Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pergerakan rupiah hari ini lagi-lagi tak bisa menghindari tekanan, bahkan semakin mendekati level Rp 17.000 per dolar AS. Rupiah spot ditutup pada level RP 16.949 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Senin (9/3/2026), melemah 0,14% dari akhir pekan lalu yang ada di Rp 16.949 per dolar AS.
Sejalan dengan itu, rupiah Jisdor Bank Indonesia (BI) juga melemah 0,32% menjadi Rp 16.974 per dolar AS. Akhir pekan kemarin, rupiah Jisdor masih di level Rp 16.919 per dolar AS.
Direktur PT Traze Andalan Futures sekaligus pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipicu oleh lonjakan harga minyak dunia yang dipengaruhi eskalasi konflik di Timur Tengah.
Baca Juga: Bakal Rights Issue 2,11 Miliar Saham, Begini Prospek Saham Ekalya (ELPI)
Harga minyak bahkan melonjak hingga 30% dan menembus level US$ 100 per barel, mendekati posisi tertinggi yang terjadi pada awal perang Rusia-Ukraina pada 2022.
Lonjakan harga energi ini dipicu oleh serangan udara Israel dan Amerika Serikat yang menargetkan fasilitas minyak Iran pada akhir pekan lalu. Teheran kemudian membalas dengan meluncurkan serangan rudal terhadap sejumlah fasilitas minyak di kawasan Timur Tengah.
“Iran juga dilaporkan menyerang kapal-kapal di jalur pelayaran Selat Hormuz sehingga secara efektif memblokir jalur tersebut. Padahal Selat Hormuz merupakan sumber pasokan minyak utama bagi sebagian besar negara Asia,” ujar Ibrahim, Senin (9/3/2026).
Menurutnya, potensi gangguan pasokan energi global tersebut memicu kekhawatiran pasar dan mendorong penguatan dolar AS sehingga menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Selain faktor energi dan geopolitik, perkembangan politik di Iran juga turut menjadi perhatian pasar. Pada Senin (9/3), Iran menunjuk Mojtaba Khamenei untuk menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, sebagai Pemimpin Tertinggi, yang dinilai menandakan kelompok garis keras tetap memegang kendali di Teheran.
Ke depan, Ibrahim menilai pergerakan rupiah masih akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan harga minyak dunia. Jika harga minyak terus meroket hingga mendekati atau bahkan melampaui US$ 100 per barel, dampaknya berpotensi besar terhadap kondisi fiskal Indonesia.
Baca Juga: Rupiah Ditutup di Rp 16.949 Senin (9/3), Pasar Tertekan Sentimen Global
Sebab Angka ini jauh melampaui asumsi makro APBN 2026 yang hanya mematok harga di kisaran US$ 70 per barel. Dan ini akan menaikkan defisit sebesar Rp 6,8 triliun.
“Defisit APBN terhadap produk domestik bruto (PDB) berpotensi terdorong hingga mendekati 4% apabila harga minyak terus meningkat,” ungkapnya.
Untuk meredam dampak tersebut, Ibrahim menilai pemerintah perlu menyiapkan sejumlah langkah strategis. Pertama, melakukan efisiensi anggaran negara sehingga belanja pemerintah difokuskan pada kebutuhan dasar masyarakat seperti pendidikan, kesehatan, pangan, energi, dan pengentasan kemiskinan.
Kedua, mempercepat pengurangan konsumsi minyak melalui program konversi energi menuju energi baru dan terbarukan seperti tenaga surya (PLTS), air (PLTA), maupun angin (PLTB) untuk menggantikan pembangkit diesel.
Ketiga, pemerintah perlu mendorong stimulus ekonomi melalui deregulasi serta penyederhanaan birokrasi guna mendukung aktivitas dunia usaha.
Untuk perdagangan Selasa (10/3), Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah masih berada di kisaran Rp 16.950 hingga Rp 17.000 per dolar AS.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













