Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham PT Ancara Logistics Indonesia Tbk (ALII) dan PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) menghadapi potensi tekanan jual setelah FTSE Russell mengeluarkan keduanya dari indeks global tersebut.
ALII akan keluar dari FTSE Global Equity Index Series (GEIS) Micro Cap, sedangkan SILO terdepak dari GEIS Small Cap. Perubahan ini berlaku efektif mulai 21 September 2026.
Meski kedua saham masih memenuhi ambang batas kapitalisasi pasar dan likuiditas, FTSE Russell mengeluarkannya karena tidak memenuhi kriteria surveillance stock screen.
Baca Juga: FTSE Russel Resmi Mencoret ALII dan SILO dari Indeks
Bagi pasar, konsekuensi terdekat dari perubahan tersebut adalah potensi berkurangnya aliran dana dari investor yang menggunakan indeks FTSE Russell sebagai acuan.
Dana pasif atau passive fund yang mengikuti indeks dapat melakukan penyesuaian portofolio menjelang maupun pada saat tanggal efektif perubahan indeks.
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Kevin Yudha Pratama mengatakan, dampak keluarnya ALII dan SILO dari FTSE Russell lebih berpotensi terasa pada harga saham dalam jangka pendek melalui tekanan jual akibat rebalancing.
“Dampaknya lebih banyak ke pergerakan harga jangka pendek, bukan berarti fundamental kedua emiten langsung memburuk,” ujarnya kemarin.
Menurut Kevin, sebagian sentimen negatif kemungkinan sudah tercermin dalam harga karena perubahan indeks telah diketahui pasar sebelum tanggal efektif.
Namun, potensi tekanan jual masih terbuka karena investor institusi dapat mengurangi kepemilikan untuk menyesuaikan portofolio dengan komposisi indeks terbaru.
Baca Juga: Hasil Review Indeks GDX-GDXJ Pacu Prospek Saham Emas Jangka Pendek
Besarnya tekanan jual tidak bisa dihitung secara pasti. Pasalnya, tidak tersedia data publik yang menunjukkan secara langsung berapa besar dana pasif yang mengikuti FTSE Russell dan berapa porsi kepemilikan ALII maupun SILO yang harus dilepas.
Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama juga melihat potensi selling pressure menjelang 21 September 2026.
Investor institusi tidak harus menunggu tanggal efektif untuk melakukan rebalancing sehingga tekanan dapat muncul lebih awal.
Namun, menurut Elandry, dampak rebalancing FTSE Russell terhadap saham domestik selama ini cenderung lebih terbatas dibandingkan perubahan indeks MSCI. Tekanan jual karena faktor indeks juga biasanya paling terasa di sekitar periode efektif rebalancing.
Dengan demikian, keluarnya ALII dan SILO dari FTSE Russell lebih berkaitan dengan capital flow dan likuiditas saham dalam jangka pendek, bukan perubahan langsung terhadap pendapatan atau laba perusahaan.
Kevin menilai persoalan yang perlu diperhatikan justru adalah konsentrasi kepemilikan dan likuiditas saham. Jika kondisi tersebut tidak berubah, minat investor institusi terhadap kedua saham dapat tetap terbatas dan peluang untuk kembali masuk indeks menjadi lebih kecil.
Baca Juga: Simak Rekomendasi Saham BMRI, ESSA, dan MBMA untuk Kamis (17/9)
“Kalau kondisi kepemilikan dan likuiditas tidak berubah, minat investor institusi bisa tetap terbatas,” ujar Kevin.
Dari sisi fundamental, kedua emiten masih memiliki kinerja operasional yang berbeda. SILO dinilai relatif lebih defensif karena bergerak di sektor kesehatan.














