Reporter: Akmalal Hamdhi | Editor: Noverius Laoli
Dengan begitu, pemerintah ada lebih banyak alasan untuk memperkenalkan insentif HEV guna membantu meningkatkan penjualan mobil sepanjang tahun.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Richard Jerry turut melihat penjualan mobil ASII dalam jangka pendek perlu didorong oleh model-model baru, serta menegaskan kembali pandangan bahwa mobil listrik dengan teknologi Battery Electric Vehicle (BEV) tidak akan merugikan penjualan mesin pembakaran internal (ICE).
“Dan kemungkinan bakal ada kejutan positif dari penjualan mobil hybrid, meskipun segmen ini tidak akan menerima subsidi besar,” tulis Richard dalam riset 15 Maret 2024.
Baca Juga: Dinilai Masih Prospektif, Simak Rekomendasi Saham PWON Berikut Ini
Richard menyebutkan, ASII berencana meluncurkan model baru untuk segmen roda empat dengan model BEV dan 2 PHEV baru dalam 2 tahun ke depan, serta HEV baru pada tahun 2024. Dimana, pasar mengharapkan Avanza/Veloz ataupun Rush HEV, mengingat popularitas produk tersebut.
Adapun BRI Danareksa meyakini penjualan bulan Maret 2024 akan menjadi kunci, sebelum menyesuaikan kembali perkiraan volume penjualan segmen roda empat untuk setahun penuh. Richard menilai, tren penjualan saat ini serupa dengan tahun 2021, saat pelemahan kuartal pertama diimbangi oleh penjualan lebaran dan semester kedua yang kuat.
Dengan demikian, dampak Lebaran diharapkan bisa mendongkrak angka penjualan mobil nasional di bulan Maret 2024, sekaligus peluncuran produk baru akan meningkatkan angka penjualan 4W mulai kuartal II-2024 dan seterusnya.
Pada Januari – Februari 2024, penjualan mobil secara wholesales sekitar 140.273 turun sekitar 22.6% secara tahunan yang hanya mewakili 13% dari estimasi setahun penuh dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo).
Baca Juga: Kinerja Emiten Jalan Tol Bakal Terdorong Pemilu 2024, Simak Rekomendasi Analis
Secara keseluruhan, BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan pertumbuhan volume ASII bakal lebih kuat dari segmen 4W sekitar 5%YoY dibandingkan segmen 2W yang diproyeksi turun 1%YoY pada tahun 2024.
Dengan berbagai perkembangan terkini, Richard mempertahankan peringkat Hold untuk ASII dengan target harga Rp 5.600 per saham. Hal itu seiring prospek penjualan segmen 2W yang kuat, lalu kurangnya kompetisi dari segmen 4W. Sementara risiko negatif yang perlu diperhatikan adalah penjualan yang datar dan meningkatnya Non Performing Loan (NPL) di bisnis pembiayaan milik ASII.
Kalau Christopher mempertahankan rekomendasi Trading Buy untuk ASII dengan target harga lebih rendah Rp 6.050 per saham. Patut diwaspadai risiko untuk ASII adalah lebih rendahnya penjualan segmen otomotif kendaraan roda empat ataupun roda dua, serta harga komoditas lebih rendah dari perkiraan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News