Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Minat investor global terhadap kawasan ASEAN tetap tinggi di tengah ketidakpastian ekonomi dunia. Hal itu tercermin dari kehadiran sekitar 200 investor institusi dan nasabah prime brokerage yang secara kolektif mengelola aset senilai US$ 23 triliun atau sekitar Rp 93 kuadriliun dalam ajang Invest ASEAN 2026 yang digelar Maybank Investment Banking Group (Maybank IBG) di Singapura pada 7-8 Juli.
Memasuki penyelenggaraan ke-13, forum investasi tahunan tersebut mempertemukan investor dengan 54 perusahaan dari enam negara ASEAN Malaysia, Singapura, Thailand, Indonesia, Filipina, dan Vietnam, serta India. Selain itu, acara juga menghadirkan sebuah sovereign wealth fund dan memfasilitasi pertemuan dengan sejumlah lembaga pemerintah utama di Singapura.
Perusahaan yang berpartisipasi memiliki total kapitalisasi pasar mencapai US$ 553 miliar. Seluruh peserta dipilih berdasarkan minat investor, mencakup emiten berkapitalisasi menengah hingga besar, memiliki kesiapan berinteraksi dengan investor global, serta berada dalam cakupan riset Maybank IBG. Perusahaan-perusahaan tersebut mewakili berbagai sektor strategis, mulai dari perbankan, teknologi, konsumer, kesehatan, manufaktur, hingga energi terbarukan.
Baca Juga: Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 17.981 Per Dolar AS Hari Ini (8/7), Asia Turun
Chief Executive Officer Maybank Investment Banking Group, Michael Oh-Lau, mengatakan tingginya partisipasi pada Invest ASEAN tahun ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap prospek kawasan.
"Kehadiran peserta tahun ini melampaui ekspektasi kami, mencerminkan minat yang tetap kuat dari investor global maupun domestik terhadap ASEAN, yang terus menunjukkan ketahanan di tengah ketidakpastian global,” ujar dia dalam rilis Selasa (7/7/2026). Dia menambahkan, memasuki penyelenggaraan yang ke-13, Invest ASEAN Maybank konsisten menghubungkan investor dengan perusahaan-perusahaan, sekaligus menyediakan pandangan dan perspektif yang diperlukan untuk menghadapi dinamika lanskap global yang terus berkembang.
Menurut Michael, fokus utama Invest ASEAN tahun ini mencakup transisi energi, pergeseran rantai pasok global, serta transformasi digital yang didorong kecerdasan buatan alias artificial intelligence (AI). Ketiga tren tersebut diperkirakan terus menjadi pendorong utama pertumbuhan kawasan dalam beberapa tahun mendatang.
Sejalan dengan membaiknya prospek ekonomi, tim riset Maybank merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi ASEAN-6 menjadi 4,7% dari sebelumnya 4,5% pada Maret lalu. Proyeksi pertumbuhan untuk 2027 juga dipertahankan di level 4,7%.
Maybank menilai perbaikan prospek tersebut didukung oleh turunnya harga minyak yang kini mendekati level sebelum perang serta mulai pulihnya lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz.
Dari Indonesia, Managing Director Investment Banking and Advisory Maybank Sekuritas, Wiwiek Susanto, menilai fundamental ekonomi nasional masih menawarkan peluang investasi yang menarik bagi investor internasional.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Melonjak Hampir 2%, Ketegangan AS-Iran Kembali Memanas
"Kami senang dapat menampilkan berbagai peluang investasi Indonesia di Invest ASEAN dengan mempertemukan perusahaan-perusahaan terkemuka Indonesia dengan investor global. Di tengah lingkungan global yang semakin tidak pasti, fundamental ekonomi jangka panjang Indonesia yang kuat terus menawarkan peluang menarik bagi para investor,” kata Wiwiek. Sebagai bagian dari investment banking terdepan di ASEAN, Maybank mengaku berada pada posisi yang tepat untuk mendukung ambisi pertumbuhan Indonesia melalui keahlian kami di pasar modal, kemampuan advisory strategis, serta akses ke investor internasional.
Maybank memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,0% pada 2026 dan meningkat menjadi 5,2% pada 2027. Meski pertumbuhan pada paruh kedua 2026 diperkirakan lebih moderat akibat berkurangnya stimulus fiskal dan masih tingginya suku bunga, ekspor komoditas dan investasi publik diproyeksikan tetap menjadi penopang utama pertumbuhan.
Sementara itu, inflasi diperkirakan berada pada rata-rata 3,5% pada 2026 dan turun menjadi 3,0% pada 2027. Defisit transaksi berjalan diproyeksikan melebar secara moderat menjadi 1,0% terhadap PDB akibat meningkatnya biaya impor yang mengimbangi keuntungan dari ekspor komoditas.
Di pasar modal, Maybank tetap mempertahankan pandangan yang hati-hati namun konstruktif terhadap saham Indonesia. Target akhir tahun 2026 untuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) direvisi menjadi 7.500 dari sebelumnya 8.400, sejalan dengan ekspektasi pertumbuhan laba perusahaan yang lebih rendah serta dinamika kebijakan yang masih berkembang.
Meski demikian, Maybank meyakini permintaan domestik yang kuat, pembangunan infrastruktur, dan fundamental makroekonomi yang solid akan terus menjadi pendorong pertumbuhan jangka panjang. Konsistensi kebijakan pemerintah serta hasil positif dari tinjauan peringkat utang negara dan indeks pasar juga dinilai berpotensi memperkuat sentimen investor.
Dalam strategi investasinya, Maybank mengunggulkan sektor keuangan, kesehatan, bahan bangunan, otomotif, serta sejumlah sektor yang berkaitan dengan komoditas sebagai pilihan utama di pasar Indonesia.
Baca Juga: Daftar Harga Emas Antam Hari Ini (8/7): Turun Rp 14.000 Jadi Rp 2.641.000 Per Gram
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













