kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Ini penyebab rupiah anjlok ke Level Rp 14.500


Rabu, 22 Mei 2019 / 20:22 WIB

Ini penyebab rupiah anjlok ke Level Rp 14.500


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rupiah terus diterpa sentimen eksternal dan internal pada perdagangan hari ini. Mirisnya mata uang Garuda telah mencapai posisi terendahnya sejak awal tahun di level Rp 14.500 per dollar Amerika Serikat (AS).
 
Berdasarkan data Bloomberg, Rabu (22/5) rupiah ditutup melemah 0,31% di level Rp 14.525 per dollar AS. Sejak pembukaan pasar rupiah sudah melemah di level Rp 14.488 per dollar AS, sementara kemarin mata uang Garuda ditutup melemah seharga Rp 14.480 per dollar AS. Bahkan secara year to date (ytd) rupiah melemah 0,94%.
 
Sementara dalam kurs tengah Bank Indonesia hari ini mata uang Garuda terkoreksi 0,17% menjadi Rp 14.488 per dollar AS.  Sementara secara ytd, rupiah masih melemah tipis 0,04%.
 
Pelemahan rupiah ini bertepatan dengan pengumuman Pilpres oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang dimenangkan oleh Jokowi-Ma’ruf. Namun, aksi demonstrasi pendukung Prabowo-Sandi yang tidak menerima hasil KPU membuat situasi politik makin panas sejak kemarin malam sampai dengan hari ini.
 
Analis PT Varbury Asia Futures Lukman Leong mengatakan bahwasanya aksi tersebut sedikit membuat kekhawatiran pasar, sehingga berdampak terhadap pergerakan rupiah dan bursa saham yang menyangkut berkurangnya dana asing yang masuk. 

Senada dengan rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini ditutup melemah dengan koreksi sebesar 0,2% atau berada di level 5.939.
 
Akan tetapi, Lukman menegaskan efek dari aksi tersebut tidak akan berjalan dengan lama. 


Sejalan, Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai ketegangan politik domestik hanya bersifat sementara, apalagi pihak berwajib sudah menanganinya, dalam beberapa hari ke depan pasar bakal kondusif lagi.

Demo ini belum berujung terhadap hasil KPU, kabarnya KPU memberikan batas waktu masuk gugatan sampai dengan Jumat (24/5). “Pasar masih wait and see seandainya ada gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK),” ucap Josua kepada Kontan.co.id, Selasa (22/5).
 
Josua mengatakan situasi politik yang memanas bukan satu-satunya penyebab rupiah melorot. Ia mengimbau rupiah melemah tak sendiri, mata uang negara Asia pun sedang mengalami hal yang sama, karena perang dagang AS-China membuat ekonomi negeri Panda melemah. 

“Bursa China terkoreksi, IHSG koreksi, bursa asia lainnya juga,” tutur Josua.
 
Lebih lanjut, Josua memahami kondisi pasar Asia sedang melambat sejak AS-China saling serang tarif impor dan ketegangan bisnis perusahaan China yakni Huawei. Menurutnya, ketika keadaan ekonomi China melemah ekonomi Indonesia bakal terkena efek dominonya. Sebab ekspor komoditas Indonesia dan negara Asia lainnya mayoritas dikirim ke China.
 
Di sisi lain, penguatan dollar AS semakin terasa saat Gubernur The Fed, Jarome Powell kemarin malam mengisyaratkan akan percaya diri dengan suku bunga tetap di level 2,25%-2,5%. Nah, nanti malam The Fed dalam Federal Open Market Committee (FOMC) akan melaporkan kembali kebijakan suku bunga. Kata Josua bila skenarionya The Fed hawkish maka rupiah bakal lanjut melemah, berlaku pula sebaliknya.    

Josua menambahkan musim dividen membuat permintaan dalam negeri atas dollar AS semakin banyak.  Apalagi defisit neraca perdagangan April lalu yang mencapai US$ 2,5 miliar dinilai masih menjadi faktor pelemahan rupiah. “Dollar AS semakin kuat dengan situasi perang dagang AS-China yang semakin panas,” lontar Josua.
 
Selain penyebab tersebut, Ekonom Maybank luthfi Ridho mengatakan impor minyak menjadi fundamental utama penyebab rupiah melorot. “Pertamina impor bahan bakar minyak (BBM) gila-gilaan,” kata Luthfi kepada Kontan.co.id, Rabu (22/5). 
 
Presiden Joko Widodo sempat mengimbau agar jangan sampai BBM jadi langka. Sebab awal bulan depan akan memasuki hari raya Idul Fitri di mana mayoritas penduduk di Indonesia mudik.
 
Momentum mudik Lebaran sayangnya dibarengi dengan tren kenaikan harga minyak global. Minyak west texas intemediate (WTI) untuk pengiriman Juni 2019 di New York Mercantile Exchange dalam sepekan menguat 0,88% atau berada di level US$ 62,58 per barel pada Rabu (22/5) pukul 17.58 WIB.

Terlebih harga komoditas langganan impor Indonesia ini secara year to date melemah 37,8% di mana pada penutupan perdagangan akhir tahun lalu seharga US$ 45,41 per barel.
 
Ketika Indonesia impor minyak, maka dollar AS dibutuhkan dalam transaksi perdagangan. Sehingga, situasi dollar AS yang tengah menguat membuat harga minyak makin selangit yang meyebabkan neraca perdagangan makin membengkak Luthfi mengamati impor minyak yang membludak tidak dibarengi dengan kinerja ekspor. Karena harga komoditas ekpspor seperti minyak sawit dan batubara sedang turun.

Luthfi memproyeskikan untuk perdagangan besok rupiah bakal di kisaran Rp 14.400-Rp 14.490 per dollar AS, sepekan di level Rp 14.200-Rp 14.400. Lebih jauh, sampai akhir tahun tahun ini bisa Rp 14.500-Rp 14.700 per dollar AS, dengan rata-rata Rp  14.400 per dollar AS.
 
Untuk besok Lukman meramal rupiah akan berada di level Rp 14.450-Rp 14.550 per dollar AS. Sampai akhir pekan perdagangan katanya rupiah masih terkoreksi di level 14.500-Rp 14.600. Sementara sampai dengan akhir tahun potensi rupiah bakal menguat di kisaran Rp 14.000-Rp 14.300 per dollar AS.
 
Selanjutnya, Josua meramal rupiah besok akan diperdagangkan di level Rp 14.450-Rp 14.550 per dollar AS. Untuk sepekan, ia mengatakan masih banyak faktor penggerak sehingga rupiah kemungkinan masih di level Rp 14.500 per dollar AS.  Tetapi, sampai dengan akhir tahun masih bisa menguat dan berada di kisaran Rp 14.300-Rp 14.500 per dollar AS.
 


Reporter: Yusuf Imam Santoso
Editor: Herlina Kartika
Video Pilihan


Close [X]
×