Reporter: Alya Fathinah | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Konflik geopolitik di Timur Tengah kembali mendorong investor mengalihkan dana ke aset safe haven seperti emas maupun mata uang kuat seperti dolar Amerika Serikat (USD), yen Jepang (JPY), dan franc Swiss (CHF).
Melansir data Trading Economics, harga emas pada Senin (9/3) pukul 15.56 mengalami penurunan sebesar 1,25% secara harian ke US$ 5.094,12 per ons troi.
Sementara itu, DXY berada di level 99,51 menguat 2,83% dalam sebulan. Kemudian, pairing valas USD/JPY berada di level 158,65 atau menguat 2,76% dalam sebulan. Adapun, pairing valas USD/CHF juga menguat 1,61% sebulan jadi 0,78.
Baca Juga: Produksi Tembaga dan Emas Melonjak, Amman Mineral (AMMN) Diproyeksi Cetak Laba
Di tengah volatilitas pasar yang meningkat, terdapat beberapa alternatif instrumen yang secara luas dianggap oleh investor sebagai aset safe haven atau aset pelindung nilai selain emas, USD, JPY, dan CHF.
Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono menyebut obligasi pemerintah (government bonds) dari negara-negara dengan peringkat kredit yang sangat tinggi (seperti U.S. Treasury Bonds) menjadi salah satu safe haven paling utama.
"Pemerintah negara maju dianggap hampir mustahil untuk gagal bayar (default). Ketika pasar saham bergejolak, investor sering memindahkan dana dari saham yang berisiko tinggi ke obligasi pemerintah karena tingkat risikonya yang sangat rendah dan adanya pembayaran bunga yang terjamin," ujar Wahyu kepada Kontan pada Senin (9/3/2026).
Menurut Wahyu, saham defensif (defensive stocks) terutama pada sektor kebutuhan pokok, kesehatan, dan utilitas (listrik/air) dapat menjadi alternatif safe haven, meskipun bukan aset aman dalam arti mutlak.
"Meskipun terjadi krisis atau resesi, orang akan tetap perlu makan, membeli obat, dan menggunakan listrik. Perusahaan di sektor ini cenderung memiliki arus kas yang lebih stabil dibandingkan perusahaan sektor teknologi atau barang mewah," sambung Wahyu.
Alternatif safe haven lainnya, kata Wahyu, yaitu perak yang memiliki fungsi sebagai penyimpan nilai. Namun, perak memiliki volatilitas yang jauh lebih tinggi daripada emas karena permintaannya juga sangat dipengaruhi oleh sektor industri (seperti panel surya dan elektronik), sehingga tidak selalu berperilaku sama dengan emas saat terjadi krisis.
Baca Juga: Jelang Libur Lebaran, Analis Sebut Tekanan Profit Taking di IHSG Berpotensi Meningkat
Wahyu menilai dalam kondisi pasar yang sangat tidak menentu, strategi terbaik terkadang adalah menyimpan uang tunai, terutama dalam dollar AS.
"Memegang kas (terutama dalam mata uang yang stabil) memberikan fleksibilitas tinggi bagi investor untuk masuk kembali ke pasar saat harga aset sudah jatuh ke level yang sangat murah (undervalued), tanpa harus menanggung risiko penurunan nilai lebih lanjut pada aset lainnya," sambung Wahyu.
Properti juga sering dianggap sebagai pelindung nilai jangka panjang yang solid karena tanah dan bangunan memiliki nilai fisik dan kegunaan nyata.
"Meskipun likuiditasnya sangat rendah (sulit untuk segera dijual tunai), properti dianggap sebagai aset yang mampu melawan inflasi dalam jangka panjang dan memberikan rasa aman bagi pemiliknya, kata Wahyu.
Wahyu menegaskan, tidak ada aset yang 100% bebas risiko. Status sebuah aset sebagai safe haven bisa berubah tergantung konteks krisis dan kebijakan moneter negara terkait. Maka dari itu, diversifikasi aset tetap menjadi kunci utama.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













