Reporter: Akmalal Hamdhi | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) mencatatkan kinerja solid pada kuartal III-2024. Harga amonia yang lebih tinggi dari perkiraan menopang bisnis emiten Garibaldi Thohir ini.
Analis Indo Premier Sekuritas Reggie Parengkuan melihat, kinerja ESSA di sepanjang tahun didukung olah harga amonia yang lebih tinggi dari perkiraan.
Harga jual rata-rata atau Average Selling Price (ASP) amonia yang lebih tinggi telah mengimbangi volume penjualan yang lemah di sepanjang Januari – September 2024.
Baca Juga: Laba Bersih ESSA Industries Melonjak 243% Menjadi US$ 33,56 Juta Per September 2024
Laba bersih ESSA dari awal tahun hingga akhir kuartal ketiga tercatat sebesar US$ 34 juta atau melesat 244% year on year (yoy). Kenaikan ini terutama dilatarbelakangi ASP amonia yang lebih tinggi dari yang diharapkan, meskipun volume amonia ataupun LPG sedikit di bawah perkiraan.
Secara triwulanan, laba bersih ESSA di kuartal ketiga melonjak 25% quartal on quartal (qoq) menjadi US$ 13 juta yang didorong oleh ASP amonia yang lebih tinggi sekitar 7% qoq menjadi US$357 per ton. Peningkatan harga jual tersebut cukup mengimbangi volume penjualan amonia ataupun LPG yang lebih rendah.
Dari sisi operasional, volume produksi amonia ESSA pulih menjadi 192 Kt yang lebih tinggi 12% qoq dengan tingkat utilisasi 118%, setelah 5 hari pemeliharaan tak terencana (unplanned maintenance) pada kuartal kedua 2024.
Meskipun, volume penjualan amonia sedikit menurun -4% kt menjadi 189kt di tengah penjualan yang lebih tinggi dari inventaris pada kuartal kedua.
Baca Juga: Laba ESSA Industries (ESSA) Melesat Meski Pendapatan Turun
Sementara, produksi LPG turun -4% qoq menjadi 189kt karena tingkat ketersediaan pabrik turun menjadi 96% di akhir kuartal ketiga daripada 99% pada kuartal kedua 2024.
Sementara itu, ASP tetap datar pada US$583 per ton, yang menyebabkan margin kotor LPG ESSA turun menjadi 39% pada kuartal ketiga dibandingkan 46% pada kuartal kedua.
‘’Kinerja ESSA diperkirakan tetap solid karena harga amonia diperkirakan akan tetap tinggi, didukung oleh musim tanam yang akan datang di negara pengimpor pupuk utama seperti Brasil dan India,’’ ujar Reggie dalam riset 22 Oktober 2024.
Secara keseluruhan, Indo Premier Sekuritas optimistis terhadap prospek jangka panjang ESSA. Oleh karena itu, estimasi laba bersih ESSA direvisi naik menjadi US$ 49 juta, US$ 57 juta, US$ 58 juta untuk tahun 2024, 2025, 2026.
Baca Juga: ESSA Industries Indonesia (ESSA) Bakal Bagikan Dividen Rp 86,13 Miliar
Optimisme tersebut didasarkan pada proyeksi harga jual amonia yang akan tetap tinggi hingga mencapai US$ 357, US$ 380, US$ 380 per ton masing-masing di tahun 2014, 2025, dan 2026. Hal itu karena mempertimbangkan harga Fortecon sebagai acuan harga amonia yang lebih baik di sepanjang tahun ini.
Indo Premier Sekuritas sekarang juga sepenuhnya memperhitungkan rencana jangka panjang ESSA untuk menggandakan kapasitas produksinya. Akan tetapi, secara konservatif masih mengasumsikan bahwa ESSA baru akan memulai operasi pada kapasitas 50% pada tahun fiskal 2029.
‘’Kami pikir ESSA memiliki kapasitas neraca untuk melaksanakan proyek tersebut (menggandakan produksi), tetapi menunggu alokasi pasokan gas,’’ jelas Reggie.
Reggie meyakini, proyek jangka panjang ESSA akan berdampak positif pada peningkatan laba. Namun perlu diwaspadai harga amonia yang lebih rendah dari ekspektasi bisa menekan kinerja emiten sektor industri barang kimia tersebut.
Reggie pun masih mempertahankan rekomendasi Hold untuk ESSA, namun dengan target harga ditingkatkan menjadi Rp 1.075 per saham dari sebelumnya Rp 700 per saham.
Baca Juga: Sepanjang 2023, ESSA Industries Indonesia (ESSA) Catatkan Pendapatan US$ 345 Juta
Head of Investment Nawasena Abhipraya Investama, Kiswoyo Adi Joe, turut merekomendasikan Hold untuk ESSA. Sementara itu, target harga ESSA dipatok sebesar Rp 920 per saham, dengan support terdekat di level Rp 800 per saham.
Secara teknikal, ESSA menunjukkan indikator MACD masih bergerak turun dengan stochastic mengindikasikan penurunan deadcross. Selain itu, candle berada di antara garis tengah dan garis bawah bollinger band.
Mengutip RTI Business, Rabu (20/11), ESSA ditutup pada posisi Rp 835 per saham. Harga saham ESSA terkoreksi sekitar 2,34% dari sehari sebelumnya yang berada di posisi Rp 855 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News