Reporter: Dimas Andi | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tantangan bagi emiten-emiten produsen baja masih cukup berat pada sisa tahun 2026. Hal ini seiring risiko maraknya banjir produk impor baja di pasar domestik.
Dalam berita sebelumnya, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyebut tekanan terhadap industri baja nasional saat ini meningkat signifikan. Salah satu pemicunya adalah kelebihan kapasitas di pasar global yang mendorong negara produsen mencari pasar baru.
Diperkirakan bahwa kelebihan kapasitas produksi logam global dapat mencapai 745 juta ton pada 2028. Kondisi ini membuat negara-negara berkembang seperti Indonesia berpeluang menjadi tujuan pengalihan perdagangan.
Baca Juga: Terancam Delisting, Waskita Karya (WSKT) Fokus Benahi Fundamental Kinerja
Corporate Secretary PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP) Johaness Edward mengaku bahwa masalah kelebihan pasokann global memang menjadi tantangan bagi setiap perusahaan. Pemerintah diharapkan dapat turun tangan untuk menjaga daya saing sektor tersebut di tengah serbuan barang impor.
"Diperlukan konsistensi pemerintah dalam menegakkan kebijakan mengenai Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) dan Sertifikat Nasional Indonesia (SNI)," ujar dia, Kamis (20/8).
Sejauh ini, dampak maraknya produk impor relatif masih terbatas bagi ISSP. Terlebih lagi, produk seperti pipa baja yang diimpor biasanya merupakan tipe-tipe yang belum dapat diproduksi di dalam negeri.
Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Arinda Izzaty mengatakan, risiko banjir impor baja masih cukup besar dan berpeluang lanjut hingga 2026--2028. Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) memperkirakan kelebihan kapasitas baja global mencapai sekitar 640 juta ton pada 2025 dan berpotensi meningkat menjadi 745 juta ton pada 2028. Di sisi lain, pertumbuhan permintaan global hanya sekitar 0,9% per tahun.
Kondisi ini membuat produsen di negara dengan kapasitas berlebih memiliki insentif untuk mengalihkan produk ke pasar ekspor, termasuk emerging market seperti Indonesia. Namun, hal ini tidak berarti seluruh kenaikan impor otomatis akan menekan emiten domestik secara langsung, karena pemerintah mulai memperkuat instrumen proteksi perdagangan.
Dengan demikian, risiko utama bagi emiten bukan sekadar volume impor, melainkan juga kemungkinan produk impor dijual dengan harga lebih rendah sehingga menciptakan tekanan harga di pasar domestik. Hal ini tentu dapat mengurangi harga jual rata-rata, margin kotor, dan utilisasi pabrik lokal.
Dampaknya menjadi lebih signifikan karena utilisasi industri baja domestik sebelumnya masih relatif rendah.
"Artinya, meski sejumlah emiten berhasil meraih perbaikan kinerja pada semester I-2026, keberlanjutan laba tetap bergantung pada kemampuan mempertahankan volume, margin dan utilisasi, bukan hanya pertumbuhan pendapatan," ungkap dia, Kamis (20/8).
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menambahkan, tantangan bagi emiten produsen baja bukan hanya berasal dari ancaman impor. Emiten sektor ini perlu mewaspadai bahwa faktor pendukung margin pada semester pertama seperti harga gas rendah dan harga Hot Rolled Coil (HRC) naik tidak ada jaminan bakal terus seperti itu. Jika terjadi normalisasi atau koreksi, maka kinerja margin akan berbalik arah.
Baca Juga: SR025 Siap Ditawarkan, Ini Proyeksi Kupon dan Prospeknya bagi Investor
"Perlambatan sektor konstruksi domestik tetap jadi risiko bagi sektor baja jika stabilitas BI Rate tidak berdampak ke pemulihan permintaan," imbuh dia, Kamis (20/8).
Secara umum, prospek kinerja emiten-emiten baja cukup beragam. Peningkatan kinerja dari momentum di semester pertama memang membantu bagi emiten, namun ada risiko perlambatan akibat kelebihan kapasitas global.
Bagi emiten, mereka perlu mempercepat peralihan ke segmen produk yang bernilai tambah lebih tinggi dan minim risiko terpapar produk dumping. Emiten juga bisa membangun kemitraan strategis dengan pelanggan akhir domestik untuk mengamankan permintaan yang tidak sensitif terhadap perubahan harga.
"Sektor baja masih berisiko adanya jebakan valuasi jika BMAD (Bea Masuk Anti Dumping) tidak diperkuat signifikan, sehingga investor perlu monitor realisasi kebijakan proteksi," jelas dia.
Sementara menurut Arinda, strategi paling penting bagi emiten adalah meningkatkan bauran dan nilai tambah produk, bukan sekadar mengejar volume. Emiten juga perlu meningkatkan utilisasi pabrik, memperkuat efisiensi energi, melakukan cost leadership, menjaga modal kerja, dan memperluas pasar ekspor ketika pasar domestik terlalu kompetitif.
Untuk pemain seperti ISSP, ekspansi ke produk bernilai tambah dan aplikasi untuk sektor energi atau infrastruktur menjadi lebih menarik dibanding hanya bermain di produk komoditas.
Sedangkan bagi PT Krakatau Steel Tbk (KRAS), restrukturisasi neraca, efisiensi dan peningkatan utilisasi fasilitas produksi menjadi faktor kunci agar perolehan laba semester I bisa berlanjut.
"Jadi, emiten yang paling menarik bukan necessarily produsen dengan kapasitas terbesar, melainkan yang memiliki biaya produksi kompetitif, neraca sehat, produk terdiferensiasi dan ekposur kuat ke proyek domestik," terangnya.
Pengamat Pasar Modal sekaligus Co-Founder AP Trading Insight Singapore Kiswoyo Adi Joe menilai, proyek-proyek infrastruktur dan konstruksi dari pemerintah akan menjadi harapan bagi emiten-emiten baja untuk meningkatkan kinerja di tengah ancaman produk impor. Terlebih lagi, proyek-proyek dari pemerintah senantiasa memakai bahan baku lokal secara selektif.
Dari sekian emiten baja, Kiswoyo menyebut saham KRAS dan ISSP layak dipertimbangkan investor dengan target harga masing-masing di level Rp 300 per saham dan Rp 500 per saham.
Baca Juga: Cermati Rekomendasi Teknikal Saham MAPI, NCKL, ASII untuk Jumat (21/8)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














