Reporter: Dimas Andi | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) mencetak kinerja keuangan positif sepanjang semester I-2026. Hal ini cukup dipengaruhi efek kenaikan harga minyak dan gas dunia sejak awal tahun.
Pada semester I-2026, ENRG mencatat peningkatan penjualan bersih sebesar 19% year on year (yoy) menjadi US$ 283,37 juta. Bersamaan dengan itu, ENRG meraih kenaikan EBITDA sebesar 25% yoy menjadi US$ 186,28 juta. Emiten produsen migas milik Grup Bakrie ini juga mencatat kenaikan laba bersih sebesar 27% yoy menjadi US$ 45,23 juta.
Chief Executive Officer & Presiden Direktur Energi Mega Persada Syailendra S. Bakrie, mengatakan, ENRG membukukan kinerja keuangan yang solid pada semester I-2026, didukung oleh kontribusi yang berkelanjutan dari portofolio aset yang telah berproduksi serta peningkatan pendapatan perusahaan.
Baca Juga: Rupiah Spot Menguat 0,38% ke Rp 17.771 per Dolar AS pada Kamis (20/8) Siang
"Di masa mendatang, kami akan tetap fokus untuk mengoptimalkan aset yang sudah ada, melanjutkan berbagai inisiatif pertumbuhan, serta menjaga disiplin dalam pelaksanaan di lapangan untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan," ujar dia dalam keterangan resmi, Selasa (18/8/2026).
Sementara itu, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, laba bersih yang tumbuh lebih besar dari pendapatan menjadi konfirmasi operating leverage yang dicapai oleh ENRG.
Kinerja emiten terafiliasi Grup Bakrie ini pun sangat terbantu oleh fluktuasi harga minyak yang memberi peningkatan pendapatan di segmen bisnis hulu minyak bumi, sedangkan stabilitas harga gas dari kontrak take or pay dengan PLN atau Pertamina menghasilkan arus kas yang lebih terprediksi.
Secara umum, ENRG diperkirakan tetap memiliki prospek kinerja yang positif pada semester II-2026. Sentimen positif datang dari harga minyak dunia yang masih berpeluang menanjak di tengah ketidakpastian geopolitik global. Sentimen ini kemudian dibarengi oleh produktivitas Blok Bentu atau Blok Siak yang solid, sehingga menopang pendapatan ENRG.
"Sentimen negatif terjadi jika gencatan senjata Iran-Amerika Serikat permanen, sehingga harga minyak bisa normalisasi turun meski segmen gas tetap defensif," ujar dia, kemarin.
Baca Juga: IHSG menguat 1,47% ke 6.487 Sesi I Kamis (20/8), MBMA, HRTA, AMMN Top Gainers LQ45
Dalam rangka memaksimalkan kinerjanya, ENRG perlu mengunci kontrak-kontrak penjualan gas bumi dalam jangka panjang untuk memberi leverage di tengah kenaikan harga. Selain itu, ENRG perlu mempercepat eksplorasi Blok Selat Malaka sebagai katalis pertumbuhan melebihi Blok Bentu atau Siak. Emiten juga juga perlu melakukan lindung nilai secara parsial melalui penjualan berjangka untuk mengunci margin di level harga lebih kompetitif.
Wafi pun menyebut saham ENRG dapat dipertimbangkan investor dengan target harga di level Rp 1.612 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













