan Ini dan Rekomendasi Sahamnya
Dipta juga menambahkan dalam kondisi IHSG yang masih tertekan, investor sebaiknya fokus pada pendekatan selektif berbasis sektor, khususnya saham yang mampu menangkap peluang di tengah ketidakpastian seperti sektor komoditas seperti nikel, migas, emas, CPO. Hal ini sejalan dengan data foreign flow sejak 20 April–24 April yang menunjukkan masih adanya net buy pada saham komoditas.
"Artinya, meskipun indeks secara keseluruhan melemah, investor asing tetap melakukan akumulasi pada sektor-sektor yang memiliki katalis dan prospek yang lebih kuat," terang Dipta.
Adapun Dipta merekomendasikan sejumlah saham yang menarik untuk dicermati, antara lain:
PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI)
Rekomendasi: Speculative buy
Target price : Rp 8.575 –Rp 8.800
Entry price : Rp 8.000 – Rp 8.375
Stop Loss : Rp 7.650
Baca Juga: IHSG Anjlok 3,38% ke 7.129 Hari Ini (24/4), DSSA dan Grup Barito Jadi Top Losers LQ45
PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP)
Rekomendasi: Speculative buy
Target price : Rp 1.820 – Rp 1.870
Entry price : Rp 1.700 - Rp 1.780
Stop Loss : Rp 1.630
PT AKR Corporindo Tbk (AKRA)
Rekomendasi: Speculative buy
Target price : Rp 1.600 – Rp 1.650
Entry price : Rp 1.500 - Rp 1.565
Stop Loss : Rp 1.440
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












